Feeds:
Pos
Komentar

Pengantar:

Pernah mau dipukuli orang satu kampung??? Itu terjadi saat tulisanku tentang geliat prostitusi di Desa Tilang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini terbit. Warga desa itu salah paham dalam mengartikan sehingga marah. Untunglah, semua berakhir damai dan indah. Penasaran bagaimana tulisan itu? Bacalah dibawah ini dan artikan sendiri. Eh, jangan ikutan marah ya…

***

Ketika Tilang Masih “Membara”

profil penjaga warung malam

profil penjaga warung malam

Siti, sebut saja begitu, keluar dari kamar yang terletak dibelakang warung itu. Seraya mengikat rambut panjangnya  kearah belakang, seulas senyum menyungging dibibir merahnya. Manis dan menggoda.

Tanpa membuang senyum manisnya yang memang betul-betul manis itu, Siti mendaratkan pantat “bahenol” nya ke kursi panjang yang terbuat dari papan. Tak ayal, kursi itu berderak dibuatnya.

Tak lama, seorang lelaki tanggung juga keluar dari kamar itu. Sama seperti Siti, seulas senyum menyungging dari bibir hitamnya yang menjepit sebatang rokok kretek. Senyum yang tidak bisa dikatakan menawan, tapi jelas menggambarkan kepuasan. Sambil membetulkan pakaian, matanya nakal mengerling kearah Siti.

Mata itu betul-betul nakal. Bukan hanya mengerling, tapi seakan hendak melumat sekujur tubuh mulus Siti. Sementara, yang dikerling hanya bisa tersipu. Entah malu atau pura-pura malu. Yang pasti, menggemaskan dan membuat nafsu.

Setelah meneguk sisa kopi yang sudah dingin, lelaki itu berkata kepada si penjaga warung. “Berapa? Kopi, wadai (kue) dua,” ujarnya.

“Rp2 ribu,” sang penjaga warung, wanita berumur sekitar 45 tahunan itu menjawab pendek.

Anehnya, lelaki itu malah memberikan uang sebesar Rp52 ribu. Bukan Rp2 ribu seperti yang dikatakan si penjaga warung.

Lebih aneh lagi, uang sebesar Rp50 ribu itu diberikan penjaga warung kepada si Siti. Dan si manis Siti, balik memberi si penjaga warung uang sebesar Rp10 ribu. Kok???

* * *

DSC_5058

Pemandangan seperti itu adalah hal biasa terjadi di sebuah warung minum, di Desa Tilang (sebagian menyebutnya Telang), Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), di era tahun 1990-an.

Saat itu, dari beberapa warung minum yang ada, sedikitnya dua warung minum dikenal menyediakan wadai lain selain Apam Surabi. Setiap harinya, kedua warung itu sedikitnya menyediakan dua wanita yang siap melayani nafsu pria hidung belang. Layaknya tempat prostitusi, dibelakang warung tersedia kamar sebagai tempat indehoy.

“Warung itu hanya memungut jasa sewa kamar. Harga sekali “bergumul” dengan wanita disana, tergantung negosiasi dengan sang wanita. Rata-rata sekali “main” Rp50 ribu. Untuk sewa kamar antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu,” ujar Alex (bukan nama sebenarnya), warga Kota Barabai yang mengaku sering melampiaskan birahinya di warung Tilang.

Dua warung penyedia jasa esek-esek di Tilang, satu disebut warung bawah dan satunya disebut warung atas. Warung bawah adalah warung yang terletak sebelum SPBU Tilang sekarang, dan warung atas adalah warung yang terletak setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada didaerah itu.

Para wanita penjual kenikmatan itu bukanlah pekerja warung. Mereka memang sejatinya berprofesi sebagai wanita “jualan”. Warung hanyalah tempat mencari mangsa dan bertransaksi semata. Sambil menunggu pelanggan datang, para wanita itu biasanya ikut membantu sang empunya warung berjualan, layaknya pelayan warung. Karena itulah, wanita-wanita “jualan” yang ada  kadang tidak sama setiap harinya.

Tempat tinggal wanita “jualan” itu bervariasi. Ada yang datang dari Kota Kandangan, Tanjung, Amuntai, Balangan, Rantau dan juga Kota Barabai sendiri.

Selain kencan sesaat dengan wanita yang tersedia disitu, bagi yang ingin membawa pasangan sendiri juga bisa. Dengan membayar sewa kamar Rp5 ribu sampai Rp10 tadi, pasangan mesum yang datang bisa bergoyang sesukanya hingga puas. Dan, sang empunya warungpun ikut puas karena kamarnya laku.

Begitulah, aktivitas seperti itu berlangsung cukup lama di Tilang. Membuat daerah itu terkenal hingga ke Ibu Kota Provinsi, Banjarmasin, sebagai tempat persinggahan yang mengasyikan bagi para supir lintas provinsi.

“Mereka juga bisa di-booking dan dibawa ketempat lain. Biasanya, para supir angkutan yang menuju provinsi tetangga membawa wanita warung Tilang untuk menemani mereka diperjalanan,” ujar seorang supir mobil tanki, Yayan.

Siti, mantan penjaja cinta yang biasa mangkal di warung Tilang kala  itu, membenarkan apa yang dikatakan Yayan. Ia mengaku, beberapa kali menemani supir ke Kota Muara Teweh, Kalimantan Tengah, hingga beberapa hari.

“Ke Banjarmasin juga pernah. Untuk layanan kencan jangka panjang seperti itu, tarifnya antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu. Tergantung kesepakatan sih,” ujarnya yang kini tinggal di Kota Barabai.

Meski masih mempesona dan mamputun (sintal/sexy), Siti tidak lagi melayani lelaki bernafsu kurang ajar. Goyangannya kini hanya untuk suami tercinta dan hari-harinya dihabiskan mengurus kedua anaknya.

Dulu ketika masih menjaja cinta, Siti baru berusia 20 tahun. Sedang “panas-panas”nya. Kulitnya putih mulus, dengan body aduhai. Tak heran bila ia menjadi salah satu primadona kala itu. Dengan mengeluarkan uang Rp50 ribu, sudah bisa menikmati goyangan Siti yang dahsyat.

Siti yang biasa mangkal dari pukul 10:00 Wit hingga pukul 20:00 itu, dalam satu hari mengaku bisa mengantongi uang antara Rp100 ribu hingga Rp400 ribu. Jumlah yang sangat banyak untuk ukuran waktu itu.

“Paling apes dapat Rp50 ribu,” ujarnya dengan gaya yang masih menggoda. Ah, Siti…

Menurut Siti, ia tidak setiap hari bajaja di warung. Kadangkala ia hanya diam dirumah. Ketika ada yang membooking, baru ia bersama pasangan sesaatnya ke warung Tilang. Menyewa kamar disana dan memuaskan hajat sang pembooking.

Saat ini, Tilang tak lagi membara. Para pelakonnya sudah banyak yang kembali ke jalan yang benar, seperti si manis Siti yang manja tadi misalnya. Namun bukan berarti di HST tak ada lagi warung plus-plus. Hanya saja dengan kemasan yang berbeda dan tak sevulgar dahulu.

* * *

DSC_5393

Bila malam menjelang, sepanjang jalan provinsi di HST dipenuhi warung minum yang biasa disebut warung malam. Disebut begitu, karena mereka hanya buka disaat malam hari.

Tak ada menu spesial diwarung malam. Hanya kacang goreng dan teh hangat serta kopi kental. Meski begitu, nyaris tak ada warung malam yang sepi pengunjung. Karena para wanita penjaganya biasa berpakaian seksi dan berbaju ketat. Mereka pandai bertutur kata. Hingga tak terasa berjam-jam sudah bacungkung diwarung malam. Bahkan, bila beruntung  masih bisa ditemukan warung malam yang penjaganya siap dengan pelayanan plus-plus.

“Di daerah Desa Bamban ada sebuah warung malam yang penjaganya mau diajak “begituan”,” ujar Dudi, warga Kota Barabai yang mengaku pernah kencan dengan wanita penjaga warung.

Penjaga warung malam biasanya para wanita muda berumur belasan. Ada yang masih sekolah, namun banyak diantaranya sudah tak lagi melanjutkan study. Penampilan dan gaya mereka memang menggoda. Merekapun tak segan melayani pembicaraan yang menjurus ke urusan bawah pusar. Topik obrolan yang mestinya belum pantas dilontarkan gadis seusia mereka.

Semakin cantik penjaga warung malam, semakin ramailah warung itu. Dalam memperebutkan simpatik mereka, pengunjung yang rata-rata anak muda sampai beradu pukul dengan sesamanya. Bahkan tak jarang berakhir dengan kematian. Tragis.

Para pengunjung bukan hanya warga Kota Barabai dan sekitarnya. Para pemuda dari kabupaten tetanggapun sering pula melewati dinginnya malam di warung malam. Sebagian dari mereka datang dalam keadaan mabuk, dibawah pengaruh Gajah (Alkohol cap Gajah yang dikonsumsi sebagai pengganti minuman keras. Biasanya dicampur dengan minuman energy).

Karena itu, Polisi sering melakukan razia di warung-warung malam yang memang sangat banyak tersebar di seluruh wilayah HST.

Terlepas dari aktivitas esek-esek diwarung malam, ada fenomena lain yang muncul dari sisi keberadaan warung malam di Hulu Sungai, khususnya Hulu Sungai Tengah. Para penjaga warung malam kebanyakan adalah janda muda. Selain membuka warung untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, mereka sekaligus mencari jodoh.

Sambil menjaga warung, bila bisa melakukan pendekatan, mereka tidak keberatan diajak berpacaran atau bagandakan. Dengan menjalin hubungan seperti itu, urusan bawah pusar bisa diatur. Karena sejujurnya, sang janda juga butuh pelampiasan kebutuhan biologisnya. Imbalannya, sang gandak (pacar) harus bisa memenuhi kebutuhan dan tuntutan ekonomi mereka.

Seringkali motivasi janda-janda itu membuka warung memang hanya untuk mencari jodoh. Begitu gandak didapat, mereka minta dikawini. Tak peduli sang gandak sudah beristri, punya anak atau bahkan sudah punya cucu. Bagi mereka, status sebagai istri kedua atau istri simpanan lebih terhormat. Lagi pula, dengan begitu mereka terhindar dari pergaulan tanpa status dan pergunjingan warga sekitar serta tidak melacurkan diri.

Mungkin karena apa yang mereka lakukan bukan didasari cinta dan semata-mata bermotif ekonomi, akhirnya banyak perkawinannya yang hanya menghasilkan anak. Ujung-ujungnya cerai, dan mereka kembali menjanda untuk kesekian kalinya. Bila sudah begitu, warungpun kembali dibuka.

Karena itu, jangan kaget bila menemukan seorang gadis belasan penjaga warung malam yang ternyata sudah pernah menikah tiga sampai empat kali.

Tamat

10 Tahun Pertikaian Itu…

Pengantar:

Horeee… akhirnya kami secara swadaya mampu mendirikan sebuah perusahaan. Meski dengan tertatih-tatih, perusahaan yang bergerak dibidang Publisher and Communications itu diberi nama Padma P & C. Sebagai salah satu produknya, kami menerbitkan tabloid berita mingguan. Dengan slogan Jujur & Memberi Makna, kami berharap tabloid yang diberi nama Urbana itu mampu memberi warna dunia media , setidaknya di Kalsel dan Kalteng, selain menjadi pilihan lain bagi pembaca. Terbit diminggu kedua bulan Juni 2009, aku masih belum menyumbang tulisan apa-apa. Karena saat itu, aku masih disibukkan urusan observasi, pengenalan, promosi dan pencarian iklan diwilayah kerjaku, Barabai. Hingga akhirnya, tiga hari menjelang deadline edisi kedua, Piimpinan Perusahaan kami Bang Budi Kurniawan mengirimkan sebuah pesan pendek. “Tlg bkn tlsn tntg peta perpolitikan di Barabai dan suasananya,” begitu bunyi SMS itu. Sebuah penugasan yang cukup sulit. Karena berbicara tentang perpolitikan di Barabai, akan membuka borok banyak orang. Namun bagaimana lagi, itu harus dikerjakan. Dan beberapa jam sebelum deadline, selesailah tulisan yang menggemparkan itu dan kukirimkan ke redaksi. Tak berlebihan bila kusebut menggemparkan. Karena tulisan itu ternyata mampu membuat elite politik di Barabai kasak-kusuk, gerah dan blingsatan. Hampir satu minggu aku terpaksa tidak bertandang keruang Pressroom Humas Pemkab HST. Bukan apa-apa, tak enak hati aku melihat wajah Kabag Humas yang selalu cemberut dan sutuk banget. Konon, dia disemprot habis-habisan oleh Bupati karena tulisan ini lolos dan semua diketahui publik. Haruskah aku merasa berdosa telah menulisnya? Tidak juga. Karena inilah fakta dan keadaan sebenarnya. Karena itu, bila ingin mengetahui bagaimana suasana perpolitikan di Barabai yang penuh trik dan intrik, bacalah tulisan ini…

***

Bara Di Bumi Murakata


Pagi hari di Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), sungguh menyenangkan. Sinar sang surya menyeruak diantara pucuk pegunungan Meratus, ditingkahi kicau burung dan selaput embun tipis. Segar dan menyejukkan. Sungguh kota yang damai dan tentram.

Benarkah???

Bagi warga Kota Barabai khususnya dan HST umumnya, Bumi Murakata (sebutan untuk HST-red) ini tidak sedamai dan setentram seperti terlihat. Ada bara di Bumi Murakata. Panas, dan setiap saat bisa berubah menjadi api yang membakar. Menghanguskan.

Dan, semua bermula dari perseteruan yang terjadi.

* * *

Sudah menjadi rahasia umum bila di Kota Apam (sebutan untuk Kota Barabai-red) itu, legislatif dengan eksekutif tak pernah akur. Gontok-gontokan, bacakut (berkelahi antar sesame-red) dan saling menyalahkan. Ujung-ujungnya, media yang diuntungkan. Walau tak jarang, media pula yang tersudutkan.

Namun yang pasti, kondisi itu bak kuman yang menyebar. Merasuk, memasuki setiap sendi kehidupan. Karena iyanya, bersinggungan dengan kebijakan yang dikeluarkan.

Mungkin tak bijak bila dikatakan “pertempuran” terjadi antara legislatif dengan eksekutif secara keseluruhan. Lebih tepat mungkin, bila dikatakan sebagai pergulatan pribadi antara Bupati HST, Saiful Rasyid dengan Ketua DPRD HST, Abdul Latief. Tetapi, karena keduanya merupakan orang berpengaruh dan undasnya (jagoannya-red), maka wajar bila banyak pihak akhirnya terseret. Entah itu sebagai korban, pelakon atau sebatas pemanfaatan terhadap situasi.

Kisah bermula seusai Pemilu Legislatif 2004. Abdul Latief yang terpilih sebagai anggota Dewan, mencalonkan diri sebagai Ketua. Konon, Saiful Rasyid tak merestui. Saiful rupanya lebih menjagokan Mawardi Tarmum, orang satu partai dengannya. Entah kenapa Latief yang sebenarnya merupakan “anak didik” dan dibesarkan oleh Saiful, membandel. Hubungan mereka yang semula begitu mesra, berantakan. Sejak itulah, perseteruan tak kunjung selesai.

Konon inti masalah bukanlah pembangkangan Abdul Latief. Ada hal yang jauh lebih mendasar dan prinsifil. Karena Latief dikenal sebagai pribadi yang memiliki loyalitas tinggi terhadap pertemanan. Bila bukan karena sesuatu yang “dahsyat”, mustahil rasanya Latief membangkang.

Karena itu banyak kalangan menilai, bola panas lebih dahulu ditembakkan Saiful. Telak menghantam Latief, jatuh dan berubah menjadi bola salju. Menggelinding semakin membesar, tiada akhir dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya.

Perang terbuka dimulai ketika kasus dugaan korupsi pada pembangunan stadion Murakata mengemuka. Kasus yang menyeret nama Saiful itu, konon ada Latief dibelakang layar. Meski begitu, yang maju dan gencar menyoal adalah LSM Jaringan Reformasi Pro Masyarakat, yang iyanya merupakan binaan Latief.

Saiful politikus ulung dan kasus stadion Murakatapun berlalu. Namun tak ayal, membekas dalam. Hingga tak lama, kasus dugaan korupsi pada pembangunan SMU Labuan Amas Utara mencuat. Menyeret nama Latief dan sukses menghunjamkannya ke “hotel Prodeo” selama 1 tahun 6 bulan. Konon, itu balasan Saiful.

Selanjutnya, bisa ditebak. Kasus demi kasus bermunculan kepermukaan. Dan sasaran tembak sudah dapat diduga. Bila bukan Saiful, pastinya Latief dan begitu sebaliknya. Saling jegal, saling lawan, saling mencoba menjatuhkan. Setiap lawan bisa bertahan, semakin gencar peluru ditembakkan.

Lepas dari Stadion, Saiful dihatam dugaan penyelewengan pajak. Kasus berjalan alot yang hingga kini tak jelas ujung pangkalnya. Ketika pencalonan anggota Legislatif April 2009, Latief terjungkal dari pencalonan kembali karena tidak memenuhi ketentuan KPU yang menyatakan calon anggota dewan tidak boleh pernah dipenjara atau pernah dijatuhi ancaman hukuman minimal lima tahun. Tak heran kemudian, kasus pajak kembali dimunculkan hingga berujung pengajuan pemecatan Saiful sebagai Bupati oleh Legislatif.

Berhasil? Tidak juga, karena giliran Latief disoal masalah yang sama. Gubernurpun ikut terseret karena tak kunjung menindaklanjuti surat Mendagri tentang pemecatan Latief.

Bukan hanya kasus yang dihembuskan. Nuansa peperangan berpengaruh langsung pada kebijakan. Legislative menjegal kebijakan Eksekutif, Eksekutif menohok kebijakan Legislatif. Nyaris tak ada hari tanpa penjegalan dan penohokan. Menebar kengerian diantara elit politik di negeri yang sukses mempertahankan tanahnya tak digarap para investor tambang itu.

Legislatif dengan Eksekutif betul-betul bersebrangan. Bukan hanya kantornya yang terletak bersebrangan jalan. Tetapi berseberangan dalam arti sebenarnya.

Karena kepentingan, RAPBD menjadi sangat sangat terlambat. Hasilnya sungguh menyakitkan. Bukan hanya para kontraktor yang gigit jari karena tidak bisa mendapatkan proyek, imbasnya bahkan terasa hingga ke tukang kayu, tukang bangunan dan tukang foto copy. Karena kantor-kantor pemerintahan tak sanggup membayar tunggakan foto copy.

Sementara yang kecil menjerit, Eksekutif dan Legislatif justru sibuk saling menyalahkan. Saling cari muka, cari simpatik dan cari selamat. Perang media terjadi. Sengit, seakan takkan kehabisan amunisi. Disatu sisi, mediapun berlomba mengekspos semua yang terjadi. Nyaris tak satu kesempatanpun dilewatkan begitu saja, untuk menjadikannya bahan pemberitaan. Pekerjaan yang melelahkan bagi wartawan, namun menguntungkan pemilik modal.

“Perseteruan yang terjadi di ranah pribadi, mestinya tak perlu terjadi di ranah instansi. Karena instansi bukan milik perseorangan,” ujar pengamat politik dari FISIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Taufik Arbain.

Menurutnya, DPRD sebagai instansi yang bersifat kolektif lebih mudah melakukan penekanan. Berbeda dengan Eksekutif yang bersifat konstruktif oleh public dan pemegang kepentingan.

Sangat disayangkan ketika para anggota dewan justru hanyut dan tak mampu menyelesaikan persoalan internal. Mereka mestinya sanggup membedakan mana kepentingan public, mana kepentingan pribadi.

“Ketika kepentingan pribadi lebih dominan berbicara hingga semua akhirnya ikut bersengketa. Bukan penyelesaian yang didapat,” Taufik menambahkan.

Namun, entah ada apa dengan para “Sultan” di Bumi Murakata ini. Sudah bertikai dengan tetangga, didalam rumah sendiri bacakut pula. Bayangkan, lebih dua tahun Bupati dengan Wakilnya (Wabup), H Iriansyah tak bertegur sapa. Bilapun terpaksa duduk bersebelahan, tak ada kata-kata diantara mereka. Masing-masing bermuka masam dan saling mencibir saja.

Ada kejadian menarik sekitar awal tahun 2008. Kala itu Saiful sedang memberikan sambutan di Aula Dinas Pendidikan HST, dalam acara penyerahan Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) untuk SMP sederajat.

Saat berdiri di podium untuk memberi sambutan, Handphonenya berdering. Saiful mengangkatnya dan berkata, “Maaf Pak Irian, saya sedang memberi sambutan di Dinas Pendidikan. Nanti saya hubungi,” ujarnya yang karena didepan microphone, maka terdengar jelas.

Semua hadirin yang mendengar tentu akan berasumsi bahwa hubungan Bupati dan Wakil aman, damai serta sentosa. Bukankah tadi Saiful menyebut nama Wabup?. Artinya, mereka masih berkomunikasi.

Namun bila dipikir, agak janggal sebenarnya. Kok bisa, Wabup tidak tahu bila Bupati saat itu sedang menghadiri sebuah acara?

Lucunya, ketika hal itu disampaikan kepada Wabup, beliau malah tertawa. “Sudah satu tahun kami tidak bertegur sapa. Apalagi komunikasi,” ujarnya sambil terkekeh. Nah, lho…

* * *

Menarik untuk disimak, ketika di HST muncul istilah “Darah B”. Istilah itu ditujukan bagi mereka yang menduduki jabatan penting di pemerintahan dan berasal dari Birayang, kota kelahiran Saiful Rasyid. Menurut sumber di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) HST, 75% jabatan penting di HST dipegang urang Birayang. Itu belum termasuk staff dan karyawan biasa.

Meski menjadi pergunjingan di buncu (sudut-red) warung dan pos ronda, tak banyak yang mengungkit fenomena itu. Bisa jadi dianggap wajar bila Saiful memasang orang satu kampung dibeberapa jabatan penting. Secara logika, orang yang memiliki hubungan, apakah itu kesamaan daerah, asal, bahasa, suku, budaya, agama, pemikiran, terlebih lagi hubungan darah, cenderung lebih mudah diajak bekerjasama dan relatif lebih aman.

“Si Anu itu darah B, tidak bisa diganggu gugat!” begitu gunjingan di buncu warung.

Petinggi bertitel darah “B” ini rata-rata sok jaim. Mereka pendiam, jaga jarak dengan media, sulit ditemui dan sangat hati-hati bilapun terpaksa mengeluarkan statement. Upaya menjaga kelanggengan Saiful? Loyalitas sesama darah “B”? wujud rasa terimakasih? Ataukah ada initimidasi? Karena konon kabarnya, Saiful yang begitu santun ketika berbicara didepan umum, bisa sangat “sangar” terhadap bawahan.

“Bila yang dipandang adalah profesionalisme, itu hal wajar. Tapi perlu diingat, kecendrungan merekrut orang dekat cenderung untuk kolusi,” ujar Taufik.

Urang Barabai sudah maklum bila di jajaran Pemkab HST urusan mutasi dan copot mencopot jabatan semudah membalik telapak tangan. Dalam kurun waktu dua bulan, bisa terjadi delapan kali mutasi, pemberhentian dan pengangkatan pejabat baru. Namun seperti dikatakan tadi, semua hanya berakhir dibuncu warung dan pos ronda. Mungkinkah karena semua lini telah disumbat?

* * *

Pengangkatan dr IBG Dharma Putra yang seorang dokter sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab HST, memunculkan berbagai praduga. Dharma yang nota bene bukan orang politik dan bukan urang asli Banua, bisa jadi dianggap tidak mengerti trik-trik dan cenderung lebih mudah di”kuasai”. Pastinya, Dharma tidak akan banyak protes. Maka, duduklah ia sebagai Sekda.

Untuk beberapa saat, itu memang terjadi. Kondisi itu, konon membuat Iriansyah menaikkan bendera perang kepada Dharma. Beberapa kali sang Sekda kena damprat olehnya.

Sebagai seorang dokter, intelegensi Dharma tidak sembarangan. Dharma cepat belajar dan membaca situasi. Hingga akhirnya, iapun berontak. Membelot dan berani menentang kebijakan Bupati. Alamak, Dharma kini bak duri dalam daging. Ibarat menggunting kain dalam lipatan. Bagaikan pimpijit disasala tilam (ungkapan/istilah Banjar yang menggambarkan seorang pembelot).

Menurut sebuah sumber di Pemkab HST, dalam sebuah pertemuan resmi Dharma didamprat habis-habisan oleh Saiful. Pasalnya, Dharma tidak bisa menemukan sebuah dokumen yang diinginkan Saiful. Semua berkas diatas meja berterbangan, berhamburan dan berserakan dilantai, tersapu jurus maut Saiful.

Disini pemberontakan itu bermula dan terjadi. Usai drama menegangkan itu, Dharma mendatangi Saiful ke ruangannya. Sendirian. Hanya ada Dharma dan Saiful diruangan ber-AC yang tidak semua wartawan bisa dan pernah masuk kesitu. Disana, Dharma berucap, “Bapak maunya apa!?”. Tegas. Singkat, tapi pedas dan menyakitkan.

Tanggap Dharma mulai kelain hati, Saiful pasang kuda-kuda. Untuk mencopotnya, bukan perkara mudah. Karena ternyata, Dharma memilliki link yang kuat di pusat. Saiful harus memainkan bidak lain.

Akhmad Tamzil, Kepala Dinas Pendidikan waktu itu, dipindahtugaskan sebagai Kepala Inspektorat. Banyak dugaan, itu langkah Saiful untuk mengganjal Dharma. Karena dari Inspektorat, hanya selangkah lagi bagi Akhmad Tamzil ke kursi Sekda.

Kenapa Akhmad Tamzil? Karena bukan rahasia bila ia adalah orang dekat Bupati. Tamzil bahkan memanggil Saiful dengan sebutan “Ayahanda”. Itu belum seberapa, Tamzil selalu mencium tangan Saiful setiap kali bertemu. Takzim, layaknya seorang anak menghormati bapaknya.

Namun, hingga saat ini prediksi sebagian besar kalangan di HST itu, tidak terbukti. Dharma tetap sebagai Sekda, sementara Tamzil masih sebagai Kepala Inspektorat.

2010, kepemimpinan Saiful berakhir. Tapi bukan berarti pengaruhnya akan pudar begitu saja. Upaya mengabadikan pengaruhnya terbaca jelas ketika Hj Khairunnisa, istrinya ikut bertarung pada Pemilu Legislatif 2009. Menurut para pengamat politik di HST, Hj Khairunnisa dipersiapkan menduduki kursi Ketua DPRD. Dengan begitu, kekuasaan tidak jauh dari trah Saiful.

Bagaimanapun juga, Saiful mesti membereskan “meja perjamuan” sebelum ia berangkat ke “peraduan”. Bila tidak, sangat boleh semua akan terekspose bila sumbat tak rapat.

Abdul Latief, yang meski tak lagi memangku jabatan Ketua DPRD, diyakini Taufik Arbain masih memiliki kharisma dan pengaruh besar. Meski gedung dewan kemasukan wajah-wajah baru, Taufik pesimis mampu membawa perubahan. Diramalkan, perseteruan akan terus berlangsung. “Akan ada Pertarungan Jilid 2,” ujar Taufik.

Konflik berkepanjangan yang sarat kepentingan itu, disarankan untuk segera diakhiri. Untuk itu, perlu adanya kesadaran dan tekanan dari akar rumput.

Fenomena politik HST, seakan menguatkan asumsi bahwa kalakuan bacakut papadaan (perilaku suka berkelahi dengan sesame) memang streotif urang Banua. Entahlah, akan dibawa kemana Bumi Murakata. Dengan bara di dalamnya, tak seorangpun bisa menduga. Hanya Tuhan, Saiful dan Abdul Latief yang mungkin tahu.

Pengatar:

Masih dalam rangka memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, redaksi di Banjarmasin meminta para PSK (Pekerja Sinar Kalimantan) untuk membuat tulisan tentang kitab-kitab Maulid. Di Kalimantan Selatan, terdapat tiga kitab Maulid yang sering dibawakan. Yaitu Ad Diba’i, Al Barjanzi dan Al Habsyi.

Ad Diba’i, konon merupakan kitab tertua dan yang pertama masuk ke Kalimantan Selatan. Kitab ini menjadi bacaan wajib kaum Muslim di Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Berbeda dengan warga Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, masyarakat di kabupaten itu lebih kental dengan pembacaan kitab Al Barjanzi. Di Kota Martapura, Kabupaten Banjar, berbeda lagi. Masyarakat di Kota Serambi Mekkah itu, lebih akrab dengan kitab Al Habsyi.

Karena aku ditugaskan di Kota Barabai, maka penulisan tentang kitab ini diserahkan kepadaku. Namun alangkah terkejutnya aku, ketika kenyataan dilapangan masyarakat Kota Barabai nyaris tak lagi membawakan syair Ad Diba’i saat pelaksanaan Maulid Nabi. Saat ini, kitab-kitab yang sering dibaca adalah Al Barjanzi dan sebagian Al Habsyi.

Kondisi ini sungguh sangat menyulitkan. Karena mencari orang yang tahu seluk beluk Ad Diba’i sangat sulit, sedang waktu yang diberikan redaksi hanya tiga hari. Akhirnya, dengan segala daya upaya berhasil juga aku membuatnya. Tulisan ini kemudian terbit dihalaman “Pustaka”, bersama-sama dengan tulisan Fatoy (wartawan Sinar  Kalimantan yang bertugas di Kota Kandangan) tentang kitab Al Barjanzi dan tulisan Fahri (wartawan Sinar Kalimantan yang bertugas di Kabupaten Banjar) tentang kitab Al Habsyi.

* * *

Ad-Diba’i, Syair Yang Mengalun Indah

Ya Rabbi shalli ‘ala Muhammad
Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa sallim
Ya Rabbi balligh-hul wasilah
Ya Rabbi khush-shah bil fadhilah

… Wahai Tuhan, tetapkanlah limpahan rahmat kepada Nabi Muhammad.
Wahai Tuhan, tetapkanlah limpahan rahmat dan kesejahteraan kepadanya.
Wahai Tuhan, sampaikanlah kepadanya sebagai perantara.
Wahai Tuhan, khususkanlah kepadanya dengan keutamaan …

Setiap Rabiul Awal tiba, umat Muslim bergembira menyambutnya. Karena dibulan inilah, sang junjungan, Nabi akhir zaman dilahirkan. Kesukacitaan dan rasa syukur, diwujudkan dengan melaksanakan ritual keagamaan. Sebuah tradisi agung yang bernama Maulid Nabi Muhammad SAW ini, dimaksudkan mengenang sang Baginda Rasul berikut keutamaan dan perjuangan beliau. Bentuk tradisi yang berbeda diantara umat Islam, tak menyurutkan kekhidmatan yang ada.

Acara Maulid Nabi diisi dengan shalawat dan pembacaan syair-syair berisi puji-pujian nan syahdu. Dalam perkembangannya, syair maulid mengalami perkembangan. Pada  literatur kesusteraan Arab, sedikitnya terdapat empat syair Maulid. Masing-masing bercorak prosa lirik, hasil karya empat penyair berbeda.  Dari syair-syair tersebut, yang paling populer adalah syair Maulid Ad Diba’i.

Di Kalimantan Selatan, konon Ad Diba’i pertama kali diperkenalkan oleh kalangan ulama Barabai, Hulu Sungai Tengah. Sedang di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, masyarakatnya cenderung membawakan syair Al Barzanji. Lain lagi dengan  Martapura, didaerah ini lebih kental dengan pembacaan syair Al Habsy. Namun seiring zaman dan keheterogenan masyarakat, kini pengkhususan itu tak lagi kentara.

Dari segi usia, Ad Diba’i merupakan syair tertua. Umurnya mencapai 500 tahun lebih. Syair yang diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh Al Habib Ali Bin Sholeh Al Athos ini, merupakan sebuah karya besar dalam perkemabangan sejarah Islam.

Diciptakan oleh Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Umar bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad-Diba’i Asy-Syaibani Al Yamani Az-Zubaidi Asy Syafi’i, atau lebih dikenal dengan sebutan Ibn Diba’ (866-944 H). Beliau merupakan Ulama Hadist yang berderajat Al Hafiz, yaitu hafal 100.000 hadist, lengkap dengan sanad dan matan serta seorang ahli sejarah.

Seperti syair Maulid lainnya, Ad Diba’i merangkum kisah seputar Nabi Muhammad SAW. Kitab ini terdiri dari kisah penciptaan Nabi, kehamilan sang ibunda, keajaiban dan karomah menjelang kelahiran beliau, sosok dan kepribadian, perjuangan serta dakwah beliau. Meskipun  kitab-kitab Maulid cenderung sama, tapi pada beberapa bagian dalam Ad Diba’i termaktub beberapa hal yang tidak ada pada syair Maulid lainnya. Seperti keutamaan Rasulullah dan umatnya.

Karena syair-syair Ad diba’i sejatinya adalah karya sastra, maka isinya terangkai dalam untaian-untaian kalimat yang indah dan syahdu. Irama yang dilantunkan, memiliki keunikan dalam gaya dan irama yang khas serta kaya akan simbol dan metafora. Meski terkadang, isinya seringkali disalahartikan oleh kalangan penentang Maulid sebagai sebuah kemusyrikan. Namun simbol dan metafora yang ditonjolkan justru mampu muncul sebagai kekuatan dan ungkapan kerinduan serta kecintaan umat Rasulullah terhadap Nabi akhir zaman ini. Yang dalam kajian sastra Arab disebut Al-Madaih al-Nabawiyah (puisi-puisi sanjungan kenabian).

Sang penyair, Ibn Diba’i, dilahirkan pada empat hari bulan Muharram tahun 866H dan wafat hari Jum’at, 12 Rajab tahun 944H, diwilayah Yaman Utara, dekat Zabid, tak jauh dari makam Imam Al Bushiri, pengarang Qasidah Burdah. Didekat situ pula terdapat Ahluttariqah Anbariyyah, tempat menyimpan sehelai rambut Rasulullah SAW. Beliau merupakan murid dari Imam Al Hafiz Assakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, Mufti Zabid, dan Imam Alhafiz Tahir bin Husain Al Ahdal.

Cobalah renungi syair Ad Diba’i ini. Sungguh, sebuah karya satra yang hebat tiada tara. Ini bukan kitab asal jadi atau karya seniman murahan semisal puisi kacangan. Ini bukan pula susunan kata pelipur lara yang hanya berisi untaian kata-kata gombal. Ianya, ini sebuah maha karya seorang ulama besar. Syairnya penuh untaian dan seni kata yang luar biasa indah lagi menawan. Kitab yang berumur lebih 500 tahun ini, diakui dan populer karena keindahan dan keberkatannya.

Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib, Paman Nabi  pernah berkata, sesungguhnya ada seorang Quraisy yang saat itu masih berwujud Nur di hadapan Allah SWT, 2000 tahun sebelum penciptaan Nabi Adam as. Nur itu selalu bertasbih kepada Allah. Dan bersamaan dengan tasbihnya, bertasbih pula para malaikat yang mengikutinya.

Wahai Nabi, engkau adalah cahaya Allah SWT yang diletakkan pada sulbi Nabi Adam as, sehingga ketika Nabi Adam as turun ke muka bumi, engkau ikut turun. Kala Nabi Adam as mempunyai anak, anaknya mempunyai keturunan. Sehingga, engkau sesungguhnya bersama Nabi Nuh as ketika banjir besar melanda kaumnya. Engkau telah ada dalam tulang sulbi Nabi Ibrahim Al-Khalil, ketika ia dilemparkan ke dalam api. Sehingga engkau berada di sulbi para laki-laki mulia yang menikahi wanita-wanita suci. Sehingga engkau dilahirkan oleh ibumu dengan cahaya yang terang benderang. Dan sesungguhnya, hingga kini kami masih dalam naungan cahayamu.

Kalimat-kalimat pujian seperti di atas, terdapat dalam Ad Diba’i. Syair itu tersusun indah berdasarkan riwayat Sayyidina Abdullah bin Abbas ra atas sabda Rasulullah SAW.

Setiap tahapan penciptaan dan kelahiran Rasulullah, dipenuhi keajaiban dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Ketika Nabi masih dalam kandungan,  Syaikh Abdurrahman Ad Diba’i, melukiskan kondisi itu dengan sangat indahnya. Melalui bait-bait syairnya yang syahdu, saat itu dilukiskan dengan penggambaran yang gegap gempita dan agung dengan sajak-sajak yang berakhiran huruf “ra” berharakat fathah.

Fahtazzal ‘arsyu tharaban was-tibsyara
Waz-dadal kursiyyu haibatan wa waqara
Wam-tala-atis samawatu anwara
wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlilan wa tanjîdan was-tighfara

… Maka Arsy pun berguncang penuh suka cita dan riang gembira. (Sementara) Kursi Allah bertambah wibawa dan tenang. Langit dipenuhi berjuta cahaya. Dan bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid (pengagungan Allah), dan istighfar …

Detik-detik kelahiran Nabi dilukiskan sebagai peristiwa luar biasa, sarat kemukjizatan. Syaikh Abdurrahman Ad Diba’i, mengabadikannya dengan rangkaian kalimat indah yang tak terhingga manisnya. Tengoklah untaian syair cantik berikut:

Wa lam tazal ummuhu tara anwa’an min fakhrihi wa fadhlihi,
ila nihayati tamami hamlih
Falammasy-tadda bihath-thalqu bi-idzni rabbil khalqi,
wadha’atil habiba shallallahu ‘alaihi wa sallama sajidan syakiran hamidan ka-annahul badru fî tamamih

… Dan sang ibunda tiada henti melihat bermacam tanda kemegahan dan keistimewaan sang janin, hingga sempurnalah masa kandungannya. Maka ketika sang bunda telah merasa kesakitan, dengan izin Tuhan, Sang Pencipta makhluk, lahirlah kekasih Allah, Muhammad SAW, dalam keadaan sujud, bersyukur, dan memuji, dengan wajah yang sempurna, laksana purnama …

Sang penyair, Ibn Diba’i pada zamannya dikenal sebagai seorang ulama hadist besar yang mencapai derajat hafiz, yang mampu menghafal 100 ribu hadist. Ia juga seorang marrikh (ahli sejarah). Selain Maulid Ad-Diba’i, ia juga mengarang beberapa kitab lainnya. Di antaranya, kitab Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul kitab Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith Mimma Yaduru ‘ala Alsinatin Naasi Minal Hadits, kitab Qurratul ‘Uyun fi Akhbaril Yaman al-Maimun, kitab Bughyatul Mustafid fi Akhbar Madinat Zabid, dan kitab Fadhail Ahl al-Yaman. Ibn Diba’i mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari seratus kali khatam. Di zamannya, setiap hari ia mengajar hadist dari masjid ke masjid.

Kini, setelah jauh berjarak dari zamannya, syair syahdu nan indah ciptaan Ibn Diba’i senantiasa menghiasi bumi dan relung hati umat Muslim di dunia.

Tamat

Baayun Anak Di Bulan Maulid

Pengantar:

Selain kemeriahan tradisi perayaan Maulild Nabi Muhammad SAW di Kota Barabai, satu lagi yang unik di bulan ini, di Kalimantan Selatan. Di Kota Rantau, Kabupaten Tapin, Maulid Nabi dirayakan bersamaan dengan ritual Ba-Ayun Anak atau Ba-Ayun Maulid. Saking unik dan menariknya, ritual keagamaan ini masuk MURI ditahun 2008.

Tahun 2009, aku sangat beruntung dipercaya redaksi untuk meliput dan membuat tulisan panjang tentang tradisi itu. Seperti juga budaya perayaan Maulid di Kota Barabai, tulisan Ba-Ayun Anak ini aku buat dalam tiga versi, news, features dan tulisan panjang. Yang aku masukkan di Blog ini adalah tulisan panjang untuk kolom “Budaya”.

Tulisan ini ku buat berdasarkan hasil liputan saat pelaksanaan ritual, wawancara dengan warga sekitar, tokoh masyarakat dan wawancara dengan Taufik Arbain, seorang pengamat budaya yang juga Ketua Penelitian dan Pengembangan Budaya Banjar, Dewan Kesenian Kalimantan Selatan (Taufik juga seorang pengamat politik kenamaan di Banjarmasin dan Ketua Jurusan Administrasi Niaga di FISIP UNLAM Banjarmasin. Kebetulan juga teman seangkatan waktu kuliah dulu, cuma nasibnya jauh lebih baik, hi hi…). Beberapa bagian kukutip dari buku perkembangan Islam di Banjar yang aku baca.

* * *

Jejak Rekam Budaya Ba-Ayun Mulid

DSCN4938ccc

Setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad tiba, kaum Muslimin bergembira. Setiap daerah merayakannya dengan ragam cara, namun tetap satu tujuan. Seperti kemeriahan tiada henti selama sebulan penuh di Kota Barabai, Hulu Sungai Tengah, misalnya. Namun perayaan Maulid yang bisa masuk Museum Rekor Indonesia (MURI), hanya perayaan Maulid di Desa Banua Halat, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Perayaan Maulid di Banua Halat ini tidak biasa. Karena, selain pembacaan syair-syair Maulid, disertai dengan prosesi dan  ritual budaya Ba-ayun Anak, yang karena pelaksanaannya bertepatan dengan perayaan Maulid, disebut juga Ba-ayun Maulid.

Tempat pelaksanaannya tidak sembarangan. Bertempat di Mesjid Al Mukarramah atau biasa disebut Mesjid Keramat, membuat ritual ini menjadi luar biasa. Dengan maksud agar anak senantiasa sehat, cerdas, berbakti kepada orang tua dan taat beragama, sangat kontras dengan tempatnya yang dikeramatkan. Menjadikan ritual ini bukan sekedar ramai, tapi juga sakral dan suci.

Menengok jauh kebelakang, pasca masuk dan dinyatakannya Islam sebagai agama resmi oleh Sultan Surriansyah, penguasa kerajaan Islam Banjar kala itu (tepatnya tanggal 24 September 1526), agama Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat. Etnis Dayak Ngaju atau Dayak Pesisir, sebagai penghuni daerah aliran sungai yang menjadi jalur utama transportasi dan perdagangan, adalah etnis pertama yang bersentuhan dengan ajaran baru ini.

Di Banua Halat, jalur masuknya Islam diperkirakan melalui lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan, Margasari terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua Gadang. Dari Banua Gadang, dengan memudiki sungai Tapin, sampailah ke kampung Banua Halat. Diperkirakan,  Islam masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16.

ayun-ccc

Pada masa pra-Islam, etnis Dayak yang mendiami wilayah Banua Halat masih menganut agama kepercayaan Kaharingan. Etnis ini biasa mengadakan upacara Aruh yang bertempat di Balai Adat. Seiring masuknya Islam, budaya pra-Islam ini mengalami transformasi kebudayaan.

Budaya baru yang masuk membuat terjadinya kombinasi budaya, namun tanpa menghilangkan budaya lama. Yang terjadi disini hanyalah penyesuaian dengan nafas dan nuansa Islam. Khususnya pada mantra-mantra yang digunakan, berubah menjadi alunan syair-syair dan pujian kepada Nabi. Terlihat disini, budaya baru yang masuk bisa sesuai secara adaptif, dimana memunculkan sebuah akulturasi budaya dan asimilasi budaya pada masyarakat Dayak di Banua Halat.

Jelas tergambar kearifan ulama zaman dahulu menyelaraskan ajaran Islam dengan budaya pra-Islam yang berkembang di masyarakat. Pada prakteknya, simbolisasi yang digunakan masih dipertahankan dan sampai saat ini masih terlihat pada masyarakat Dayak Meratus di Loksado, misalnya. Simbol-simbol seperti adanya piduduk, janur, wadai 41 macam, parapin, panginangan, banyu putih dalam galas dan minyak likat baburih yang tetap disertakan pada prosesi budaya Ba-ayun Anak. Sama persis dengan yang ada pada prosesi adat Aruh Ganal di masyarakat Dayak Meratus.

Akulturasi terhadap tradisi terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi berbeda dengan sebelumnya. Karena ia berubah dan menjadi tradisi baru yang bernafaskan Islam. Hal ini menunjukkan, betapa Islam Banjar memiliki tingkat toleransi yang tinggi dalam mengakomodir beberapa nilai kultural, selama hal itu tidak masuk dalam wilayah meng-sekutukan Tuhan. Yang mana hal ini juga terjadi pada Islam-Islam didaerah lain dan bahkan dibelahan dunia yang lain.

Kenyataan ini menjadi sebuah pelajaran maha penting bagi pendakwah atau ulama sekarang. Dimana suatu dakwah, pada prinsipnya tidak melulu menjadikan manusia yang didakwahi sebagai seorang Muslim. Atau bersikap arogan dengan men-judge sesuatu sebagai haram misalnya, tanpa melihat aspek lain.

Kematangan berfikir, tingkat toleransi yang tinggi dan elegan yang dianut ulama zaman dahulu, juga menjadikan etos, budaya, adat istiadat, semangat, perilaku, pola hidup, sistem, dan semua yang melingkupi kehidupan masyarakat, agar sesuai dengan ajaran Islam. Strategi peng-Islam-an yang lebih elegan, seperti pola yang sama dengan Sunan Kali Jaga dengan Wayang, misalnya.

Nilai yang tertanam pada prosesi Ba-Ayun Anak dengan pembacaan syair-syair Maulid di Banua Halat, merupakan suatu strategi dakwah kultural. Yaitu sebuah bentuk dakwah yang dilakukan dengan pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan, bukan pendekatan politik.

Hal ini merupakan upaya penyampaian ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal, hingga lebih menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal. Karena dalam dakwah kultural, diharuskan memiliki kecerdasan dalam memahami kondisi masyarakat, untuk kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan dakwah Islam.

Sebelumnya, pada budaya pra-Islam telah berkembang budaya yang serupa dengan Ba-Ayun Anak ini. Dimana pada masyarakat dulu dikenal adanya prosesi Ba-Ayun Wayang, Ba-Ayun Topeng dan Ba-Ayun Madihin. Pada prosesi Ba-Ayun Wayang dan Ba-Ayun Topeng, ritual didahului dengan pertunjukan wayang dan topeng. Sedang pada Ba-Ayun Madihin, prosesi diikuti dengan melantunkan syair Madihin.

DSCN4945editccc

Seiring dengan transpormasi budaya yang terjadi dan perkembangan zaman, membuat budaya ini dirasa tidak lagi mempunyai pengaruh atau efek bila tidak dilakukan. Serupa dengan tradisi ma-ayun anak dengan bapukung (menidurkan anak dalam posisi didudukkan dalam ayunan, red) yang kini banyak ditinggalkan. Namun pada masyarakat di Hulu Sungai, masih dapat ditemui tradisi ini.

DSCN4947ccc

… guring, anakku guring

Anakku pintar, dalam ayunan

Matanya kalat, nang handak guring…

Alunan syair tembang seperti diatas, biasanya dilantunkan masyarakat Banjar saat mangguringakan (menidurkan, red) anak sambil bapukung dalam ayunan. Namun pada perkembangannya, syair-syair tradisional seperti itu sudah tergantikan dengan syair dan alunan shalawat. Seperti itu jugalah yang terjadi pada proses pembentukan budaya Ba-Ayun Anak atau Ba-Ayun Maulid di Banua Halat.

Akulturasi dan asimilasi budaya yang terjadi pada prosesi Ba-Ayun Anak, membuat simbol-simbol yang ada dipertahankan. Dan sekali lagi, ini masih bisa ditemui dan dilaksanakan pada masyarakat Dayak Meratus. Yang mana hal ini memunculkan realita sebuah nilai-nilai hubungan urang Banjar (sebutan untuk penduduk asli Kalimantan Selatan yang beragama Islam, red) dan Dayak, bahwa mereka bersaudara dan memiliki pertalian budaya. Ini diperkuat dengan melekatnya kepercayaan pada legenda, seperti kisah Itingan dan Dayuhan pada masyarakat Hulu Sungai, misalnya.

Perhatikan tahapan prosesi Ba-Ayun Anak ini. Ayunan dibuat tiga lapis, dengan kain sarigading (sasirangan, red) pada lapisan pertama, kain kuning pada lapisan kedua dan kain bahalai (sarung panjang tanpa sambungan, red) pada lapisan ketiga.

Tali ayunan dipenuhi hiasan dari janur, berbentuk burung-burungan, ular-ularan, katupat bangsur, halilipan, kambang sarai, hiasan dari wadai 41 seperti cucur, cincin, pisang, nyiur dan lain-lain. Orang tua yang melaksanakan Ba-Ayun ini diharuskan menyiapkan piduduk, berupa beras, gula habang, nyiur, hintalu hayam, banang, jarum, uyah dan binggul (uang receh, red).

Ritual dimulai dengan membaca syair Maulid Al Habsy, Maulid Ad Diba’i atau Maulid Al Barzanji. Dilanjutkan dengan pembacaan Manakib Wali Allah, ceramah agama dan ditutup dengan do’a. Kemudian para Habib, Ulama dan umara menapung tawari (memberkati, red) peserta Ba-Ayun Anak, diiringi pembacaan Sholawat Badar.

Semua posesi ini menandakan betapa budaya dasar yang dianut dalam prosesi Ba-Ayun Anak masih terjaga. Sehingga, ikatan budaya secara emosional antara urang Banjar dan Dayak, senantiasa terjalin harmonis, meski dengan baju yang berbeda.

Gubernur Kalsel, Rudy Arifin ikut pula Baayun...

Gubernur Kalsel, Rudy Arifin ikut pula Baayun...

Agama dan kebudayaan, memiliki persamaan sebagai sistem nilai dan sistem symbol. Keduanya mudah sekali terancam setiap ada perubahan. Agama, dalam perspektif ilmu sosial adalah sistem nilai yang memuat konsepsi mengenai kontruksi realitas. Dalam hal ini, berperan besar dalam pemaparan struktur tata normatif dan tata sosial serta pemahaman dan penafsiran lingkungan sekitar.

Sementara itu, seni budaya dan tradisi merupakan ekspresi cipta, karya dan karsa manusia yang berisi nilai-nilai dan pesan religius, berwawasan filosofis dan kearifan lokal. Baik agama atau kebudayaan, prinsipnya sama memberikan cara pandang dalam menyikapi kehidupan agar sesuai dengan aturan dan ajaran Tuhan.

Sebagai contoh, dalam perspektif agama diberikan wawasan untuk melaksanakan Aqikah pada anak yang baru lahir. Sementara, pada budaya lokal urang Banjar dikemas dalam tradisi Ba-Ayun Anak yang kemudian dikawinkan dengan perayaan Maulid. Terlihat wawasan dan sudut pandang yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama.

Ritual Ba-Ayun Anak menjadi sebuah prosesi yang sangat unik. Manakala peserta yang ikut bukan hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa bahkan kakek dan nenek. Tujuan orang dewasa ikut Ba-Ayun ini beragam. Ada yang sekedar ikut-ikutan dan ada pula karena nazar, ingin sembuh dari penyakit, membuang sial, mencari berkah serta sebagai ucapan syukur setelah hajatnya terkabul.

Setiap tahunnya, peserta ritual semakin banyak, mencapai ribuan. Bahkan pada bulan Maret 2008, Baayun Anak masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan peserta terbanyak se-Indonesia. Jumlah peserta pada waktu itu sebanyak 1.544 orang, terdiri dari 1.643 anak-anak dan 401 orang dewasa. Peserta tertua Hj Masriah (75) dari Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan termuda seorang bayi yang baru berumur 4 hari.

Para peserta bukan hanya penduduk Desa Banua Halat atau warga Kota Rantau, tetapi datang dari seluruh Kalimantan. Bahkan dari data pendaftaran dari panitia pelaksana, tercatat peserta dari pulau Jawa dan Sumatra. Bahkan ada peserta yang berasal dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Menariknya, dari daftar peserta itu terdapat pula orang Dayak yang nota bene masih menganut agama Kaharingan.

Tahun 2009, lonjakan peserta naik  hampir dua kali lipat. Pada prosesi yang digelar tanggal 09 Maret 2009, peserta berjumlah 2.040 orang, dengan peserta dewasa berjumlah 1.291 orang dan 748 peserta anak-anak. Peserta tertua berumur 84 tahun dan termuda berumur 21 hari.

Bagaimanapun juga, tradisi dan budaya Ba-Ayun Anak sesuatu yang patut dipertahankan dan diperjuangkan kelestariannya. Nilai-nilai yang terkandung, perspektif kedepannya bisa menjadi jembatan hubungan interaksi antara urang Banjar hari ini dengan etnis Dayak. Melalui ritual ini, akan terasa sebuah kesadaran yang kadang berada dibawah sadar, dan jalinan tertentu bahwa mereka memiliki ikatan kultural. Hubungan emosional masa lalu yang masih dipertahankan, menimbulkan kesadaran budaya yang sama.

Secara keseluruhan, tradisi yang dilakukan secara massal ini merupakan pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya, atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi sekalian alam. Dengan kearifan dan elegansi dakwah kultural yang berlaku, dengan apik mengemasnya sesuai dengan dakwah Islam. Dengan begitu, sebuah tradisi dan budaya tetap terjaga dan lestari, seperti halnya Ba-Ayun Anak atau Ba-Ayun Maulid ini.

Tamat

Saat Maulid Tiba…

Pengantar:

Memasuki bulan Maret 2009, bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di Kota Barabai, kota tempat tinggalku kini, perayaan itu berlangsung sangat meriah dan dilaksanakan selama satu bulan penuh. Sangat berbeda dengan kota lain, bahkan dengan Kota Martapura yang terkenal agamis dan mendapat julukan Kota Serambi Mekkah sekalipun. Karena itulah, redaksi memerintahkan aku untuk menulis tentang perayaan itu. Akhirnya, aku membuat tiga tulisan. Dalam bentuk news, features dan tulisan panjang. Yang aku muat disini adalah tulisan panjang untuk kolom “Budaya”.

Terlepas dari segala kekurangannya, tulisan ini berisi tentang pelaksanaan, ritual dan tradisi Maulid di Kota Barabai yang aku lihat dan rasakan sendiri. Buat teman-teman yang membaca tulisan ini, mohon kritik dan sarannya. Dan bila anda penasaran dengan keramaian dan eksotisme perayaan Maulid di Kota Barabai, datanglah disaat bulan Maulid.

* * *

Eksotisme Tradisi Maulid Di Barabai

sejak pagi, siang dan sore hari jalanan penuh sesak oleh warga yang tulak saruan

sejak pagi, siang dan sore hari jalanan penuh sesak oleh warga yang tulak saruan

para undangan, kelompok handil maulid yang datang malam hari

para undangan, kelompok handil maulid yang datang malam hari

Assalamu ‘alaika, ya zainal ambiya-i …Assalamu’alaika

(Salam kepadamu wahai hiasan para Nabi, Salam kepadamu)

Assalamu ‘alaika, atqal atqiyai …Assalamu’alaika

(Salam kepadamu insan yang paling taqwa, Salam kepadamu)

Assalamu ‘alaika, azkal azkiya …Assalamu’alaika

(Salam kepadamu insan yang paling suci, Salam kepadamu)

Itulah penggalan syair  Maulid Al Barzanji yang melantun syahdu selama satu bulan penuh. Menyeruak dilangit Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Memasuki bulan Maulid hingga akhir bulan, siang dan malam, tiada henti puja dan puji terhadap Nabi Besar Muhammad SAW dikumandangkan. Sebuah fenomena berbeda dari prosesi keagamaan yang dilaksanakan warga Kota Barabai.

Tahun 300 Hijriyah, pada masa dinasti Fatimah, menurut sejarah saat itulah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diadakan. Kemudian, ketika berkobar Perang Salib,  Salahuddin Al Ayyubi memompa semangat juang tentara Muslim dengan menggelar Maulid Nabi, mengenang kembali perjuangan Rasulullah dan para sahabat. Dengan cara itu, semangat tentara Muslim kembali bergejolak dalam perang yang sangat melelahkan itu.

Saat ini, tradisi dan ritual Maulid terus dirayakan oleh sebagian besar kaum Muslimin. Banyak cara dan tradisi yang digelar untuk mengisinya. Setiap daerah memiliki keunikan dan cara tersendiri, yang kesemuanya merupakan perwujudan rasa cinta terhadap Baginda Rasulullah.

Di Keraton Yogyakarta misalnya, masyarakat menggelar acara Sekaten dalam mengisi bulan Maulid. Tapi yang paling unik dan eksotik, mungkin hanya ditemui di Kota Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST).

Acaranya biasa saja. Seperti kebanyakan daerah di Indonesia, penyelenggaraan Maulid di Kota Apam (sebutan untuk Kota Barabai) ini, diisi dengan bacaan Maulid Al Barzanji, Al Diba’i, Al Burdah, Al Habsy dan sejenisnya. Namun yang membuat Maulid di Barabai istimewa adalah prosesi dan waktu pelaksanaannya, dari pagi hingga malam hari, selama sebulan penuh. Tidak ada pawai atau ceramah agama, namun suasana dan atmosfirnya sungguh berbeda. Ceramah agama oleh para Ustadz dan alim ulama biasanya dilaksanakan di Langgar, Mushola atau Mesjid.

Perayaan Maulid pada masyarakat HST, dipersiapkan dengan matang, bahkan satu tahun sebelumnya. Di kabupaten ini, disetiap kampung warganya membentuk perkumpulan atau karukunan yang diberi nama Handil Maulud. Jumlah Handil Maulud disatu kampung bisa lebih dari satu, tergantung kepadatan penduduknya.

Handil Maulud biasanya beranggotakan 40 kepala keluarga atau 40 buah rumah. Setiap minggunya, mereka mengadakan pertemuan secara bergilir antara sesama anggota, yang biasa disebut ba-Handil. Ba-Handil diisi dengan pembacaan surah Yaasin dan Tahlil, mengumpulkan tabungan atau disebut arisan Maulud, dan makan-makan.

Beberapa hari sebelum bulan Maulid atau Rabiul Awwal tiba, arisan Maulud dikeluarkan. Uang inilah yang digunakan anggotanya sebagai tambahan biaya untuk merayakan Maulid Nabi. Setiap Handil Maulud melaksanakan satu kali acara Maulid.

Bagi warga yang bukan anggota Handil Maulud, bisa ikut merayakan. Namun untuk yang bukan anggota, harus mendaftar terlebih dahulu kepada panita pelaksana Maulid, paling tidak satu bulan sebelum Maulid tiba. Hal itu berkaitan dengan jumlah undangan yang akan disebar ke Handil Maulud didesa lain. Undangan harus disebar jauh hari sebelum pelaksanaan, agar tidak terjadi tabrakan waktu perayaan yang bersamaan dengan kelompok lain.

Saat  pelaksanaan Maulid, warga yang merayakan wajib mengundang sedikitnya satu kelompok Handil Maulud. Satu kelompok Handil Maulud beranggotakan 10 sampai 15  orang. Ada ketentuan tak tertulis disini yang mewajibkan Handil Maulid untuk menghadiri undangan itu.

Perayaan Maulid diisi dengan pembacaan Kitab Syaraful Anam atau Barzanji. Selain itu, ada pula kelompok yang mengkhususkan diri membaca syair-syair Maulid. Kelompok ini dinamakan Kelompok Maulid Al Habsyi yang beranggotakan para pemuda dan remaja. Mereka membaca syair Maulid menggunakan alat semacam gendang seperti rebana yang dinamakan tarbang dilengkapi seperangkat sound system.

syair maulid dibacakan dengan nyaring dan irama yang merdu

syair maulid dibacakan dengan nyaring dan irama yang merdu

Bila warga yang punya hajat ingin mengundang kelompok ini kerumah mereka, cukup mengganti ongkos transport. Tidak ada tarif khusus yang mereka patok. Sedang alat seperti tarbang dan sound system, disiapkan oleh mereka. Hal ini berbeda dengan kota lain di Kalimantan Selatan, seperti Kota Martapura atau Kota Rantau misalnya. Di kota itu, Kelompok Maulid Al Habsy biasanya mematok harga bila ingin mengundang mereka.

Selain undangan wajib, yaitu kelompok Handil Maulud, sang empunya hajat mengundang sanak saudara, kenalan dan handai taulan. Para undangan ini biasanya datang mulai pagi hingga sore hari. Sedang malam hari dikhususkan bagi kelompok Handil Maulud.

Acara puncak dilaksanakan malam hari sesudah Shalat Isya. Mereka berduyun-duyun menuju kampung yang sedang menyelengarakan, sehingga kampung  itu menjadi ramai. Jika semua rombongan sudah hadir, panitia melalui pengeras suara akan membagi undangan dan menunjukkan rumah yang akan menjamu kelompok masing-masing. Secara serentak, dengan aba-aba dari panitia, dimulailah pembacaan syair Maulid dan shalawat, yang diakhiri dengan doa.

Kemeriahan Maulid tidak hanya pada malam hari. Pagi, siang hingga sore hari disaat para kerabat, teman dan kenalan berdatangan. Jalan-jalan kampung akan penuh sesak, hingga tak jarang ruas jalan di daerah yang menyelenggarakan Maulid menjadi macet. Berbeda dengan perayaan saat malam. Undangan atau saruan (datang memenuhi undangan atau kekondangan, red) siang ini tidak pakai acara apapun. Begitu undangan datang, langsung disuguhi makanan, berbincang sebentar, lalu pulang. Itu saja.

Ada tradisi unik untuk para teman atau kerabat yang saruan. Biasanya, bila undangan datang suami istri, mereka membawa 1 Kg gula pasir sebagai buah tangan untuk si empunya hajat. Ketika pulang, ganti sang empunya hajat yang manyangui (membekali, red) mereka dengan nasi dan lauk. Tapi bila yang datang hanya suami atau pria saja, biasanya tanpa membawa apa-apa dan ketika pulang, diapun tak disangui apa-apa, selain perut yang kenyang.

Itulah mengapa di Kota Barabai, Maulid juga disebut Maulut atau Mulut saja oleh anak remaja. Hal itu diartikan kurang lebih sebagai acara makan-makan. Karena mereka datang memenuhi undangan hanya untuk menjejali mulut dengan makanan yang memang disediakan beragam.

Realita kegiatan Maulid yang dilakukan urang (Orang atau warga atau penduduk, red) Kota Barabai selama satu bulan penuh, menjadi masalah tersendiri bagi mereka yang mempunyai banyak kenalan. Karena mereka harus memenuhi undangan setiap hari. Bahkan bukan hanya disatu tempat, tapi dalam sehari bisa mendapat undangan sampai lima. Bila sudah begini, hidangan hanya bisa disantap dirumah pertama yang didatangi. Sisanya cukuplah mencicipi kue yang disediakan. Karena untuk menolak atau tidak saruan, dirasa kurang sopan.

Selain kemeriahan dan ajang silaturahmi massal, menambah rasa cinta kepada Baginda Nabi dan suasana yang eksotik serta kekeluargaan yang kental, bulan Maulid kadang dirasa sedikit memberatkan. Terutama bagi mereka yang kurang mampu. Hal ini terkait dengan tradisi saruan dengan membawa gula pasir sebagai buah tangan.

Bagi mereka yang kehidupannya pas-pasan, membeli 1 Kg gula pasir bukanlah hal mudah. Keadaan ini terkadang membuat mereka yang kurang mampu terpaksa kada tulak saruan (tidak memenuhi undangan, red). Walaupun untuk itu, mereka terpaksa menanggung malu karena sangsi sosial yang diberikan masyarakat sekitar.

Sebenarnya tidak ada kewajiban atau aturan yang mengharuskan saruan membawa buah tangan. Tetapi, tradisi ini melekat begitu erat dimasyarakat Barabai. Mungkin saja sebagai perwujudan sosial kemasyarakatan, sifat gotong royong dan bantu membantu terhadap sesama. Namun terkadang, mereka yang tidak membawa buah tangan mendapat sangsi sosial dimasyarakat. Terutama ibu-ibu yang senang bergosip dengan dikatakan kada tahu dibasa (tidak punya sopan santun, red). Dan ini sungguh menyakitkan bagi mereka yang tak mampu.

Banyak keunikan dan hal-hal menarik dari ritual dan prosesi Maulid ini. Keinginan yang sangat kuat untuk dapat melaksanakan acara Maulid, mendorong warga menjadi lebih rajin. Setidaknya dalam hal mengumpulkan uang dan bainguan hayam (memelihara ayam, red). Niatan untuk melaksanakan Maulid, tidak datang dengan tiba-tiba, tapi penuh persiapan yang matang. Hingga warga jauh-jauh hari sudah memelihara beberapa ekor ayam yang nanti akan dipotong dan digunakan sebagai lauk. Jadilah bulan Maulid ini juga sebagai bulan manyumbalih hayam (bulan memotong atau menyembelih ayam, red).

Sesuai tradisi, para undangan yang datang, sebelum disuguhi nasi dan lauk biasanya disuguhi teh manis, wadai (kue,red). Selain itu, sang empunya hajat senantiasa melengkapi hidangannya dengan buah-buahan. Jadilah ritual saruan di bulan Maulid betul-betul mengasyikkan, menyenangkan dan menyehatkan. Apalagi bagi mereka yang memang senang makan.

Inti pelaksanaan Maulid bagi urang Barabai adalah bukti kecintaan kepada Rasulullah. Walaupun pada urang Barabai, Maulid memiliki pola pendekatan yang sedikit berbeda. Maulid bagi mereka, sekaligus sebagai alternatif hiburan religius dan kenduri, selain ajang silaturahmi dan rasa kekerabatan yang tinggi. Agak berbeda mungkin dengan urang Martapura yang memandang Maulid sebagai suatu pilihan.

Karena dianggap sebagai alternatif hiburan religius dan kenduri, maka wajarlah bila perayaan Maulid didaerah ini sangat berbeda dengan daerah lain. Bagi mereka pecinta makanan, inilah saat yang tepat untuk mengaflikasikan kegemarannya. Karena di bulan ini, sangat mudah menemukan makanan beraneka ragam.

Mulai dari menu tradisional seperti soto banjar, rawon, katupat kandangan, masak habang, garih haruan, wadai bolang, gado-gado, opor, sate, hingga menu internasional seperti kentucky ala Amerika, disajikan secara prasmanan.

Tak ketinggalan, menu masakan bercita rasa Timur Tengah, nasi samin. Masakan nasi berlemak dengan lauk daging kambing ini, disajikan dalam nampan besar yang dimakan secara bersamaan oleh beberapa orang. Unik, eksotik dan menarik.

Tamat

40 Tahun Perjuangan Balangan

“Kapan Layangan Kita Naikkan”


Bagian Kedua

Lambang daerah dibuat sarat makna. Tak ada dibuku sejarah, diacuhkan

Pasca lepas dan berdirinya Balangan sebagai kabupaten, lantas disiapkan sebuah lambang kedaerahan. Lambang itu sendiri dibuat berbentuk perisai dengan warna dasar hijau, hitam dan merah. Pada perisai tergambar kapas dan padi, susunan batu bata, piring, tangkai pena, persegi empat trapezium, kubah mesjid, bintang, benteng, batung batulis dan tulisan SANGGAM pada sehelai pita putih.

Hijau yang mendominasi perisai berarti kesuburan atau kemakmuran. Namun bisa pula diartikan sebagai kemuliaan dan keagungan. Warna hitam dimaknai sebagai keberanian atau kesanggupan. Sedang merah diartikan sebagai kesucian dan kesejukan. Bentuk perisai sendiri dimaknai sebagai kemampuan untuk mempertahankan diri dari segala rintangan.

Gambar kapas yang berjumlah 17, rantai yang berjumlah delapan dan padi yang berjumlah 45, melambangkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI. Sedang kapas dan padi bermakna kekayaan sumber daya alam dan mata pencaharian masyarakat Balangan, serta rantai sebagai lambang pemersatu.

Susunan batu bata dengan 4 pilar berwarna merah, melambangkan Benteng Tundakan, benteng pertahanan Pangeran Antasari. Piring berwarna hitam melambangkan tempat bersejarah di wilayah Balangan yang dikenal dengan nama Batu Piring. Daerah ini dikenal sebagai tempat  yang mengandung sumber daya alam untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat.

Tangkai pena berbentuk bambu runcing berwarna kuning, melambangkan batung batulis yang merupakan bahan utama dari mahligai Puteri Junjung Buih dan semangat perjuangan rakyat Balangan. Mata pena digambarkan menancap kedalam piring berwarna hitam, melambangkan investasi sumber daya manusia yang menjadi prioritas pembangunan guna mewujudkan kesejahteraan dan kemandirian.

Persegi empat Trapesium di kiri dan kanan tangkai pena, berbentuk huruf O dan D berarti otonomi daerah. Kubah Masjid berwarna hijau, melambangkan ketaatan umat dalam melaksanakan ajaran agama. Bintang berwarna Kuning melambangkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa, sesuai Pancasila.

Batung batulis sebagai tangkai pena digambarkan sebanyak 3 ruas, mengandung arti 003 atau tahun 2003, yang  secara keseluruhan mengandung makna 8 April 2003, sebagai  peresmian berdirinya Kabupaten Balangan. Tulisan (Soka) lambang Sanggam pada sehelai pita berwarna putih, berarti kesanggupan melaksanakan pembangunan yang didasari keihklasan untuk segenap lapisan masyarakat.

Ditinjau dari sisi sejarah, khususnya pada masa perjuangan fisik melawan Belanda, Balangan memang berbeda dari HSU. Pertahanan Kota Amuntai kala itu dipegang oleh pemerintahan militer Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV Kalimantan, dengan sebutan  BN 5, sedang Paringin punya kode R 27 – B. Dalam perjalanannya, Balangan pernah menjadi kawedanan yang membawahi enam kecamatan dan satu perwakilan kecamatan.

Secara de jure, Balangan resmi menjadi kabupaten setelah turunnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan. Selasa, 8 April 2003, Hari Sabarno, Menteri Dalam Negeri masa itu, meresmikan keberadaan kabupaten ini.

Kini, meski baru kurang lebih enam tahun berdiri, tak banyak orang Balangan yang mengetahui secara rinci makna lambang kabupaten mereka. “Saya tidak mengerti masalah seperti itu. Bagi saya, sama saja Balangan sebagai kabupaten atau tidak. Apalagi makna lambang, mana saya tahu,” ujar Masniah (65), seorang pemilik warung minum di Kota Paringin yang mengaku sebagai urang (penduduk, red) Balangan asli.

Masniah, yang dilihat dari umurnya boleh jadi dimaklumi bila tidak mengerti dan tidak mau tahu urusan seperti itu. Namun sayangnya, Putri, seorang pelajar salah satu Sekolah Menengah Umum di Balangan, mengatakan hal serupa. Meski dengan alasan yang berbeda.

“Nggak ada dibuku sejarah, tuh!” ujarnya polos.

Tamat

Pengantar:

Satu hari sebelum tulisan ini diterbitkan, aku baru punya kesempatan ke Kota Paringin, Ibu Kota Kabupaten Balangan. Berangkat sekitar pulul 09:00 WITA dari Kota Barabai, aku hanya punya waktu sekitar enam jam untuk mengumpulkan bahan tulisan dan wawancara. Sekitar pukul 17:00 WITA, aku kembali ke Kota Barabai dan baru setelah selesai sholat Magrib bisa mulai menulis. Akhirnya, dengan ketergesaan dan keterbatasan, sekitar pukul 08:00 WIT, tulisan ini baru bisa ku kirim ke redaksi di Banjarmasin.

* * *

“Kapan Layangan Kita Naikkan”

Suasana sekretariat PPKB di Paringin menyambut kedatangan tim Departemen Dalam Negeri yang dipimpin Mendagri Hari Sabarno, 8 April 2003

Suasana sekretariat PPKB di Paringin menyambut kedatangan tim Departemen Dalam Negeri yang dipimpin Mendagri Hari Sabarno, 8 April 2003

Bagian Pertama

Empat puluh tahun berjuang hingga harus mengeluarkan tiga resolusi. Bermain layang-layang menjadi penyemangat

Tak banyak yang tahu, bila sebenarnya, empat  puluh tahun lamanya masyarakat Balangan memperjuangkan berdirinya kabupaten itu, melalui beberapa tokoh yang tergabung dalam Panitia Penuntutan Kabupaten Balangan  (PPKB). Dipimpin oleh Maskampiun dengan Sekretaris Umum M. Saderi Utal, PPKB mengeluarkan “Resolusi Pertama” pada 13 Desember 1963. Namun, tuntutan melepaskan diri dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), tak membuahkan hasil.

Lima tahun kemudian, tepatnya 29 Juli 1968, PPKB periode berikutnya yang diketuai M Kurdi B, menyampaikan “Resolusi Kedua”. Kala itu beredar kabar, DPRD HSU telah menyetujui pemekaran Balangan menjadi kabupaten. Kenyataannya, tidak satu pun keputusan wakil rakyat di Kota Amuntai yang membenarkan desas-desus itu. Alhasil, resolusi kedua inipun menemui jalan buntu.

5 April 1999, Almarhum H Suhailin Muchtar yang kala itu menjabat Bupati HSU, pernah melontarkan pernyataan berbau provokatif. “Kapan layang-layang kita dinaikkan?” ujarnya di hadapan peserta Dialog Aspirasi Masyarakat Balangan, di sekretariat PPKB di Kota Paringin. Pertanyaan Bupati HSU dua periode (1992 – 2002) ini sarat kiasan, walau boleh jadi dianggap provokatif oleh sebagian kalangan.

Mungkin sadar pernyataannya bisa membuat penafsiran beragam, kiasan itu buru-buru disambung Suhailin.”Bukankah sekarang musimnya orang bermain layang-layang?”, ujarnya lagi. Namun, apapun maksud dan makna kata-katanya kala itu, warga Balangan sepakat mengartikannya sebagai:  kapan rakyat bergerak lagi untuk memperjuangkan berdirinya kabupaten Balangan?

Pernyataan kiasan oleh seorang Suhailin, membuat situasi politik pada masa itu memanas. Gelombang unjuk rasa menuntut pemekaran suatu daerah, baik menjadi kabupaten maupun provinsi, terjadi dimana-mana. Boleh jadi, inilah yang dikiaskan Suhailin sebagai “musimnya orang bermain layang-layang.”

Suhailin, putera Balangan yang memimpin HSU itu, seperti hendak menyindir PPKB. Karena kenyataannya, PPKB pasif selama bertahun-tahun. Ia “memanas-manasi” PPKB agar bergerak. Dukungan untuk bergerak pun datang dari berbagai elemen masyarakat dan organisasi kepemudaan di Kota Paringin.

Maka, tak lama setelah pertemuan itu kepengurusan PPKB kembali diaktifkan. Manis sekali apa yang diistilahkan oleh Idham Chalid, salah seorang pengurus PPKB, yang menyebutnya sebagai “penyegaran” kepengurusan. Rapat pun diadakan berpindah-pindah. Di sekretariat PPKB (di kemudian hari pernah menjadi kantor Bupati Balangan, lalu jadi komplek perkantoran Dinas Perhubungan dan Dinas Pertambangan Balangan, sekarang Sekretariat KPU Balangan, red), di kantor Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) HSU  (SKB Balangan sekarang, red), di posko PPKB (losmen “Balangan” milik Drs Abdul Syukur), juga di kediaman Idham Chalid di Jalan Ki Hajar Dewantara, Paringin Barat.

Hasilnya, 13 Mei 1999, di bawah kendali Ketua Umum H  Syakhrani Aseng, PPKB mengeluarkan “Resolusi Ketiga”. Dalam resolusi itu mereka menuntut Balangan lepas dari HSU, menjadi pemerintahan yang definitif. Resolusi yang tinjauan ilmiahnya dikerjakan oleh Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ini, diserahkan kepada DPRD HSU pada 17 Mei 1999. Dan dalam hitungan bulan, segenap wakil rakyat di Kota Amuntai, secara bulat mengeluarkan keputusan: HSU merelakan Balangan berpisah dan menjadi kabupaten mandiri.

bersambung