Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2009

Pengantar:

Aku masih ingat betul. Dalam buku sejarah, sejak aku duduk dibangku SD hingga SMU, sepak terjang Ibnu Hajar selalu digambarkan dan dikatakan sebagai “Penghianat”dan “Pemberontak”. Namun anehnya, almarhumah ibuku justru menceritakan hal sebaliknya. Ibu yang seperti juga Ibnu Hajar, adalah urang asli Kandangan. Meski menurut pengakuannya tidak pernah bertemu langsung, namun dengan lugas ibu bercerita tentang suasana tempo doeloe kala pasukan yang dipimpin Ibnu Hajar meluluhlantakkan pasukan kolonial Belanda. Bahkan, dengan lantang ibuku pernah berkata, “Pemerintah kita telah melakukan kesalahan besar!”.

Wahai, akupun menjadi bingung. Untuk mendebat ibuku dengan pengetahuan yang didapat dari buku sejarah, jelas tak mungkin. Karena dibuku-buku sejarah itu hanya tertulis, “Ibnu Hajar Pemberontak” dan “Ibnu Hajar Penghianat”. Tidak kurang, tidak lebih. Titik.

Nyaris tidak ada literatur yang mengupas sepak terjang Ibnu Hajar secara keseluruhan. Ada memang, seperti yang ditulis Van Dijk, misalnya. Tapi kenyataannya, tulisan itupun menyudutkan dan cenderung menyimpang dari realita sejarah yang terjadi di bumi Antaluddin (sebutan untuk Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Karena pada tulisannya, penulis Belanda yang nota bene pernah menjajah negara kita itu, dengan semena-mena menghubungkan Ibnu Hajar dengan agama.

1994, pertengahan. Saat melaksanakan Rain Forest Expedition bersama kawan-kawan Mapala Fisipioneer, FISIP UNLAM Banjarmasin, aku bertemu seorang mantan anak buah Ibnu Hajar. Satu malam penuh kami berbincang tentang sang tokoh.

Kini, 14 tahun setelah pertemuan itu, aku baru bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Salah satunya, karena kini aku tinggal di Kota Barabai yang hanya berjarak sekitar 40Km dari Kota Kandangan. Hal itu memudahkan aku untuk melakukan investigasi tentang sosok Ibnu Hajar di kota kelahirannya.

Selain untuk Sinar Kalimantan, tulisan ini kupersembahkan untuk ibunda tercinta, Alm Bariah. Syukurlah dahulu aku tidak mendebat ibu. Karena kini ku tahu, ternyata yang ibu katakan dulu tidak salah….

* * *


Pahlawan Yang “Dinodai”

Bagian pertama

Kemerdekaan bangsa, awal kepahitan. Dilucuti, ditipu dan tertipu.

1960, disuatu siang. Dari pinggiran hutan dikaki pegunungan Meratus, jauh dari keramaian Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, terdengar rentetan bunyi senjata yang ditembakkan.

Kaderi meloncat kaget. Keterkejutan membuatnya tak lagi sempat meraih senjata. Pikirannya hanya satu, menyelamatkan Ainah, istrinya. Cepat diraihnya tangan Ainah dan menariknya, berlarian diantara desingan peluru. Ainah yang berlari setengah terseret, tak sempat untuk sekedar protes. Ia hanya bisa memegangi sarungnya yang nyaris melorot.

Sambil meneriakkan Allahu’akbar, Kaderi terus menyeret istrinya. Melesat meniti sebatang kayu yang melintang diatas sungai kecil, masuk kedalam lebatnya hutan. Tidak, Kaderi tidak berlari, lebih tepat bila dikatakan ia sedang terbang. Hanya saja lebih rendah.

“Hanya Allah yang bisa menyelamatkan kami,” menerawang mata tua Kaderi mengingat peristiwa puluhan tahun silam.

Itulah penggalan cerita Kaderi, salah seorang anak buah Letnan Dua Ibnu Hajar, Komandan Pasukan Penggempur Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan, yang dikemudian hari, tanpa ampunan dicap sebagai pemberontak oleh pemerintah.

Cerita itu sendiri dituturkan Kaderi sekitar pertengahan 1994. Ketika secara tak sengaja bertemu di rumahnya, di Desa Hampang, Kecamatan Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu. Saat bertutur, ia berusia 82 tahun. Bisa jadi kini Kaderi telah tiada. Namun kisahnya tentang keheroikan seorang Ibnu Hajar, tak lekang dimakan waktu.

Semalam penuh Kaderi berkisah tentang sang Komandan yang sangat diseganinya. Raut mukanya memerah, ketika mengingat betapa oleh pemerintah Ibnu Hajar dicap sebagai pemberontak.

“Beliau tinggi besar, berkulit putih bersih. Seluruh badannya ba-rajah (dipenuhi rajah, red). Beliau bukan pemberontak! Beliau menjunjung tinggi syariat Islam dan kecewa atas kebijakan Soekarno dengan langkah demobilisasi yang tidak adil,” berkata Kaderi dengan lantang. Luar biasa, perkataan itu keluar dari mulut seorang warga biasa yang tinggal ditengah hutan, jauh dari peradaban modern.

Melihat jauh kebelakang, pasca kemerdekaan Republik Indonesia, sejarah banua ini mencatat sepak terjang para pejuang yang tergabung dalam Divisi IV ALRI. Dalam opreasi militernya, mereka berhasil membuat pemerintah Belanda merasa terancam. Kekuasaan dan pengaruh mereka, mencapai jauh kepelosok dan terasa hingga ke Banjarmasin. Keadaan ini, membuat Belanda kesulitan membuka hubungan dengan Pelabuhan Udara Ulin (Bandara Samsyudinnor sekarang, red).

Keberhasilan Divisi IV ALRI tak bisa dipisahkan dari peran tokoh-tokohnya, seperti Hasan Baseri, H Aberani Sulaiman, Gusti Aman, Aria, dan Budhi Gawis. Selain itu, terdapat nama-nama lain seperti Ibnu Hajar, H Damanhuri, Martinus, Daeng Lajida, Rusli Panangah dan Abdurrahman. Mereka-mereka inilah para komandan pasukan penggempur dari Divisi IV ALRI.

10 November 1949, atas kebijakan pusat Divisi IV ALRI dirubah menjadi Divisi Lambung Mangkurat. Hasan Baseri kala itu, tetap sebagai komandan. Namun, perubahan Divisi IV ALRI menjadi Lambung Mangkurat, membuat posisi Hasan Baseri mengalami mobilitas vertikal yang menurun.

Walaupun tetap sebagai komandan, Hasan Baseri tidak menjadi panglima untuk seluruh Kalimantan. Panglima Tentara dan Terotrium (VI) malah dijabat oleh orang pusat, Letnan Kolonel Sukanda Bratamanggala, mantan tentara KNIL. Sedang Hasan Baseri “hanya” dijatah sebagai Komandan Sub Wilayah III, yang meliputi wilayah Banjar (Dijk, 1983: 224).

Banyak mantan prajurit Divisi IV ALRI dimutasi ke Kalimantan Timur, Tenggara dan Barat. Sebagian bahkan dikirim ke Jawa Barat untuk menumpas Darul Islamiyah (DI). Selain itu, kader tokoh sentral banua (sebutan untuk wilayah Kalimantan Selatan, biasanya mengacu kepada penduduk, red) dicerai-beraikan ke berbagai daerah, agar tidak ada lagi sisa-sisa kewibawaan Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan.

Termasuk Ibnu Hajar dan kawan-kawan, mereka disekolahkan militer ke Yogyakarta. Tragisnya, ternyata tempat itu telah ditutup setahun sebelumya. Entah kenapa pemerintah pusat mengirim pejuang ke sekolah yang sudah ditutup. Tipuan yang menyakitkan!

bersambung

Read Full Post »

Pahlawan Yang “Dinodai”

Bagian Kedua

Kekecewaan. Ketertipuan. Agama diikutsertakan. Dikambing hitamkan. Dimanfaatkan gerombolan perampok hingga maling ayam.

Bagaimana dengan Hasan Baseri. Akankah nasibnya lebih baik? Hasan Baseri yang peran sentralnya telah dirapuhkan, disekolahkan ke Mesir. Ternyata, di sanapun sia-sia belaka. Bahkan, ketika mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Selatan tahun 70-an, ia terjungkal oleh ketidaksolidan sesama urang banua (sebutan untuk orang Banjar, penduduk asli Kalimantan Selatan yang beragama Islam, red), yang lebih menjagokan Brigjen Subardjo. Hasan pun semakin terkucil dalam lingkungannya. Seorang yang kalah, “anak yatim” yang tidak memberi banyak manfaat bagi orang sekitarnya (Taufik Arbain, Idabul, Mei 2008).

Kondisi ini memunculkan kekecewaan dari mantan prajurit Divisi IV ALRI. Salah satunya adalah Letnan Dua Ibnu Hajar, pemimpin gerilya di Kota Kandangan. Kristalisasi rasa kecewa, mendorongnya membentuk organisasi gerilya baru, Kesatuan Rakyat Indonesia yang Tertindas (KRIyT) (Dijk:229).

Dari namanya, jelas terbersit rasa tertipu dan kekecewaan Ibnu Hajar dan mantan Divisi IV ALRI lainnya. Menurut Dijk, penyebab kekecewaan mereka adalah persoalan demobilisasi. Demobilisasi dan rasionalisasi membuat kepribadian khusus dari Divisi ini terpuruk. Salah satu ciri yang menonjol dari Divisi ini adalah, teguhnya ajaran Islam yang mereka anut. Banyak yang menyebutkan, Divisi ini telah melakukan upaya-upaya memajukan agama Islam dan syariatnya dipedesaan, hingga disukai rakyat. Hal itu sejalan pula dengan keteguhan dan kefanatikan ajaran Islam yang dianut urang Banua.

“Syariat Islam begitu kuat. Bila ada dari kami yang tidak melaksanakan Sholat atau puasa, akan dihukum dengan berendam di air,” ujar Kaderi menyoal kerasnya penerapan Syariat Islam oleh komandan mereka.

Pada perjalanannya, kerasnya Syariat Islam yang dianut Ibnu Hajar dan anak buahnya, digunakan pemerintah sebagai pembenar untuk menumpas mereka. Tanpa mau melihat kultur masyarakat Banjar yang memang fanatik terhadap agama Islam, kelompok Ibnu Hajar justru dijerumuskan dalam jurang kepecundangan. Dengan diisukan sebagai kelompok yang ingin mendirikan negara Islam.

Ketidak puasan terhadap keputusan pemerintah, semakin meruncing ketika banyak jabatan penting diduduki oleh orang luar Kalimantan, khususnya dari Jawa dan orang-orang yang telah berkolaborasi dengan Belanda. Mereka mengajukan tuntutan ke pusat agar pejabat-pejabat tertentu dalam pemerintahan sipil, militer dan kepolisian dimutasikan. Tetapi tuntutan itu tak pernah digubris.

Ditambah lagi kelakuan baagak, koyo (angkuh, sombong, red) dan sok dari para mantan tentara KNIL itu, semakin memanaskan perasaan dan melahirkan anti Jawa pada masa itu. Penderitaan yang dirasakan para pejuang banua akibat tersisihkan, memicu Ibnu Hajar alias Saderi untuk melakukan perlawanan ketidakadilan kepada Republik ini (Taufik Arbain, Idabul, Mei 2008). Sebuah perlawanan yang wajar bila dilihat dari sisi keterpurukan seorang Ibnu Hajar.

Atmosfir ini menaikan pamor Ibnu Hajar dan KRIyT-nya di kalangan mantan prajurit Divisi IV ALRI dan urang banua umumnya. Dalam aksinya, Ibnu Hajar menggunakan taktik perang gerilya. Aktivitas aksi mereka meluas ke wilayah Barabai, Birayang, Batumandi, Paringin, Kelua dan Kandangan.

Pengerahan pasukan oleh pemerintah pusat dalam memberangus perlawanan Ibnu Hajar, tak mendulang sukses. Pasalnya, tentara yang diperintahkan memburu mereka walaupun dikomandani orang luar, anggotanya masih urang banua jua. Kharisma sang mantan komandan, membuat mereka tak sanggup melakukan sebuah pemberantasan.

“Tentara pemerintah yang menyerang kami, biasanya hanya pura-pura. Senjata ditembakkan keudara seolah tengah berperang. Tak lama, merekapun kembali dan meninggalkan senjatanya. Dengan begitu, kami tetap mempunyai senjata untuk bergerilya,” mata tua Kaderi berkaca-kaca sepanjang ia bertutur. Bila juga harus berperang, ujar Kaderi, hanya prajurit non banua yang dibunuh.

Sayangnya, perlawanan yang merupakan presentasi atas kekecewaan terhadap kebijakan Jakarta itu, dinodai oleh prilaku sekelompok gerombolan liar. Segelintir orang mengaku sebagai anggota kelompok Ibnu Hajar. Mereka melakukan pembunuhan, perampokan, atau bahkan sekedar minta jatah makan kepada penduduk. Tak jarang mereka menculik gadis-gadis kampung yang diinginkan. Padahal, mereka tak lebih dari segerombolan perampok, penyamun dan maling yang memanfaatkan situasi. Kekacauan yang terjadi, membuat masa itu oleh masyarakat dikenal sebagai zaman gerombolan.

Penodaan ini akhirnya membuat image buruk terhadap perjuangan Ibnu Hajar. Stempel pemberontak yang terlanjur dicapkan, sedikit demi sedikit mendapat legalitas. Ketidaktahuan dan kebodohan masyarakat, menjadikannya berakar dan memudahkan pemerintah dalam memojokkan Ibnu Hajar.

bersambung

Read Full Post »

Pahlawan Yang “Dinodai”

Bagian Ketiga

Dijatuhkan ke jurang kenistaan. Bungkam, tak berani bicara. Membara, namun tak mampu untuk berkobar. Ibnu Hajar, Seakan tak pernah ada.

Dalam perjalanannya, pemerintah bahkan dengan licik mendiskreditkan kelompok Ibnu Hajar sebagai penjahat yang harus ditumpas. Nasib kelompok penentang ini tak beda jauh dengan PKI, hanya saja berbeda visi. Kesan dan pesan yang ditonjolkan pemerintah selalu berkesan miring. Bahkan, setelah Ibnu Hajar tertangkappun, tak sedikit belas kasihan pemerintah untuk sekedar mengenang jasa perjuangannya. Dengan tanpa perasaan, Ibnu Hajar dicap sebagai PEMBERONTAK. Dijatuhkan kedalam jurang kenistaan tanpa secuil pengampunan dan pengakuan.

Akibatnya, tak seorangpun keturunan dan kerabat Ibnu Hajar yang berani berkata lantang bahwa ia masih bertalian darah dengan sang legenda. Ketakutan dan intimidasi dari pemerintah, membuat mereka bungkam, hingga kini. Setali tiga uang, para pengikut Ibnu Hajar yang masih hidup tak seorangpun berani berbicara tentang sosok sang komandan. Kekaguman, loyalitas dan penghormatan, hanya dapat mereka pendam dalam hati. Membara, namun tak mampu untuk berkobar. Dan semua itu, hanya dapat mereka bawa keliang lahat.

Bukan hanya itu, kehebatan dogma pemerintah sanggup menenggelamkan sedalam-dalamnya sosok sang Letnan Dua. Semua mulut menjadi terkunci manakala nama Ibnu Hajar dimunculkan. Satu persatu orang beringsut pergi dan membuang muka. Bukan mereka tidak menghargai atau menghormati sang tokoh, tapi lebih dikarenakan takut dituduh sebagai salah seorang anak buah Ibnu Hajar. Karena bila tuduhan itu terlanjur dilekatkan, alamat orang itu tidak bisa memiliki hak apapun di Republik yang demokratis ini.

Di Kota Kandangan, Desa Ambulung tempat Ibnu Hajar tertangkap, Desa Padang Batung yang merupakan sentra perjuangan Ibnu Hajar, atau tempat manapun di Hulu Sungai Selatan, masyarakat seakan tak pernah mengenal siapa Ibnu Hajar. Mereka hanya berani berbicara dipojok warung atau disudut pos ronda, sebatas diantara mereka saja. Begitu kejamnya penistaan yang dilakukan pemerintah, membuat mereka “terpaksa” menenggelamkan sosok urang Banua luar biasa ini. Ibnu Hajar, seakan tak pernah ada.

Kesulitan menenangkan gejolak perlawanan Ibnu Hajar, pemerintah akhirnya menggandeng tokoh lokal untuk membujuk sang komandan. Tokoh-tokoh kharismatik seperti Hasan Baseri, mantan komandan Ibnu Hajar dan Idham Khalid, politikus NU, didapuk meredam kemarahan sang “pemberontak”, agar mau meletakkan senjatanya.

Akhirnya, berkat pendidikan politik dan adobsi Devide et Emvire kepunyaan Belanda, Juli 1963, Ibnu Hajar diringkus dalam sebuah siasat busuk bertopeng negosiasi. Pengulangan nasib Pangeran Diponegoro. Sama persis, hanya berbeda tempat, waktu dan pelakonnya saja.

Di Desa Ambulung, Ibnu hajar dan pengikutnya diringkus. Namun, sungguh luar biasa patriotik seorang Ibnu Hajar. Ketika ditangkappun ia masih sempat berujar, “Bila negara membutuhkan ku, aku siap mengabdi kepada Republik ini. Aku dan pengikutku, bersedia dilibatkan dalam konfrontasi dengan Malaysia!”. Luar biasa!

Hingga kini, tak seorangpun tahu bagaimana nasib sang “pemberontak”. Tak jua ada khabar dan kepastian tentang keadaan dan keberadaannya. Mengutip syair Asep Irama, bila ia telah meninggal dunia, tunjukkan dimana kuburnya.

Sebagian masyarakat Kota Kandangan meyakini Ibnu Hajar masih hidup. Begitu pula dengan Kaderi. Menurutnya, Ibnu Hajar memiliki peliharaan seekor harimau putih. Bila sang empunya meninggal dunia, harimau itu akan datang, menemui handai taulan dan teman.

“Hingga kini harimau itu tidak muncul. Saya yakin beliau masih hidup. Entah bagaimana keadaannya sekarang,” ujarnya pelan. Tanpa disadarinya, sebulir airmata menetes dari mata tuanya. Mengalir membasahi pipinya yang keriput.

Tamat

Read Full Post »

Sebuah Perjalanan

Pengantar:

Jum’at, tanggal 27 Februari, sesaat sebelum sholat Jum’at, aku ditelpon redaksi yang memerintahkan membuat tulisan  perjalanan hidup Abimayu, mantan vocalis grup band Big Boys di era tahun ‘80-an. Tulisan adalah hasil wawancara, lengkap dengan profil dan kegiatannya kini, setelah tak lagi menjadi berkecimpung didunia musik. Celakanya, saat itu aku sedang berada di Kota Barabai, yang berjarak sekitar 55 Km dari Kota Rantau, tempat tinggal Abi kini. Lebih celaka lagi, tulisan itu akan dinaikkan keesokan harinya, pada rubrik “Apa Khabar” yang panjangnya satu halaman penuh.

Meski menggerutu dan kesal, setelah sholat Jum’at aku terpaksa berangkat ke Kota Rantau. Padahal saat itu, aku hanya punya uang Rp20 ribu. Sesampainya di Kota Kandangan, sekitar 25 Km sebelum Kota Rantau, hujan turun dengan lebatnya. Akhirnya, sekitar pukul 15:00 WIT aku baru bisa melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah Abi, yang bersangkutan belum kembali dari masjid. Satu jam lebih menunggu, akhirnya Abi datang dan wawancara baru bisa dimulai sekitar pukul 16:00 WIT lewat.

Azan Magrib berkumandang ketika wawancara selesai. Keberuntungan ternyata belum juga berpihak kepadaku. Ketika sehabis sholat Magrib dan ke warnet untuk mengetik, listrik tiba-tiba padam. Akhirnya, dengan bersungut-sungut, aku terpaksa ke Kota Kandangan. Sampai di Kandangan, azan Isya menyambutku. Dirumah Fatoy, teman sesama wartawan Sinar Kalimantan, aku berusaha membuat tulisan tentang Abi sebagus mungkin. Sambil gemetaran menahan lapar, tulisan akhirnya selesai dan kukirim ke redaksi di Banjarmasin sekitar pukul 22:30 WITA, 30 menit sebelum tengat waktu yang diberikan redaktur. 15 menit kemudian, baru aku bisa merasakan nikmatnya sate ayam yang disuguhkan istrinya Fatoy.

Dan tulisan itu kini kumuat disini. Agar pembaca di Blog ini tidak merasa bosan arena tulisannya lumayan panjang, maka aku bikin beberapa bagian. Alhamdulillah, entah karena sudah hampir naik cetak atau memang tulisanku bagus (ceileeeh….), keesokan harinya tulisan ini terbit tanpa diedit sedikitpun. Buat kawan-kawan yang membaca tulisan ini, mohon kritik dan sarannya. Terima kasih.

* * *

Dari Rock Ke Jalan Tuhan


abi bersama teman-temannya

abi bersama teman-temannya

abi, saat masih sebagai rocker bersama piala kemenangan

abi, saat masih sebagai rocker bersama piala kemenangan


abi kini

abi kini

Bagian Pertama:


Era 80-an, siapa yang tidak mengenal Big Boys. Sebuah grup musik cadas di banua (sebutan untuk daerah Kalimantan Selatan) ini. Grup Band beraliran keras ini, meroket namanya setelah lolos sebagai finalis dalam Festival Rock Indonesia V. Festival besutan promotor nasional, Log Zhelebour ini pula yang akhirnya menyandingkan Khairul Efansyah atau akrab disapa Arul, vocalis Big Boys waktu itu, dengan Power Metal, band kenamaan dari kota pahlawan, Surabaya.

Sepeninggal Arul, Big boys mengalami kevakuman. Saat itulah masuk Abimayu menggantikan posisi Arul sebagai vocalis. Bersama Abi, sapaan akrab Abimayu, Big boys melanglang buana, manggung kesentero Kalimantan Selatan, Timur dan Tengah. Tentu saja dengan lagu andalan mereka Polusi Kehidupan.

Kini, setelah lebih dari 20 tahun berlalu, tak lagi terdengar tentang Big Boys. Anak muda sekarang tak banyak mengenal grup yang sangat disegani pada zamannya ini. Para personilnya hilang entah kemana. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Seperti Abi misalnya. Pria kelahiran Kota Rantau, Kabupaten Tapin ini, kembali kekampung halamannya. Diusianya yang menjelang 50 tahun, Abi berkutat dengan dunianya yang baru. Jauh dari hingar bingar musik cadas yang identik dengan kehidupan yang keras.

Ketika ditemui dirumah orang tuanya, Jum’at (27/02/09) di Kelurahan Kupang, Kecamatan Tapin Utara, Abi baru saja kembali dari ritual keagamaan. Dirumah bercat kuning  itu, Abi yang kini tak lagi berambut gondrong khas pemusik rock, hidup tenang bersama ibu dan dua orang saudaranya. Di kampungnya, Abi dikenal sebagai pimpinan sebuah majelis pengajian. Sangat bertolak belakang dengan kehidupannya dulu.

Walaupun sepanjang percakapan Abi lebih senang membicarakan aktivitas yang dilakoninya kini, namun berbincang dengan pria yang mempunyai alunan suara khas ini, sungguh mengasyikkan.

“Sekitar tahun ’86 – ’87, saya bergabung dengan grup musik DC 3. saya lupa siapa saja personilnya waktu itu. Yang saya ingat, gitarisnya Nuri dari Grup Sentosa,” Abi memulai cerita.

Kurang lebih satu tahun lamanya mangancang urat gulu (istilah bahasa Banjar untuk berteriak atau bernyanyi dengan keras, red) sebagai vocalis di DC 3, Abi muda yang kala itu masih berusia 24 tahun, hengkang. Selanjutnya, bersama Abu yang mahir memainkan Gitar, Saldi yang piawai menggebuk Drum, Didin yang lihai membetot dawai Bass dan Kribo yang kebagian mencet tuts Keyboard, mereka membentuk grup musik Zet Power.

Tak jelas penyebabnya, namun Zet Power tak bertahan lama. Bersama Mulyadi (Moldy, gitaris grup band Radja sekarang, red), Abi membentuk grup baru yang mereka beri nama Gypsi. Bersama mereka bergabung Harun sebagai tukang gebuk Drum, Wahyu pada Keyboard dan Udi selaku pembetot Bass.

Ketika Abi di Gypsi itulah, Big Boys mulai naik daun. Saat Arul, sang vocalis Big Boys hengkang ke Power Metal, Abi dilirik dan gayungpun bersambut. Karena kebetulan pembetot Bass mereka, Udi, berangkat ke Jakarta, sehingga Gypsi vakum sementara. Kondisi ini dimanfaatkan Abi untuk loncat ke Big Boys menggantikan posisi Arul.

Formasi Big Boys kala Abi bergabung, ada Simson pada Drum, Oyan dan Eben pada Guitar dan Dani pada Bass. Dengan penuh keprihatinan dan keterbatasan, Big Boys melanglang buana, membawakan lagu-lagu mereka.

“Saat itu kami punya lebih dari 24 lagu siap tempur, yang selalu kami bawakan setiap kami manggung. Sayangnya, karena keterbatasan sarana waktu itu, lagu-lagu kami tidak sempat diabadikan dalam bentuk kaset,” Abi menerawang mengingat masa lalu.

Keterbatasan waktu itu, digambarkan Abi dengan kondisi gitar Oyan yang setiap akan tampil mesti di-tangkir (di gyps, diberi penyangga agar tidak patah, red) terlebih dahulu. Saat latihan, mereka menggunakan tape recorder untuk merekam suara.

bersambung

Read Full Post »

Sebuah Perjalanan

Dari Rock Ke Jalan Tuhan

abi saat melakukan perbaikan rumah orang tak mampu

abi saat melakukan perbaikan rumah orang tak mampu


Bagian Kedua:

Tak terasa, Log Zhelebour kembali menggelar ajang Festival Rock Indonesia VI. Abi dan kawan-kawan Big Boys tentu saja tak mau melewatkan kesempatan itu. 12 lagu mereka tawarkan kepada Log untuk ditampilkan. Logpun bingung memilih lagu yang mana, karena semua lagu mereka, menurut Log bagus semua.

“Sayangnya, karena ada beberapa hal yang terjadi, kami tidak bisa mengikuti ajang bergengsi itu,” Abi mendesah sambil mengusap kepalanya yang kini plontos.

Pasca gagalnya Big Boys maju ke ajang festival, personilnya mulai menyibukkan diri masing-masing. Tidak ada pernyataan resmi tentang pembubaran grup itu. Namun seiring waktu, Big Boys tenggelam ditelan zaman

Abi yang tak sempat menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, hijrah ke Surabaya. Sembari melanjutkan kuliah disana, panggilan bermusik tak jua terelakkan. Di kota Pahlawan ini, Abi sempat bergabung dengan grup band Big Phanser. Di grup yang juga beraliran cadas ini, Abi kembali didapuk sebagai vocalis, mendampingi Didik Bledek.

“Di Big Phanser hanya sempat enam bulanan. Saya tidak enak dengan vocalis yang ada. Lagi pula mereka sangat ketat. Setiap hari saya diwajibkan menghapal 10 lagu berbahasa asing,” Abi menggaruk kepalanya yang entah apakah memang betul-betul gatal.

Setelah berhasil menamatkan studinya di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus, Abi kembali ke kampung halaman. Kehidupan keras khas pemusik rock, masih juga terbawa. Seperti kebanyakan pemusik cadas lainnya, Abi berkutat dengan kehidupan yang liar dan hitam. Kehidupan yang digambarkan Abi sebagai lebih mengenal botol (minuman, red) dibandingkan Tuhan.

Saat menjadi musisi, setiap hari Abi berkawan dengan minuman keras. Bahkan, ketika konser di Kota Pagatan, Batu Licin (Kabupaten Tanah Bumbu sekarang, red) menjadi konser yang tak terlupakan baginya. Karena disana, fans mereka punya kesenangan yang sama, yaitu mengkonsumsi anggur Polesum. Jadilah ketika itu, seusai konser bersama fansnya, mereka tabantai (terlentang tak bisa bergerak, red) mabuk.

Kehidupan Abi muda, diakuinya betul-betul matahari alias mabuk tiap hari. Bahkan ketika orang tuanya berangkat ketanah suci Mekkah, Abi mengantarnya dalam keadaan mabuk. Bukan hanya minuman yang akrab dengan keseharian Abi. Sebagai orang muda yang berdarah panas, perkelaian sering dilakoninya, bahkan hingga ke pulau Jawa. Solidaritas pertemananlah yang menurut Abi, mendorong ia melakukannya.

Sampai suatu hari, Abi bermimpi. Mimpi yang dialamiya terjadi tiga malam berturut-turut. Mimpi pertama, mimpi kedua, masih dianggap sebagai bunga tidur. Apalagi waktu bermimpi Abi masih dalam pengaruh banyu bungul (istilah untuk alkohol atau minuman keras, red). Ketika sang mimpi kembali datang ketiga kalinya, Abi tak lagi bisa mengabaikan. Ini suatu pertanda, batinnya.

Dalam mimpinya, Abi mendapati dirinya telah meninggal dunia. Setelah dikafani dan dimasukkan kedalam tabala (tabala, red) serta siap dilempar malaikat ke neraka, Abi meloncat keluar dan berlari. Tiga malam berturut-turut mengalami mimpi yang sama, membuat kesadaran Abi tergugah.

“Setelah itu, saya mengalami paranoid yang luar biasa setiap kali melihat minuman keras. Ketakutan saya akan berakhir seperti mimpi itu, membuat saya tersadar,” Abi menghela nafas. Menunduk, seakan mencoba menutupi matanya yang berkaca-kaca.

Bingung, itulah yang pertama dirasakannya setelah tak lagi mabuk. Ditengah kebingungan hendak berbuat apa, Abi berinisiatif mengumpulkan teman-teman, para pemuda kampung yang berkelakuan sama dengan dirinya. Bersama teman-teman senasib yang sama-sama buta agama dan Al Qur’an, Abi mulai membenahi diri belajar agama, sholat dan mengaji.

“Setelah mengumpulkan teman-teman sesama penjahat dan belajar mengaji, saya membeli buku petunjuk sholat di pasar Rantau. Buku itu harganya Rp 3.750,” Abi terkekeh memperlihatkan giginya yang sebagian mulai berjendela.

Kebetulan salah seorang kerabatnya yang bermukim di Yogyakarta adalah seorang ulama. Kepada Al-Habib Muhammad Effendi Al-Eydrus yang juga Imam Mursyid Thoriqoh Mu’tabaroh dan pimpinan Yayasan Mahkota Mustafa Yogyakarta itulah, Abi belajar agama.

Hingga kini, Abi menjalani hidupnya sebagai seorang muslim yang taat. Meski masih bergaya slengean, tapi ayat-ayat suci Al Qur’an bisa dihafalnya, lebih baik daripada ia menghafal sebuah lagu.

Setiap Jum’at, bersama kawan-kawannya Abi berkeliling dari satu mesjid ke mesjid lainnya, dan melaksanakan sholat Jum’at disetiap mesjid yang berbeda. Setelah lebih dari tiga tahun, kini jumlah mesjid yang pernah dikunjunginya berjumlah 193 mesjid.

Hari-hari Abi diisi dengan belajar ilmu agama dan mengamalkannya untuk masyarakat. Bila Minggu malam, Abi mengikuti pengajian Guru Ardi dari Walang. Bila Rabu malam, bersama teman-temannya Abi menggelar Maulid Ma’mud dan Ratifan. Bukan hanya itu, kepedulian sosialnya sangat tinggi.

bersambung

Read Full Post »

Sebuah Perjalanan

Dari Rock Ke Jalan Tuhan

abi kini lebih mendalami ilmu agama

Bagian Ketiga:


Suatu senja, ditengah hujan deras di Desa Linuh, Kecamatan Bungur, Abi yang kehujanan bermaksud berteduh disebuah pondok. Dari penampilannya, pondok itu seperti tak berpenghuni. Karena selain bobrok dan hampir rubuh, sebagian besar atap pondok sudah tidak ada.

Betapa terkejutnya Abi, ketika masuk kedalam pondok ternyata ada seorang wanita tua disitu. Wanita itu meringkuk kedinginan berselimutkan terpal lusuh dibawah hujan deras. Masya Allah, ternyata sang wanita berdiam dipondok itu.

Abi marah. Marah dan kecewa dengan diri sendiri. Ia merasa sangat bersalah, ketika menyadari kenyataan bahwa masih ada orang yang kehidupannya seperti wanita tua itu. Aku harus berbuat sesuatu, batinnya. Sepulangnya ke Kota Rantau, Abi mengumpulkan teman-temannya. Dari hasil diskusi di cafe pinggir lapangan Dwi Dharma Rantau, diputuskan untuk membantu sang wanita tua.

Berawal dari situlah, kini Abi bersama teman-temannya aktif memperjuangkan kaum papa dan membantu mereka. Dengan dana sumbangan para donatur dan tokoh masyarakat Kota Rantau dan sekitarnya, Abi membangunkan rumah dan tempat tinggal bagi mereka yang tidak mampu. Hingga kini, tak kurang 40 rumah sederhana berhasil dibangunnya untuk mereka yang tak mampu.

Hampir setiap hari, Abi dan kawan-kawannya berkeliling, mencari orang-orang yang kehidupannya sulit. Dari hasil sumbangan, mereka membantu orang tak mampu dengan membangunkan rumah. Bukan hanya itu, kebutuhan hidup yang bersangkutan juga dibantu. Termasuk pengobatan dan bahan makanan seperti beras yang diberikan setiap bulan.

Atas pemikiran bersama, perkumpulan yang mereka sebut sebagai karukunan diberi nama Karukunan Hikmah Tapin. Dikampungnya kini, Abi betul-betul berubah. Meski jiwa bermusiknya tak pernah padam, ajaran agamapun diyakininya dengan sebenar-benarnya.

“Kadang masih suka menyanyi juga. Saya masih sanggup berjingkrak diatas panggung,” ujar Abi seraya melantunkan sebuah tembang bertempo keras. Luar biasa, diusianya yang nyaris separuh abad, Abi masih mampu menyuguhkan karakteristik suara khas seorang rocker

Keinginan untuk reuni dan berkumpul dengan teman-teman sesama pemusik, diakui Abi sangat besar. Hanya saja, kesibukan masing-masing membuat niatan itu selalu tertunda. Bahkan saat berbincang-bincang, Abi sempat menelpon salah seorang pentolan Big Boys, Oyan, yang kini bermukim di Kota Palangka Raya.

“Abi mempunyai karakter vocal khas yang mampu mencapai nada-nada tinggi. Gain-nya menonjol, distorsi-nya serak melengking, pantas disebut sebagai rock vocal. Sayangnya ketika itu kami kurang pintar me-manage diri, jadi seperti mengalir saja. Pribadinya loyal dan memilliki solidaritas yang sangat tinggi terhadap teman,” ujar Oyan melalui sambungan telpon.

Diakui Abi, dirinya masih sering berubungan dengan teman-teman lawas. Bahkan, Moldy yang kini telah sukses di Jakarta, masih sering berkomunikasi lewat telpon. Saat ini, keinginan Abi bisa bernostalgia dan merekam tembang-tembang yang pernah mereka ciptakan dulu. Ia juga berkeinginan mendirikan studio musik di Kota Rantau, agar bisa membimbing musisi muda Kota Bastari (sebutan untuk Kota Rantau, red) menjadi lebih baik dan terarah.

Meski tak sukses dengan perkawinannya, Abi nampak bahagia di setengah abad usianya kini. Aktivitas kemasyarakatan dan keagamaan yang dilakoninya, membuat Abi menjalani hidup lebih tenang

“Seperti dikatakan dalam Al Qur’an, kewajiban kita adalah membantu sesama. Hanya itu yang saya lakukan kini. Hitung-hitung menambal dosa masa lalu,” Abipun terkekeh.

Tamat

Profil:

Nama               : Abimayu

Panggilan        : Abi

Ayah               : H Agus Salim

Ibu                   : Syarifah Aminah

TTL                 : Rantau, tahun 1963

Saudara           : Ariati

Aluha

Yuliani

Purnama

Hendra

Pendidikan      : SD I Rantau

SMP 2 Rantau

SMA I Rantau

Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin

Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Surabaya

Karier Musik   : Grup Band DC 3

Grup Band Zet Power

Grup Band Gypsi

Grup Band Big Boys

Grup Band Big Phanser

Read Full Post »

Bayi Dipagi Hari

Wanita Berkalung Misteri

Sabtu, 14 Februari 2009, pukul 05:30 WITA. Embun tipis masih menyelimuti kota Bastari, Rantau, Kabupaten Tapin. Ikrima (28), ibu rumah tangga warga Jalan Pembangunan, Kecamatan Tapin Utara itu bermaksud bersantai sejenak sebelum memulai aktivitas.

Selesai melaksanakan Sholat Subuh, Ikrima berpikir tak ada salahnya untuk duduk-duduk sebentar. Namun belum lama menikmati kicauan burung di pagi itu, ibu dua anak ini dikejutkan suara ketukan di pintu rumahnya.

Pintu dibuka, seorang wanita mengenakan baju jubah warna hitam, berdiri didepan pintu. Heran, Ikrima mencoba mengenali tamunya. Tapi belum sempat mengenali tamu itu, keheranan Ikrima bertambah. Karena sang tamu tak dikenal dan tak diundang itu, membawa dan menyodorkan sesuatu.

Semua terjadi begitu cepat. Tanpa berkata apa-apa, sang wanita misterius berjubah hitam, menyodorkan sesuatu yang sedari tadi digendongnya. Reflek, Ikrima menerima saja apa yang disodorkan kepadanya.

Secepat itu pula, wanita berjubah hitampun berlalu. Dengan segera ia membalikkan badan dan berjalan dengan cepat. Sementara, Ikrima hanya bisa melongo. Semua nampaknya sudah direncanakan. Karena dikejauhan terlihat seorang lelaki menunggu. Segera setelah sang wanita misterius meletakkan pantatnya diatas jok sepeda motor, lelaki itu langsung tancap gas. Menghilang bersama embun mulai yang memudar.

Sementara, Ikrima yang masih bingung dan terkejut, menjadi panik ketika mengetahui yang disodorkan wanita itu sesosok bayi dengan tubuh masih dipenuhi darah. “Massa Allah….,” Ikrima memekik tertahan. Ketika ia sadar, semua sudah terlambat. Wanita berjubah itu telah lenyap, bahkan raungan motornyapun tak lagi terdengar.

Sebentar saja, Jalan Pembangunan geger. Warga berdatangan ke rumah Ikrima. Mengetahui ada orang yang tega meninggalkan bayinya, beragam komentar keluar dari mulut warga, termasuk sumpah serapah terhadap pelaku.

“Bawa ka rumah sakit,” ujar seorang dari mereka memberi saran. “Lapor Polisi,” ujar yang lain menimpali. Tanpa menyaadari bila celutkan mereka membuat Ikrima tambah bingung.

Akhirnya dicapai kesepakatan. Ikrima membawa bayi itu ke rumah sakit, sementara warga lain melapor ke Polsek Tapin Utara. Sesampai di rumah sakit, dokter segera memberi pertolongan pada sang bayi. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu dibersihkan. Setelah ditimbang, diketahui beratnya 3,3 Kg.

Hingga hari ini, sang bayi tanpa nama masih berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Sanggul Rantau. Oleh para petugas, sang bayi diperlakukan istimewa. Mereka merawatnya dengan penuh kasih sayang, sampai nanti ada yang mengambilnya.

“Siti Valentina Syafariah, itu nama yang kami berikan sementara ini. Sesuai tanggal ditemukan, 14 Februari yang bertepatan dengan hari Valentine. Sedang Syafariah karena bertepatan dengan bulan Syafar,” ujar Risna, seorang perawat RSUD Datu Sanggul sambil membelai pipi sang bayi.

Sementara, petugas kepolisian hingga kini belum menemukan jejak sang wanita misterius berjubah hitam. Begitu juga dengan lelaki yang tak kalah misteriusnya itu, hingga kini belum diketahui keberadaannya. “Masih dalam penyelidikan,” ujar Kapolres Tapin, AKBP Akhmad Shaury.

Siti Valentina Syafariah sangatlah manis. Kulitnya putih dengan rambut hitam lebat. Sayang, belum lama menghirup udara segar, dirinya sudah terlunta-lunta. Kecantikan si bayi membuat banyak warga Kota Rantau berdatangan ke RSUD Datu Sanggul dan bermaksud mengadopsinya. Bahkan, Budi, Kanit Dua Reskrim Polres Tapin merasa simpatik dan jatuh cinta pada pandangan pertama. “Bila dalam beberapa hari tidak ada yang mengaku sebagai ibunya, saya siap mengadopsi,” ujar Budi sambil matanya tak lepas dari sang bayi.

Keprihatinan juga datang dari tokoh masyarakat Kota Tapin, H Rody Iriyadi. Menurutnya, peristiwa ini sebagai gambaran kemerosotan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. “Terlepas apakah pelaku warga Kota Rantau atau bukan, perbuatan itu menunjukkan kemerosotan nilai budaya, moral dan ahlak di masyarakat. Hal itu menunjukkan kesempitan berpikir dan rasa tak bertanggung jawab dari pelaku,” ujarnya.

Entah fenomena apa yang berlaku di masyarakat saat ini. Begitu mudah seorang ibu yang telah merasakan penderitaan mengandung anak selama sembilan bulan sembilan hari, membuang begitu saja hasil perbuatannya.

Simpatik boleh saja ditujukan kepada sang bayi. Namun kemarahan justru ditujukan kepada wanita yang tega membuang darah dagingnya itu.

“Pas ma-ulah tatawa-tawa, pas kaluar dibuang-buang. Dasar kada tahu diri. Mun kada handak ba-tanggung jawab, jangan digawi! (Saat membikin ketawa-ketawa, sudah jadi malah dibuang. Dasar tidak tahu diri. Kalau tak mau bertanggung jawab, jangan dikerjakan – red)” ujar seorang warga bersungut-sungut.

Tamat

Read Full Post »

Older Posts »