Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2009

Pengantar:

Minggu, 14 Desember 2008, pemerkosa seorang nenek berusia 85 tahun tertangkap. Keesokan harinya, Senin (15/12/08) peristiwa itu aku naikkan dalam bentuk straigh news. Hari itu juga, atas permintaan redaksi aku kembali membuat berita itu untuk terbitan Selasa (16/12/08), dilengkapi pernyataan nara sumber selain kepolisian. Alhasil, berita itu menjadi Head Line halaman satu diharianku, Sinar Kalimantan, selama dua hari berturut-turut. Dan Selasa itu juga, redaksi kembali memintaku membuat tulisan tentang kasus unik ini, dalam bentuk features untuk diterbitkan Rabu (17/12/08).

Mulanya aku sempat ragu membuat features ini. Aku bahkan beberapa kali menelpon redaktur dan mengkonsultasikannya. Namun karena redaktur berkeras (dan aku juga takut gaji tidak dibayar, hi hi…), akhirnya kuberanikan diri menulisnya.

Keraguanku beralasan. Aku takut bila kasus ini terlalu diekspose akan membuat pihak keluarga korban malu, karena ini adalah aib bagi mereka. Yang lebih kutakutkan lagi, akan memicu amarah mereka terhadap keluarga pelaku. Terpikir juga betapa sulitnya melakukan wawancara dengan keluarga pelaku. Namun syukurlah, semua berjalan lancar hingga features ini bisa kubuat dan sukses terbit tiga hari berturut-turut, Rabu, Kamis dan Jum’at.

Di Blog ini, features kubagi tiga seperti yang diterbitkan. Kepada teman-teman yang membaca, mohon kritik dan saran. Terima kasih.

* * *

Bagian Pertama

Senja nan indah berakhir petaka. Tak berdaya, Dzikir tak mampu luluhkan hati yang hitam. Ternoda dan tak berdaya

rizkani, didepan jendela tempat wahyudi masuk

rizkani, didepan jendela tempat wahyudi masuk

Senja itu. Seperti senja-senja lain yang sudah puluhan tahun dilaluinya, nenek Melati (sebut saja demikian), wanita renta berumur 85 tahun iti berjalan perlahan, tertatih menuju jendela rumahnya.

Perlahan, bergetar tangan tuanya meraih daun jendela. Namun sebelum daun jendela itu tertutup, mata tuanya terpaku pada satu pemandangan. Cahaya mentari senja yang memantul dipermukaan sawah didepan rumahnya, terlihat begitu indah. Pendaran cahayanya berkilat, ditingkahi lambaian daun padi muda yang baru ditanam.

Sungguh, sebuah keindahan tiada tara. Keindahan tersembunyi dipersawahan Desa Rutas, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel), yang tidak semua orang memperhatikan dan menyadarinya.

Perlahan bibir keriput nenek Melati terangkat. Ia tersenyum. Lukisan keindahan senja seakan gambaran dirinya. Diusia yang lebih setengah abad, ibarat senja menjelang malam. Ia harus bersiap keperaduan, tidur dengan tenang keharibaan Ilahi. Dari pancaran matanya seolah tergambar harapan. Ingin ia seperti senja ini, yang ketika gelap datang, tetap dikenang keindahannya.

Namun siapa sangka, bila senja nan indah itu awal dari sebuah trauma berkepanjangan. Tidak nenek Melati, tidak Rizkani sang Ketua RT maupun warga Desa Rutas lainnya. Sungguh, tak seorangpun yang tahu bila malam itu, Wahyudi alias Yudi, bujangan berumur 29 tahun yang suka mabuk dan pengangguran, mampu berbuat nista.

Malam itu, Sabtu (29/11/08), ketika jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WITA, nenek Melati bersiap keperaduan. Tiba-tiba, telinganya yang masih awas diusia senja itu mendengar bunyi derit jendela yang dibuka dari luar. Rumah yang ditempatinya adalah rumah tua, maka wajarlah bila jendela dapat dengan mudah dibuka dari luar.

“Siapa???” takut-takut sang nenek bertanya. Mata tuanya mencoba menerobos remang lampu minyak dan memandang kearah asal suara.

Ulun (Saya – red), Yudi,” ujar seseorang dari arah jendela yang terbuka sambil menyebutkan namanya. Sesaat saja sang empunya suara yang ternyata lelaki itu berhasil masuk. Walaupun sang tamu nyata-nyata tak diundang dan masuk dengan cara yang tak lazim, tapi karena dia mengenalnya sebagai tetangga, nenek Melati tak mempersoalkannya. Sang tamupun diterima.

Namun sungguh nista perbuatan Yudi. Dengan paksa ia menggagahi sang nenek, tetangga yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Dibawah ancaman, sang nenek tak bisa berbuat banyak. Apalah daya seorang wanita tua. Untuk memukul seekor nyamuk saja ia nyaris tak mampu, apalagi melawan tenaga Yudi yang masih muda dan perkasa.

Dan malam itu, nenek Melatipun ternoda. Hanya Dzikir dan Dzikir yang mampu diucapkannya. Sayangnya, Dzikir itu tak jua mampu meluluhkan hati Yudi yang sudah gelap, hilang ditelan minuman keras yang mengalir dalam darahnya. Bahkan setelah nafsunya terlampiaskan, dengan arogan Yudi mengancam sang nenek.

“Awas pian mun wani bakisah wan urang (Awas, bila bila berani bercerita kepada orang lain – red),” ancamnya kala itu dengan rona puas namun menakutkan.

bersambung

Read Full Post »

Bagian Kedua

Tertangkap. Trauma, tak berani tidur sendiri. Bukan kejadian pertama dan bukti kemerosotan nilai serta moral


peraduan nenek melati, saksi bisu kebiadapan yudi

peraduan nenek melati, saksi bisu kebiadapan yudi

Pasca peristiwa itu, nenek Melati tak lagi berani tidur dirumahnya. Dia yang memang tinggal seorang diri, memutuskan bermalam dirumah Rizkani, sang Ketua RT. Sebenarnya, nenek Melati mempunyai dua orang anak. Satu tinggal di Banjarmasin dan satunya tinggal di Desa Banua Binjai, masih dalam wilayah kabupaten yang sama. Kerap anak-anak maupun sang cucu memintanya untuk tinggal dengan mereka. Namun selalu saja ada alasan dari sang nenek untuk menolaknya.

Rizkani, setelah berembuk dengan beberapa warganya, memutuskan untuk mengintai dan bertekad menangkap basah Yudi. Dan, satu minggu berselang dari aksi pertamanya, Minggu (14/12/08), sehabis mengkonsumsi pil setan dan minuman haram, Yudi berniat mengulanginya.

Apa lacur, warga yang sudah berjaga-jaga akhirnya menangkap basah aksinya. Yudi yang terlambat menyadari akan ditangkap, berusaha kabur. Wargapun akhirnya melapor ke Polisi yang dengan segera menjemput dirumah orang tuanya, di Desa Batali RT 1, Kecamatan Barabai, HST.

Menurut Kasat Reskrim Polres HST, AKP Hadi Supriyanto, atas perbuatan nistanya Yudi dikenakan Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dan diancam hukuman penjara maksimal 12 tahun. Diakui Hadi, peristiwa penistaan terhadap lansia sudah dua kali terjadi diwilayah hukumnya.

“Ini yang kedua. Pertama, beberapa bulan silam seorang lansia berumur sekitar 70 tahun dirampok, dibunuh dan diperkosa di daerah Kecamatan Batu Benawa. Untuk peristiwa ini kita sangat prihatin, karena tentu akan menimbulkan trauma berkepanjangan bagi korban. Saat ini pelaku masih dalam proses pemeriksaan,” ujar Hadi.

Keprihatinan juga datang dari anggota Komisi III DRPD HST, EriYuliwulandari. Sebagai seorang wanita ia dapat merasakan penderitaan sang nenek. Apalagi diusia yang menjelang senja, tentu akan menjadi kenangan kelam bukan hanya bagi korban, namun juga bagi keluarga.

“Inilah bukti kemerosotan nilai dan moral pelaku. Sangat disayangkan, ditengah masyarakat HST yang agamis masih terdapat orang yang bermoral bejat seperti pelaku. Semoga korban dan keluarga diberikan kesabaran dan ketabahan oleh Allah,” ujarnya lirih.

Drs Husni Husin, Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan HST berpendapat, apa yang dilakukan pelaku sebagai pergeseran nilai moral dan budaya masyarakat HST yang agamis. Dimana kemudahan akses tekhnologi dan media informasi yang diterima secara salah kaprah.

“Pengaruh buruk media informasi yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat tanpa adanya filter akhirnya memicu peristiwa seperti ini. Selain itu, pemahaman tentang tanggung jawab seorang anak terhadap orang tua dewasa ini sangat tipis,” kata Husni.

Sebagai lembaga yang mengayomi dan melindungi hak-hak perempuan, dalam waktu dekat Husni berjanji akan mendatangi nenek Melati untuk memberikan dukungan moril. Selain itu, pihaknya berencana memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang perlunya perlindungan dan pengayoman terhadap kaum manula.

Kepada keluarga korban juga akan diberikan pengertian tentang peran serta anak dan keluarga dalam menjaga, melindungi, mengayomi dan menyayangi orang tua mereka. Karena dalam kehidupan masyarakat dewasa ini ada kecendrungan anak tak lagi memperdulikan orang tua dalam keluarga mereka.

bersambung

Read Full Post »

Petaka Diujung Senja

Bagian Ketiga

Mengidap kelainan seksual, suka mabuk dan sering mengamuk. Rela dibunuh warga. Trauma berkepanjangan disepanjang sisa usia

rumah nenek melati, korban perkosaan

rumah nenek melati, korban perkosaan

Sementara itu, orang tua Yudi justru bersyukur dengan penangkapan anak mereka. Kelakuan buruk Yudi yang hanya sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SD itu, ternyata tak hanya gemar mabuk-mabukan, ia bahkan tak segan-segan berlaku kasar terhadap kedua orang tuanya bila permintaannya tak dituruti. Menurut ibunda Yudi, Atik (63), dirinya rela seandainya pada malam tertangkap, Yudi dibunuh warga.

“Kami bahkan pernah mau ditimpasnya (Dibacok – red). Dia juga pernah mau membakar rumah. Dua kali sudah ia kami belikan sepeda motor dengan harapan akan sadar. Namun kedua sepeda motor itu malah dijual dan uangnya dipakai untuk berfoya-foya,” ujar ibunda Yudi, Atik sambil berlinang air mata.

Usia Yudi yang sudah cukup umur untuk berumah tangga bukan tak dipikirkan orang tuanya. Mereka sadar, lelaki seusia itu sudah mengenal wanita dan perlu penyaluran akan kebutuhan biologisnya. Namun setiap kali ditanya apakah mau dikawinkan, Yudi selalu menjawab tidak.

Psikolog dari RSUD Ulin Banjarmasin, Maryam Agustin Mkes menilai, Yudi memiliki gangguan secara seksual. Ada kemungkinan ia lebih tertarik dengan wanita yang lebih tua dan merasa menang ketika bisa menggagahinya. Terbukti, ia tak mau dikawinkan dengan wanita muda.

“Ada kemungkinan pelaku mempunyai perilaku seks menyimpang. Ditambah lagi kegemarannya mabuk, membuat kesadarannya menurun. Akal sehatnya tak lagi bisa mengontrol dan membedakan yang pantas dan tidak. Itu memicu perbuatannya ketika hasrat biologis memuncak,” ujar Maryam.

Menilik usia nenek Melati, rasanya tak masuk akal bila yang bersangkutan menjadi target sebuah tindakan biadab seperti perkosaan yang dilakukan Yudi. Namun hal tersebut dipandang Maryam sebagai upaya cari selamat. Karena faktor usia, Yudi memperkirakan aksinya akan lebih aman dan tentu saja lebih mudah.

Maryam memandang perlunya bantuan dan partisipasi dari semua pihak terhadap nenek Melati. Bagaimanapun juga, selain aib, peristiwa itu akan meninggalkan trauma yang berkepanjangan. Apalagi faktor usia membuat jiwanya labil, kembali seperti kanak-kanak.

Kini, akibat perbuatan Yudi yang melampaui batas toleransi akal sehat manusia normal itu, nenek Melati menderita trauma berkepanjangan. Hari-harinya tak lagi seriang dulu. Senja ibarat kiamat baginya. Kegelapan malam menghadirkan ketakutan yang amat sangat. Kini, senja tak lagi indah di Desa Rutas. Pendaran cahaya mentari senja dipermukaan sawah, nampak gelap dimatanya. Ah Yudi, sungguh terlalu…

Tamat

Read Full Post »

Belati Dibalik Pinggang

Pengantar:

Etnis Banjar, terdiri dari beberapa sub etnis. Memang betul bila etnis Banjar itu sendiri adalah etnis Dayak juga. Namun seiring masuknya Islam ke Kalimantan Selatan, etnis Dayak yang memeluk agama Islam disebut orang / urang Banjar.  Etnis Dayak yang mengalami transpormasi budaya ini, pada perkembangannya berbaur melalui perkawinan dengan etnis lain seperti melayu, misalnya. Sehingga, etnis Dayak ini akhirnya membentuk etnis baru yang disebut etnis Banjar.

Sub-sub etnis Banjar dinamakan berdasarkan nama wilayah, seperti Kalua, Amuntai, Halabiu, Nagara, Kandangan dan Rantau. Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, terutama dari segi sifat dan tingkah laku.

Sub etnis Rantau dan Kandangan, dikenal bertemperamen keras. Bagi orang yang baru pertama ke Kota Rantau dan Kandangan, akan mengira orang-orang didua kota ini pemarah semua, karena gaya dan alunan bicara mereka yang keras dan nyaring. Bila kedaerah pedesaannya, lebih mengerikan lagi. Karena masyarakat pedesaan di dua kota itu (sebagian masyarakat perkotaannya masih menganut budaya ini), senantiasa menyelipkan senjata tajam bila keluar rumah.

Namun dibalik semua itu, orang Rantau dan Kandangan juga dikenal memiliki sikap dan pendirian yang keras. Tingkat solidaritas, kekerabatan, sosial kemasyarakatan dan kekeluargaan mereka sangat tinggi.

Aku sangat bersyukur ketika suatu hari redaksi memerintahkan untuk menulis tentang budaya dan perilaku membawa senjata tajam pada orang Rantau (untuk orang Kandangan ditulis Fatoy, rekan wartawan Sinar Kalimantan yang bertugas di kota itu). Namun karena orang Rantau dengan orang Kandangan sebenarnya satu sub etnis, maka tugas kami bagi. Aku menulis tentang perilakunya sedang Fatoy menulis tentang makna sajam bagi orang Kandangan dan Rantau.

Dengan segala keterbatasan dan tanpa maksud menghakimi, menggurui ataupun men-judge salah satu sub etnis tertentu, tulisan ini kubuat. Bahan tulisan kuperoleh dari hasil investigasi ke Kota Rantau dan sekitarnya selama tiga hari serta wawancara dengan nara sumber.

Agar tidak terasa membosankan, tulisan kubagi dalam dua bagian. Teman-teman yang membaca tulisan ini, mohon bisa memberikan kritik dan saran. Terima kasih.

* * *

*Sajam Dalam Perspektif Budaya dan Perilaku Urang Banua

Bagian Pertama

Diranah Banjar, terdapat beberapa sub etnis dengan budaya, perilaku dan kearifan lokal masing-masing. Sudah jamak disini, ketika muncul ketentuan baku yang entah mendapatkan legalitas dari mana, tentang pembagian keahlian berdasarkan sub etnis dan perilaku yang dianut. Bagaimana dimasyarakat Banjar, urang (penduduk, red) Rantau dan Kandangan diidentikkan sebagai pelindung, urang Barabai, Amuntai dan Nagara sebagai kaum pebisnis, urang Kelua sebagai ahli perkebunan dan urang Martapura sebagai imam.

Semua tak lepas dari budaya, perilaku dan kearifan lokal yang dianut setiap sub etnis yang ada. Salah satunya adalah perilaku (atau budaya?) urang Rantau dan Kandangan yang tak terpisah dari senjata tajam (disini dikatakan sebagai belati, karena sajam bermakna universal atas senjata, sedang urang kita banua mengistilahkan sajam yang sering dibawa, lebih spesifik lagi dengan sebutan belati atau balati bila dilafalkan dalam bahasa Banjar Pahuluan).

Sebelum berbicara tentang membawa belati sebagai suatu perilaku dan budaya masyarakat, perlu digarisbawahi bahwa urang Rantau dengan urang Kandangan adalah satu kesatuan sub etnis Banjar. Hal itu dibuktikan dengan kesamaan atau kemiripan budaya, bahasa dan ciri fisik.

Mereka menjadi berbeda ketika terpisahkan oleh batas teritorial administratif pemerintahan akibat dari pemekaran wilayah. Dari asal katanya, Rantau yang berarti perantauan, terlihat bila daerah itu dihuni oleh sub etnis terdekatnya yaitu Kandangan, bukan sub etnis yang berbeda. Atau misalnya dari segi bahasa, dimana terdapat kemiripan antara bahasa urang Rantau dengan bahasa urang Sungai Raya, Kandangan, dengan ciri bahasa yang cepat, tinggi dan keras.

Dalam hal membawa belati pada urang Rantau dan Kandangan, disebabkan dua aspek yang saling berhubungan, yaitu sosiologis kultural dan geografis. Secara sosiologis kultural, urang Rantau dan Kandangan memiliki keterlambatan dalam hal transpormasi budaya. Keterlambatan itu sendiri, disebabkan letak geografis wilayah Rantau dan Kandangan yang lebih kedaratan atau pedalaman.

Etnis Banjar yang mendiami daerah pesisir, seperti Banjar sendiri, Nagara, Amuntai dan Alabiu, mengalami transpormasi nilai budaya yang lebih cepat. Karena merekalah yang pertama berinteraksi dengan pihak luar. Berbeda dengan urang Rantau dan Kandangan. Letak geografis yang lebih kedarat, membuat sub etnis ini mempunyai tatanan hidup lebih keras dan toleransi budaya lebih kaku.

Kondisi itu akhirnya membentuk pola dan tatanan hidup yang harus disesuaikan dengan kondisi alam. Hal tersebut berpengaruh langsung pada pola mata pencarian, yaitu berkebun, berhuma dan berburu. Pola itu akhirnya mengharuskan masyarakat dari sub etnis ini senantiasa berlaku protektif dengan membekali diri dengan senjata tajam.

Hal tersebut dikuatkan oleh pandangan dari H Rody Ariadi Noor, seorang tokoh masyarakat Kota Rantau. Dikatakannya, budaya membawa belati pada urang Rantau karena patokan harga diri yang sangat tinggi dan sikap protektif terhadap keluarga.

“Tingginya patokan harga diri pada urang Rantau, menjadikan mereka terkadang over protektif terhadap keluarga. Bila ada keluarga atau kawan yang diganggu orang, mereka siap tampil untuk membela. Ini salah satu penyebab budaya belati yang melekat pada diri urang Rantau,” ujarnya.

Letak geografis dan pola hidup yang keras, memunculkan sebuah konsep bubuhan (kekerabatan, red). Dimana konsep bubuhan ini hanya terdapat pada urang Rantau dan Kandangan. Sedang pada sub etnis Banjar yang lain, seperti sub etnis Banjar pesisir dan Banjar sendiri, mempunyai igelilter atau tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap pengaruh luar.

Tuntutan pola pencarian yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan pendatang, membuat sub etnis ini lebih terbuka terhadap transformasi budaya. Selain itu, pada sub etnis Banjar yang nota bene adalah kalangan istana ini, mengharuskan mereka menganut budaya sopan santun yang lebih kental.

Pola hidup berburu dan berkebun pada urang Rantau dan Kandangan, menjadikan resestensi kehidupan mereka kental dengan budaya membawa senjata tajam, dalam hal ini belati. Namun penggunaan belati disini, lebih merujuk kepada upaya untuk survive, karena kondisi alam yang keras.

Hal itu diperkuat pernyataan Madi, seorang warga Rantau yang sering membawa belati. Menurutnya, budaya belati pada urang Rantau semata untuk menjaga diri. “Bagi urang Rantau, belati adalah teman. Bila tidak membawa belati seakan tidak berteman. Karena menurut keyakinan mereka, hanya belati yang mampu melindungi bila sesuatu terjadi. Sedang kawan bisa saja lari,” ujarnya.

bersambung

Read Full Post »

Belati Dibalik Pinggang

*Sajam Dalam Perspektif Budaya dan Perilaku Urang Banua

Bagian Kedua

Budaya ini, dikalangan urang Rantau dan Kandangan boleh saja dianggap biasa dan bukan tabu, karena faktor-faktor tadi. Namun kondisi ini, bagaimanapun juga memunculkan paradigma baru dikalangan sub etnis Banjar lainnya. Karena mereka tak bersentuhan dengan budaya ini, maka orang yang membawa belati dianggap sebagai urang harat (orang yang hebat, red) atau wani (berani, red).

Pada urang Rantau dan Kandangan, terjadi penilaian terbalik. Di sub etnis ini, justru budaya membawa belati menandakan yang bersangkutan kada harat atau kada wani (tidak hebat, tidak berani, red). Dalam perspektif mereka, urang nang wani dan harat (orang yang berani dan hebat, red) tidak mengandalkan keberadaan belati. Karena pada urang harat dan wani, tercakup kemampuan akan Kuntau (semacam Pencak Silat, red), jagau (jagoan, pemberani,  red) dan taguh (kebal, red), sehingga tidak tergantung pada keberadaan sebuah belati.

Aspek geografis yang membentuk pola hidup, dipandang pengamat Sosial Kemasyarakatan dari FISIP UNLAM Banjarmasin, Taufik Arbain, sebagai faktor dominan pembentukan karakter keras dan budaya belati pada sub etnis Banjar ini.

“Konsep bubuhan yang ada pada urang Rantau dan Kandangan, disatu sisi memunculkan sikap solidaritas yang sangat tinggi. Hingga pada masyarakat Banjar, muncul pribahasa samuak saliur (pribahasa Banjar, artinya kurang lebih sama dengan senasib sepenanggungan, red) dan makanan dimuntung gin diluak sagan kawan (makanan dimulutpun diberikan untuk teman, red) bagi urang Rantau dan Kandangan atau kada titik banyu diganggaman (istilah bahasa Banjar untuk orang yang pelit, red) bagi urang Halabiu,” ujar Taufik yang juga pengamat politik dan Ketua Litbang Dewan Kesenian Kalimantan Selatan.

Karakteristik alam yang keras membentuk jiwa, budaya dan perilaku keras dan tegas pada urang Rantau dan Kandangan. Konsep bubuhan dengan letak pemukiman yang berjauhan, mengharuskan mereka berbicara dengan keras, tegas dan nyaring.

Budaya belati dan tingkat solidaritas pertemanan yang tinggi dikalangan urang Rantau dan Kandangan, memang tak bisa dipungkiri. Berbeda dengan sub etnis Banjar pesisir yang lebih berorientasi kepada bisnis. Yang mana pada sub etnis ini lebih mengutamakan perhitungan untung rugi dan tawar menawar.

Budaya belati semakin konkrit manakala urang Rantau dan Kandangan dihadapkan pada masalah yang prinsifil dan bersinggungan dengan harga diri. Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa bangsa Belanda hanya mempercayakan pembukaan lahan perkebunan tembakau, sekitar abad ke-18, di Sumatra kepada urang Kandangan saja. Bukan kepada urang Jawa, Sulawesi atau sub etnis Banjar yang lain. Bagaimanapun juga, Belanda mengakui kehebatan urang Kandangan dalam merambah hutan. Peristiwa itu akhirnya membuka jalan migrasi bagi sub etnis Banjar lainnya ke Tembilahan, Riau dan Malaysia.

Tapi karena kerasnya karakteristik dan ketegasan sikap urang Kandangan, mereka enggan menjadi pekerja yang berada dibawah kekuasaan. Hingga mereka lebih memilih sebagai pekerja tanpa ikatan.

Kekerasan dan ketegasan yang ditampil urang Rantau dan Kandangan pulalah  yang akhirnya memicu terjadinya migrasi mereka kebeberapa wilayah, seperti ke Kota Gambut misalnya. Ketika ditempat asal dikuasai oleh satu pihak, mereka lebih memilih madam (pindah/migrasi, red) daripada tunduk pada kekuasaan tersebut.

Akhirnya mungkin dapat ditarik satu benang merah, dimana perilaku dan budaya belati pada urang Rantau dan Kandangan, terbentuk karena keharusan untuk survive yang disebabkan oleh faktor geografis. Dimana hal tersebut, akhirnya menjadikan mereka lebih lambat dalam menerima transformasi budaya luar.

Kekuatan paradigma itu akhirnya terbawa hingga sekarang. Pertentangan aturan yang dibuat pemerintah, tak sanggup melunturkan nilai budaya nenek moyang mereka. Karena peran orang tua bahari yang menyuruh anaknya untuk membawa belati bila bepergian, lebih kental dan lebih kuat tertanam dari pada dogma pemerintah, yang bagi sebagian mereka dianggap sebagai penguasaan atau penaklukan dalam bentuk baru.

Bawa balati tu nah mun bajalan. Mun ada apa-apa ngalih kaina. Lain mun urang nang wani, ayuha kada bagagaman (Bawa belati bila mau bepergian. Susah nanti kalau ada apa-apa. Kalau  orang yang berani tidak apa-apa pergi tanpa senjata),”. Inilah dogma terbesar dan mendasar hingga membuat budaya belati melekat dengan erat dikalangan urang Rantau dan Kandangan.

Tamat

Read Full Post »

Pengantar:

Kamis, 20 November 2008, terjadi peristiwa pembunuhan dengan cara dipenggal kepalanya (hingga tulisan ini ku masukkan Blog ini, kepala dan pelaku tak juga ditemukan). Saat kejadian, aku sedang liputan di Kota Rantau, Kabupaten Tapin. Peristiwa itu dibuat dalam bentuk Straight News oleh Ikhwan Rifanie, rekan sesama wartawan Sinar Kalimantan yang  ditugaskan di Kota Barabai. Keesokan harinya, Jum’at (21/11/08), berita yang ditulis Iwan terbit.
Hari itu pula, sekitar pukul 08:00 WIT, ketika  hendak berangkat ke Kota Rantau, redaktur menelpon dan meminta aku membuat features tentang peristiwa menggemparkan itu. Aku sempat protes karena wartawan yang menulis berita itu bukan aku. Oleh redaktur, Iwan dinilai kurang mampu membuat features hingga aku yang diminta menulisnya.
Akhirnya, sekitar pukul 09:00 WIT, akupun berangkat menuju Desa Papagaran, TKP pembunuhan itu. Karena mengetahui peristiwa itu hanya dari berita yang ditulis Iwan, akupun dengan santainya menerima mandat dari redaksi. Aku diharuskan memperoleh foto TKP, foto rumah korban dan wawancara dengan pihak keluarga serta warga. Dan setelah kujalani, ternyata untuk sampai ke desa itu saja, perjuangannya luar biasa berat dan melelahkan.
Jarak dari rumahku di Kota Barabai ke Desa Papagaran hanya 31 Km. Tapi karena medan yang sangat sulit, aku baru tiba kembali di rumah sekitar pukul 16:00 WIT. Sesampainya dirumah, listrik ternyata padam. Alhasil, aku baru bisa memulai ngetik  sekitar pukul 17:00 WIT. Lumayan, punya waktu sekitar satu jam untuk istirahat.
Perlu dua jam untuk menyelesaikan features ini. Mendekati sholat Isya, baru berhasil ku kirim ke redaksi di Banjarmasin. Namun aku sungguh sangat puas. Oleh redaksi, features ini dibagi tiga dan diterbitkan tiga hari berturut-turut, tanpa diedit sedikitpun. Yang lebih membanggakan lagi, aku satu-satunya wartawan (baik cetak maupun tivi, lokal dan nasional) yang berhasil sampai, melihat langsung dan memotret TKP. Aku juga satu-satunya wartawan yang berhasil menurunkan berita ini dari sisi berbeda, hasil wawancara dengan keluarga korban dan warga. Mantaaap…
Tanpa bermaksud menyombongkan diri dan dengan segala kerendahan hati serta kekurangan, tulisan ini ku buat disini. Teman-teman yang membaca, mohon kritik dan sarannya. Terima kasih.

* * *

Bagian Pertama:

“Dapatlah kapalanya? (Sudah ketemu kepalanya?)” ujar wanita tua itu sambil menghentikan aktivitasnya mengiris tipakan (jahe – red,) begitu melihat seorang lelaki berjalan kearahnya.
“Balum Ma ai! (Belum, Bu!)” jawab sang lelaki seraya duduk sambil membetulkan letak parang dipinggang kirinya

Itulah penggalan percakapan antara Sanainah (60), warga Desa Papagaran, kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, mertua Muhtar alias Sambas yang sehari sebelumnya menjadi korban pembunuhan sadis. Adapun lelaki yang baru datang itu adalah Harni (37), anak ketiga Sanainah.

Siang itu, Harni baru pulang dari hutan mencari kepala Muhtar yang sampai saat ini belum juga ditemukan. Kamis (20/11/08), Muhtar, warga desa Timan Murung B RT 03 ini menjadi korban pembunuhan sadis dengan cara dipenggal kepalanya. Hingga saat ini, kepala itu tak kunjung ditemukan.

Pihak keluarga terus berupaya untuk mencari kepala korban hingga jauh kepelosok hutan dan gunung. Seperti dilakukan Harni yang sejak subuh sudah menjelajah hutan sekitar desa. Namun hasilnya tetap nihil.

Desa Papagaran, lokasi pembunuhan itu berada jauh diatas gunung didalam hutan. Dari kota Barabai, ibu kota Kabupaten HST, harus ke Hantakan terlebih dulu sejauh 14Km. Dari Hantakan yang merupakan kota kecamatan, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Timan sejauh 3Km. Dari Desa Timan perjalanan masih dilanjutkan lagi ke Desa Patikalain atau Desa Cabai.

Dari Timan ke Patikalain hanya berjarak 7Km. Namun kondisi jalan tanah yang tak bisa dibilang bagus, dengan batu-batu gunung yang berserakan dan terjal, membuat jarak kedua desa ini serasa 17Km. Ditambah lagi tipikal jalan yang turun naik mengikuti kontur tanah pegunungan Meratus, dijamin wanita hamil bisa melahirkan bila melewati jalan ini.

Namun itu baru permulaan. Perjuangan berat sesungguhnya adalah perjalanan dari Patikalain menuju Papagaran. Meski hanya berjarak 4Km, tapi ketika dijalani serasa 40Km. Bagaimana tidak, jalan tanah yang becek dan licin itu begitu terjal. Bila musim kemarau masih bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Tapi dimusim penghujan seperti sekarang ini, hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki.

Melihat kondisi jalan yang demikian mengerikan, terbayang betapa sulitnya proses evakuasi yang dilakukan kemaren. Tipikal jalan yang turun naik, terjal dengan kemiringan nyaris 45º dan licin, membuat kita harus ekstra hati-hati. Ditambah lagi ancaman tebing disisi kiri jalan dan jurang disisi kanan. Jurang dengan kedalaman tak kurang dari 50 meter itu siap meremukkan siapa saja yang terjatuh kedalamnya.

Bila dihitung jarak tempuh dari Kota Barabai ke Desa Papagaran yang hanya sekitar 31Km, seandainya jalan mulus bisa ditempuh kurang dari 1 jam. Namun dengan kondisi jalan yang tak bersahabat, membuat perjalanan kesana memakan waktu tak kurang dari 4 jam.

Situasi ini diperparah dengan sunyinya jalan yang dilewati. Karena ianya memang daerah pegunungan dan keluar masuk hutan. Tak ada satupun rumah penduduk yang ditemui. Sepanjang perjalanan hanya bisa berdo’a dan berharap bisa menemukan rumah penduduk atau sekedar berpapasan dengan seseorang. Setidaknya dengan begitu bisa mengobati kesunyian yang sangat mencekam.

Memasuki desa Papagaran, jangan berharap menemukan deretan rumah penduduk atau keramaian. Tapi setidaknya hati menjadi terhibur dan lega, karena akhirnya bertemu kembali dengan sebuah peradaban.

Diujung jalan desa yang sempit dan becek itulah terletak rumah Sanainah, ibu dari Siti Kahadijah, istri Muhtar sang korban mutilasi. Siang itu, Sanainah bersama Noor Azizah anaknya ditemani beberapa orang cucunya, menanti Harni pulang dari upaya pencarian kepala Muhtar, sambil mengiris tipakan. Setelah harga karet morosot tajam, itulah aktivitasnya sehari-hari. Tipakan yang sudah diiris lalu dijemur untuk kemudian dijual ke Kota Barabai seharga Rp10ribu per kilogram.

bersambung

Read Full Post »

Bagian Kedua

Berebut tanah garapan. Suka mengakui hak orang. Sok jago, kebal dan ditakuti. Perkelahian dianggap biasa.

Betapa kecewanya wanita tua itu ketika Harni pulang dengan tangan hampa. Walau Muhtar hanya menantunya, namun raut wajah tuanya tak mampu menyembunyikan rasa sedih dan kecewa.

“Saya sudah berusaha mencari sampai jauh ketengah hutan, tapi kepala itu tak jua ditemukan. Mungkin saja kepala itu sudah dipanggang dan dimakan oleh pelaku,” ujar Harni sambil meluruskan kaki dan menyeka keringat yang mengucur deras.

Desa Papagaran yang penduduknya mayoritas orang Dayak Meratus, memang masih kental dengan nuansa magis. Konon, agar tidak ditemui hantu korbannya maka sang pembunuh harus meminum darah korban. Dan agar sang korban tidak hidup lagi karena kekuatan ilmunya, maka kepala dan badan korban harus dipisahkan. Kepala itu harus dibawa ketempat yang jauh atau kalau perlu dimakan.

Walaupun nampak kecewa dan lelah, Harni dengan senang hati mengantar dan menunjukkan lokasi pembantaian. Untuk mencapai Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang berjarak sekitar 1,5Km, harus melewati jalan setapak didalam hutan dan menyusuri daerah perbukitan. Medan yang berat membuat perjalanan ini terasa sangat jauh. Jantung berdegup keras karena dipompa paksa demi perjalanan ini. Seakan mau pecah rasanya.

Setelah berjalan tertatih-tatih dan terjatuh lebih dari dua kali, sampailah disebuah bukit terbuka yang sedianya akan dijadikan ladang, tempat Muhtar bersama istrinya Siti Khadijah, berhuma. Namun sebelum impian untuk memanen padi dihuma atas bukit itu, malaikat maut keburu merenggut nyawa Muhtar diladang impian itu.

TKP pembunuhan terletak agak kebawah. Dekat tumpukan semak-semak dan ranting kering yang sedianya akan dibakar untuk perluasan lahan. Di TKP terlihat genangan darah yang sudah mengering, menyebarkan bau amis. Tak nampak ceceran darah disekitar tempat itu. Menandakan kepala Muhtar langsung putus hanya dengan sekali tebas dan tanpa perlawanan.

Menurut pengakuan Harni, perseteruan yang merenggut nyawa Muhtar dipicu perebutan tanah dengan SA, juga warga Papagaran yang masih kerabat jauhnya. Bukit yang akan dijadikan ladang oleh Muhtar adalah warisan ayahnya. Ketika akan dijadikan huma oleh Muhtar, malah diakui SA sebagai miliknya. SA yang marah melihat Muhtar menggarap tanah tersebut, lantas membunuhnya bersama-sama dengan ayahnya (AS) dan saudaranya (JJ).

Namun versi yang beredar dimasyarakat berbeda. Menurut warga, tanah itu adalah tanah adat yang boleh dikerjakan oleh siapa saja. Asalkan mau membuka dan membersihkannya, maka dia berhak atas tanah itu selama masih dikerjakan. Pengakuan Harni atas tanah itu sebagai warisan pastinya tidak bisa dibuktikan. Karena penguasaan atas tanah didesa itu tidak dilengkapi dengan sertifikat ataupun sekedar selembar surat segel.

Menurut informasi warga, tanah seluas kurang lebih 0,5 hektar yang akan ditanami padi oleh Muhtar, sedianya akan digarap SA. Dengan susah payah ia membuka dan membersihkan bukit itu. Namun sebelum ditanami padi, Muhtar mendahuluinya. Dan kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Setidaknya, menurut warga, sudah tiga kali Muhtar mengakui sesuatu milik SA sebagai kepunyaannya.

“Sudah menjadi rahasia umum tentang kelakuan Muhtar yang suka mengakui sesuatau yang bukan haknya. Tanah, karet, pohon durian dan lain-lain, sering diakui sebagai miliknya. Bukan hanya diwilayah Papagaran, bahkan diwilayah lain seperti di Patikalainpun diakuinya,” ujar salah satu warga dengan nada jengkel.

Atas kelakuan Muhtar, warga hanya bisa memendam rasa jengkel dan marah. Muhtar yang seorang pendatang itu dikenal sebagai pribadi yang temperamental. Diduga, ia punya banyak untalan (ilmu kebal – red), sehingga banyak warga yang enggan berurusan dengannya. Tapi, Kamis rupanya hari sial bagi Muhtar. Ditangan SA, pada hari itu ia meregang nyawa.

Pernyataan warga tampak ada benarnya. Setidaknya hal itu terlihat dari keengganan warga untuk ikut membantu mencari kepala Muhtar. Warga terlihat tak acuh dengan peristiwa menggemparkan itu. Hanya Harni seorang diri yang tampak melakukan usaha pencarian. Sementara warga, tak seorangpun ikut membantu. Mereka lebih memilih mengerjakan ladangnya atau duduk-duduk diteras rumah sambil bergunjing.

Secara psikologis, peristiwa mutilasi yang tak biasa ini setidaknya akan menimbulkan terror, ketakutan dan menggemparkan warga Desa Papagaran. Namun kenyataannya, warga tenang saja seakan tak terjadi apa-apa. Boleh jadi karena memang rasa ketidaksukaan terhadap sosok Muhtar atau rasa jengkel mereka yang seakan terhapuskan.

M Husni Thambrin S.Sos, Camat Hantakan berpendapat lain. Walaupun berdasarkan informasi yang didapatnya dari kepala Desa Papagaran, ia tidak membantah kelakuan Muhtar. Namun sikap warga yang apatis dipandangnya lebih karena masyarakat Dayak Meratus sudah terbiasa dengan peristiwa perkelahian.

“Masyarakat biasa dengan kasus seperti ini. Walaupun memang untuk kasus mutilasi baru ini saja. Namun perkelahian cenderung dipandang biasa. Karena itu masyarakat memandangnyapun biasa pula,” ujarnya.

Terlepas dari motiv dibalik mutilasi itu, siapa yang benar dan siapa yang salah ataupun sikap apatis yang ditunjukkan masyarakat, berhati-hatilah bila ke Desa Papagaran. Bukan karena warganya tidak ramah atau jalan yang tidak aman untuk dilalui, tapi karena kondisi jalan yang sangat berat. Selip sedikit saja maka bersiaplah masuk jurang. Seakan nyawa jadi permainan dijalan ini. Jangan lupa untuk membawa cadangan bensin bila berkendaraan kesana. Karena harga bensin di Papagaran, mencapai Rp 12ribu perliternya.

Tamat

Read Full Post »