Feeds:
Tulisan
Komentar

“BAHUAL WAN BUBUHAN JUA…”

Bacakut papadaan adalah sebuah sinonim yang berkonotasi jelek. Ba-cakut, menurut istilah Banjar Hulu atau ba-kalahi menurut istilah Banjar Kuala, bermakna berkelahi. Sedang papadaan bisa dimaknai sebagai sesama kita. Jadi istilah bacakut papadaan bisa diartikan sebagai perbuatan atau perkelahian antar sesama.

Tetapi sebenarnya bacakut papadaan lebih tepat bila dikatakan sebagai sebuah istilah, yaitu istilah yang menggambarkan tingkah laku atau sifat. Yang dimaksud “sesama” disini bisa sesuku, sebangsa, senegara, sesaudara, sekeluarga, sealiran, sekeyakinan, seagama, seorganisasi dan sesama-sesama lainnya.

Entah bila diartikan ke dalam bahasa Jawa atau Bugis misalnya, karena saya tak pandai berbahasa Jawa dan Bugis. Lagipula kita tidak sedang berbicara masalah bahasa, melainkan mencoba menelaah konteks bacakut papadaan sebagai sebuah perilaku atau sikap dan sifat urang Banjar dalam khazanah perpolitikan di banua ini.

Istilah bacakut papadaan bagi urang banua (baca: masyarakat Banjar) bukanlah hal yang asing. Dalam keseharian kita sering mendengar, bahkan mengucapkan istilah tesebut. Istilah itu disebutkan, manakala mendengar, melihat perselisihan atau pertengkaran antar sesama yang biasanya terjadi adalah antara saudara.

Sekarang ini, istilah bacakut papadaan tidak hanya berlaku pada suatu keadaan dimana terjadi sebuah pertengkaran atau perkelahian yang bersifat riil dan kasat mata. Tapi pada jajaran elite politik kita, berlaku pula istilah tersebut. Dimana pada konteks ini, perselisihan terjadi semata-mata dalam upaya untuk mempertahankan kedudukan atau usaha mencapai kedudukan dan tujuan. Baik bersifat kelembagaan atau organisasi, maupun orang perorangan. Biasanya perselisiahan yang terjadi tidak tampak riil, tetapi aura dan nuansanya dapat dirasakan melalui tingkah laku, perbuatan dan ucapan atau statement yang dikeluarkan.

Pada atmosfir perpolitikan dibanua ini sering kita temui elite politik bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain. Padahal kalau diurut-urut, ternyata pihak yang bacakut adalah orang yang bernaung dalam wadah yang sama. Bahkan tak jarang berasal dari wilayah asal yang sama. Dalam konteks mempertahankan jabatan atau upaya untuk meraihnya, ada kecendrungan untuk menghalalkan segala cara. Pada kondisi ini seringkali norma-norma pertemanan dan kaidah-kaidah politik yang berlaku diabaikan begitu saja. Ibarat pepatah Banjar, nang kaya kodok, tangan manyimbah batis manyipak. Orang tersingkir dan terjungkal sedang dia meloncat maju, tak peduli teman dan cara yang digunakan.

Situasi tersebut, menyebabkan nilai-nilai historis pertemanan yang pernah terjalin ketika sama-sama berjuang, akhirnya tinggal kenangan belaka. Tak jarang kenangan tersebut dijadikan pula sebagai senjata untuk meraih kemenangan. Seringkali elite politik mengeluarkan statement atau pernyataan yang sifatnya menjelekkan musuh politik, berlindung dibalik alasan hutang budi dengan maksud menjatuhkan dan mempengaruhi massa untuk mendapatkan dukungan.

Ada fenomena lucu yang belaku ketika dua orang bakalakuan (berperilaku, red) bacakut papadaan. Ada kalanya disaat dua orang tersebut larut dalam suasana persaingan, akan muncul tokoh lain yang memanfaatkan keadaan. Berusaha tampil mengedepankan kharisma yang seolah bersih, arif dan bijaksana. Pada kondisi ini, salah satu pihak yang sedang bacakut biasanya akan berputar jukung (berputar haluan, red) dan memberi dukungan pada sang pemain baru. Dan ketika tiba saat pengumuman pemenang, kedua pihak yang tadinya gencar bacakutpun terhempas kalah.

Disinilah keunikan tersebut muncul. Dimana kedua pihak yang bacakut justru senang, meski sangat jelas bila mereka tersingkir setelah semua orang tahu aib dan kejelekan mereka. Kondisi ini kemudian memunculkan istilah baru “Nyam ha lucung badudua, dari pada sorang kakalahan”(Lebih sama-sama kalah daripada hanya aku yang kalah, red). Kondisi itu memunculkan suatu fenomena baru tentang kalakuan (prilaku, red) urang Banjar yang kada mau kalah (tidak mau kalah, red), amun saurang kalah mintu jua musuh (Bila memang harus kalah, musuhpun begitu, red). Mun mati, mati ai badudua (Bila harus mati, mati bersama-sama, red).

Sifat dan sikap yang dimunculkan tersebut sekaligus penggambaran akan perilaku tidak sportif dan tidak bisa menerima kekalahan dengan alasan apapun. Ada semacam kepuasan, ketika melihat saingan tidak mendapatkan apa-apa, walaupun ianya diapun tidak mendapatkan apa-apa. Sebuah kepuasan yang absurd sebenarnya.

Sejarah Banjar mencatat banyak peristiwa bacakut papadaan. Bagaimana Pangeran Samudera berselisih dengan Pangeran Arya Temanggung yang nota bene adalah pamannya sendiri alias papadaan atawa bubuhan jua (kerabat/masih bertalian darah, red), yang mengikut sertakan orang Jawa sebagai mediator. Atau perselisihan dan perebutan kekuasaan antara Pangeran Hidayatullah dengan Tamjidillah yang mambawai (mengikutsertakan, red) Belanda untuk campur tangan. Jauh sebelum itu, juga ada peristiwa bacakut papadaan ditanah “Sultan” ini. Yaitu ketika Lambung Mangkurat membunuh dua orang keponakannya, Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga, demi sebuah kekuasaan dan permainan politik.

Sejarah kelam bangsa Indonesia yang sukses dijajah Belanda selama 350 tahun, sedikit banyak mempengaruhi sikap, tingkah laku dan pola pikir masyarakat kita. Apalagi dalam upayanya menguasai segenap lini kehidupan bangsa, termasuk banua Banjar, Belanda dengan stategi liciknya menerapkan politik Devide Et Empire. Sebuah strategi politik adu domba dikalangan masyarakat, tokoh penting, jajaran penguasa, raja-raja, sultan dan bahkan dikalangan rakyat jelata. Strategi itu, sukses membentuk karakter dan mentalitas manusia Indonesia untuk tidak mempercayai papadaan atawa bubuhan. Karena memang itulah maksud dan tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan strategi tersebut.

Kurun waktu penekanan sistem kolonial yang demikian lama pada aspek-aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, bagaimanapun juga ikut merubah nilai-nilai yang berkembang. Secara tidak langsung ikut pula memupuk dengan subur perilaku-perilaku buruk yang sudah ada. Ada anggapan sebagian orang, bahwa bacakut papadaan adalah budaya dan perilaku atau streotip dari urang Banjar. Saya pribadi sebagai urang Banjar, tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan tersebut. Hanya karena istilah tersebut divokalkan dengan bahasa Banjar bukan berarti ia hanya milik urang Banjar. Saya yakin pada masyarakat luar Banjarpun mempunyai istilah sendiri untuk perilaku bacakut papadaan ini.

Bisa kita amati, betapa khazanah perpolitikan dinegeri Indonesia Raya tercinta yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini, penuh dengan polemik, trik dan intrik. Yang bila diperhatikan, dapat dilihat sebagai manifestasi kalakuan bacakut papadaan jua. Perpecahan yang terjadi ditubuh organisasi politik di Indonesia, ianya disebabkan oleh adanya persaingan intern ditubuh organisasi tersebut. Yang menampilkan ego masing-masing personalnya dan bila di Banjarkan, pasti disambat (dikatakan, red) sebagai perilaku bacakut papadaan pula.

Fenomena bacakut papadaan dibanua ini tak bisa lepas dari kalakuan urang Banjar yang suka manimpakul dan mailung larut (istilah Banjar, artinya kurang lebih suka ikut-ikutan, red). Adanya anggapan bahwa bacakut papadaan merupakan sifat dan budaya urang Banjar dan dianggap sudah ajal (sudah dari sononya, jar urang Jawa), tanpa disadari telah membentuk sikap apatisme yang pada gilirannya menghambat usaha untuk meluruskannya.

Sejarah perpolitikan ditanah Sultan yang senantiasa diwarnai dengan konflik antar sesama, dimana dalam penyelesaiannya selalu merujuk pada pihak ketiga sebagai mediator (Jawa dan Belanda), menimbulkan anggapan negatif terhadap urang Banjar itu sendiri. Hingga akhirnya, urang Banjar dianggap tidak mampu bekerja sama dengan sesama atau bubuhan. Memang, pada era otonomi daerah sekarang ini yang menjadi leader dari tingkatan terendah sampai pada tingkatan tertinggi hampir seluruhnya urang Banua. Namun sangat disayangkan, kalakuan bacakut papadaan senantiasa menyertai perjalanan kepemimpinan mereka sehingga tidak bertahan lama.

Belum lagi masalah-masalah yang timbul dan sengaja ditimbulkan untuk mengganjal kepemimpinan yang ada. Perseteruan, persaingan dan perbedaan pendapat didunia politik adalah hal yang lumrah adanya. Namun ketika hal tersebut dikaitkan dengan istilah katuju bacakut papadaan pada urang Banjar, menimbulkan sebuah image buruk yang bersifat universal. Akibat dari penafsiran yang salah terhadap istilah bacakut papadaan dan sulitnya upaya untuk meluruskannya. Karena bacakut papadaan terlanjur dianggap sifat, sikap dan budaya serta sudah ajal tadi.

Sebenarnya, urang Banjar kental dengan budaya dan sikap kebersamaan. Yang mana terlihat dari adanya istilah samuak saliur, sarantang saruntung, yang nyata-nyata sebagai gambaran wujud kebersamaan. Ada fenomena menarik manakala bubuhan Banjar madam ka banua urang (orang Banjar ketika berkelana ke negeri orang, red). Ada pembagian job discriftion unik manakala urang Kandangan dan rantau dirujuk sebagai pelindung, urang Martapura sebagai imam dan urang Amuntai/Halabiu selaku kaum pebisnis. Job discription baku yang entah berdasarkan persetujuan dari pihak mana. Tetapi nyatanya mendapatkan semacam legalitas dikalangan masyarakat Banjar. Dan hal itu masih berlangsung serta melekat kuat dikalangan Banjar perantauan seperti pada masyarakat Banjar di Tembilahan, Riau maupun mereka yang berada di Malaysia atau Brunei Darussalam, misalnya.

Dari fenomena diatas, terlihat betapa urang Banjar sangat menjunjung tinggi azas kebersamaan. Namun entah kenapa, azas tersebut menjadi surut ketika berkutat di banua saurang (dinegeri sendiri, red). Nah, itulah urang Banjar…

***

Barikin Yang Tak Lagi Bergema

Pengantar:

Tahukah anda dengan musik Panting atau seni tradisional Banjar lainnya? Bila tidak, rasanya adalah hal yang wajar. Karena kini, music tradisional sudah sangat jarang diperdengarkan dan digelar, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Menyedihkan memang. Karena ternyata, di HST terdapat sebuah kampung seni tempat lahirnya seni tradisional dan pekerjanya. Namun semua itu kini serasa tak lagi berarti, seiring tenggelamnya seni tradisional dari permukaan. Melalui tulisan ini, setidaknya aku dapat mengemukakan kegelisahan tentang terpuruknya seni tradisional, bahkan ditanahnya sendiri. Ah, panggung mungkin memang bukan untuk seni tradisional.

***

Kampung Seni Itu Mulai Sepi

….. dengan Bismillah kami ucapkan, ala sayang

Panting dikatik baadung tangan

Lagu dialun nang dibawakan, ala sayang

Kisahnya nasib marista badan …..

Alunan nada lagu berjudul Kilir-Kiliran itu mengalun. Perlahan, sendu diiringi dentingan dawai Panting yang dipetik. Membelah malam Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Merupakan hal biasa bagi warga desa itu, ketika malam-malam mendengar alunan musik tradisional. Dari yang mendayu-dayu seperti alunan musik Panting, hingga yang rancak seperti musik penggiring Wayang Gung (Wayang Orang; sebagian orang menyebutnya Wayang Gong-red) atau Kuda Gipang (juga dikenal dengan istilah Kuda Gepang-red). Alunan musik tradisional dimalam hari, bak tembang pengantar tidur bagi mereka. Begitulah, hal biasa oleh warga Desa Barikin yang mungkin tak biasa bagi sebagian orang.

Bagaimana tidak. Musik dan seni tradisional seperti mendarah daging bagi urang Barikin. Sejak Sultan berkuasa di tanah Banjar ini, seni begitu lekat dikehidupan mereka. Hingga kini, masih banyak dari mereka yang menggantungkan hidup dari berkesenian. Mulai menjadi Pamandaan, Pajapinan, Pawayangan, pembuat atau pengrajin alat musik tradisional, hingga  mereka yang sekedar maangkat anggung (tukang bawa-red) peralatan musik itu.

Barikin, desa yang berjarak kurang lebih 20 Km dari Kota Barabai ke arah Banjarmasin itu, sedari dulu memang dikenal sebagai kampung seni. Tempat lahirnya seniman-seniman berbakat dibidang seni tradisional. Dari kampung itu pulalah lahir kesenian tradisional baru nang bangaran (yang dinamakan) musik Panting. Dari urang Barikinlah, tercipta rangkaian-rangkaian indah nada lagu musik Panting.

Era tahun 70-an ke bawah, seni tradisional berada dipuncak keemasannya. Ketika itu, musik dan seni belum memasuki rumah penduduk. Desa Barikin menjadi terkenal ke seantero negeri, bukan hanya Kalimantan Selatan, tapi hingga ke provinsi tetangga.

Nama Barikin sendiri terilhami polah warganya yang bila akan berangkat ke kampung atau daerah lain untuk memenuhi undangan pentas, senantiasa barikin (berhitung-red) terlebih dahulu. Banyak  hal yang harus mereka rikin (hitung-red) dan pertimbangkan. Seperti hari baik untuk berangkat, untung rugi, musibah, dan lain-lain (disebut pula dengan istilah Babilangan-red). Hal itu dilakukan, karena dahulu transportasi tidak semudah sekarang. Hingga akhirnya kampung yang dulunya bernama Pinang Anggang, lalu berubah menjadi Campaka Baris itu, lebih dikenal dengan sebutan Barikin. Dan itu melekat hingga sekarang.

Kesenian tradisional di Barikin tempoe doeloe, ada dan berkembang seiring dengan datangnya budaya Gamelan atau Karawitan dari kerajaan Banjar. Menurut seorang tokoh seni Desa Barikin, Abdul Wahab Syarbaini, peristiwa itu seiring dengan pembangunan Candi Agung di Nagara Dipa atau Amuntai sekarang.

“Kala itu kesenian yang berkembang seperti wayang kulit, Wayang Gung, Kuda Gipang, tari tradisional, Japin, Mamanda dan seni yang mengandalkan gerak. Musik dan lagu tradisional, baru dikenal tahun 1976,” ujar pemilik Sanggar Seni Ading Bastari ini.

Musik dan lagu tradisional yang dimaksud Sarbai, begitu Syarbaini biasa disapa, adalah musik Panting. Dimana pada musik Panting, lebih mengandalkan suara musik dan lagu, bukan gerak seperti Wayang Gung atau Japin, misalnya.

Wayang Gung, adalah sebutan untuk seni Wayang Orang. Namun meskipun sama-sama dilakonkan oleh manusia, Wayang Gung berbeda dengan Wayang Orang. Perbedaan itu terletak pada pakem yang dibawakan. Bila Wayang Orang yang dimainkan adalah pakem Mahabratha dengan Pandawa Limanya, maka Wayang Gung biasa dibawakan dengan pakem Ramayana. Alur ceritanya, mengambil setting permusuhan antara kerajaan Pancawati pimpinan Prabu Rama dengan kerajaan Alengka yang dipimpin oleh Rahwana, Sang Raja Angkara Murka.

Begitu juga dengan Wayang Kulit, ternyata versi Banjar tidak sama dengan Wayang Kulit versi Jawa atau Bali. Meskipun pakem yang dibawakan cenderung sama, tetapi pada Wayang Kulit Banjar memiliki keistemewaan tersendiri. Penokohan dan alur cerita lebih fleksibel dan kreatif. Sang empunya hajat yang menggelar pertunjukan wayang, bisa memesan dan membuat sendiri alur cerita. Dengan catatan, tidak keluar dari pakem yang ada. Cerita dengan alur seperti itu disebut Carangan.

Begitu pula dengan penokohan. Pada Wayang Kulit Banjar dikenal tokoh Kaki atau Rikmabrangka. Tokoh itu dimunculkan dan diambil dari tokoh atau tacut (jagoan-red) daerah tempat pertunjukan wayang digelar. Penggambaran karakter Rikmabrangka bisa berupa tacut yang jagoan, pemabuk, pembuat onar, penjudi, dan segudang sifat jahat lainnya. Namun adakalanya, Rikmabrangka diambil dari karakter seorang tokoh ulama, guru atau tokoh masyarakat setempat yang berpengaruh, arif dan bijaksana.

“Dengan begitu, warga yang menonton akan senang. Karena ditengah pertunjukan muncul seorang tokoh dari desa mereka. Terlebih sang tokoh, sangat bangga ditampilkan dalam bentuk wayang,” ujar Lufi, anak sulung Sarbai yang kini mewarisi bakat ayahnya.

Seni Kuda Gipang, kurang lebih dengan kesenian Jaranan di Jawa. Namun pada Kuda Gipang, alur cerita lebih fleksibel dan sering ada penokohan yang meramaikan dengan tingkah dan dialognya yang lucu. Kuda Gipang didukung sejumlah peralatan selain kostum, seperti Gamelan, Kida-Kida, Sabuk, Jamang, Cabang, Katupung, Babun, Panting Pambawa, Panting Panggiring, Panggulung, Biola, Tarbang Paningkah, Kaprak, Gong dan Suling.

Kesenian Japin, menurut Sarbai terbagi dua. Yaitu Japin Pesisir dan Japin Pedalaman. Japin Pesisir, lebih dikenal dengan sebutan Musik Gambus yang diiringi tarian. Lagu-lagu yang dibawakan, bernafaskan Islam. Sedang Japin Pedalaman, diakui Sarbai sebagai Japin yang dikenal masyarakat Banjar sekarang. Pada Japin Pedalaman, lagu-lagu yang didendangkan berupa tembang Melayu Banjar.

Tahun 1976, Sarbai dengan Sanggar Ading Bastarinya mencoba memainkan musik Japin tanpa diiringi tarian. Sebagai pelengkap, dinyanyikanlah tembang-tambang Melayu Banjar. Setelah dimainkan dan didengarkan, ternyata sangat menawan. Karena itulah, setahun kemudian pada sebuah resepsi perkawinan di Barikin, Sarbai kembali memainkannya.

Saat itu, hadir beberapa tokoh seniman Kalsel. Antara lain Yustan Azidin, Marsudi BA, H Anang Ardiansyah dan H Bahtiar Sanderta. Semua yang mendengar terkejut sekaligus terpesona. Alunan musik penggiring Japin dipadukan dengan lagu Melayu Banjar, ternyata nyaman ditelinga.

“Karena melodinya dimainkan dengan alat musik Panting, maka menurut Yustan Abidin kala itu, sebaiknya dinamakan Musik Panting,” Sarbai mengenang peristiwa itu.

Ditahun itu pula, musik Panting mulai diperdengarkan ke khalayak. Sebagai penggiringnya, dinyanyikan lagu-lagu Melayu Banjar Pahuluan yang berirama slow.  Baru setahun kemudian, Sarbai menciptakan lagu khusus untuk musik Panting. Lagu-lagu itu memiliki ciri khas berupa pantun dan berisi nasehat.

Diawal perkembangannya, musik Panting dimainkan hanya dengan tiga alat musik. Yaitu Panting sebagai melodi, Babun (Gendang) dan Gong. Baru tahun 1979, peralatan itu diperkaya dengan Talinting, Giring-Giring, Kulimpai (ketiganya merupakan alat musik tradisional Dayak Meratus), Suling dan Biola.

Kesenian ini mengalami perkembangan pesat. Tahun 1980, ketika panggung dangdut mulai memasuki hajatan yang digelar, musik Panting beradaptasi dan dilengkapi dengan penggunaan sound system. “Tahun 1981, hampir tiap kabupaten di Kalsel memiliki kesenian Panting. Sejak itu hingga tahun 1985, Panting berada di masa kejayaannya,” mata Sarbai menerawang.

Berkat dukungan Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, tahun 1985 Panting mulai diajarkan dibeberapa sekolah. Namun sayangnya, kini Panting dan seni tradisional lainnya kurang diminati. Di Barikin sendiri, hanya bisa maju dengan tersendat. Generasi muda Barikin lebih tertantang untuk menaklukkan Play Stations dibandingkan seni tradisional. Seiring dengan itu, lekuk dan goyangan penyanyi dangdut Elekton, lebih disukai sebagai penyemarak hajatan.

“Dalam sebulan paling banyak dua kali tampil. Tidak seperti dulu yang dalam satu bulan terkadang penuh,” ujar Lufi, miris.

Kondisi itu diperparah dengan ketidakpedulian Pemerintah Daerah Kabupaten HST. Diakui Sarbai, hampir tak pernah ada kepedulian dalam bentuk apapun untuk para seniman Barikin. Tidak bantuan kostum panggung, alat musik, uang pembinaan ataupun sekedar sebuah gedung sebagai tempat berlatih.  “Tempat latihan kami dirumah masing-masing dan terkadang di Balai Desa,” berkata Sarbai lirih.

Kepala Disporabudpar HST, Zain Jailani mengakui bila seni tradisional saat ini sulit untuk berkembang. “Kami juga menerima masukan dari para budayawan. Dari mereka, muncul keprihatinan dengan nasib seni tradisional kita yang terancam punah,” ujarnya.

Menurutnya, kepunahan itu bisa saja terjadi karena tidak adanya pewaris yang melanjutkan kesenian tradisional. Beberapa penyebab sulitnya seni tradisional berkembang, salah satunya adalah kurangnya minat generasi muda terhadap seni tradisional itu. Selain itu, Disporabudpar terkendala masalah kurangnya pendanaan yang dapat dialokasikan untuk mengayomi para seniman.

Dan, kloplah sudah. Kurangnya minat generasi muda ditambah ketiadaan pendanaan dari pemerintah daerah setempat, semakin menghunjamkan Barikin sebagai kampung seni kejurang paling dalam. Yang terdengar kini di Barikin, lebih banyak deru mesin kendaraan dan mesin pengolahan karet yang berlomba mencetak rupiah. Tak lagi seperti dulu, ketika malam menjelang di Barikin yang diselimuti alunan music tradisional. Ah, kampung seni itu kini mulai sepi…

Tamat

Nasib Sang Seniman Itu…

Pengantar:

Perkembangan seni tradisional di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) sungguh teramat sangat memprihatinkan. Padahal disebuah desa di kabupaten itu, dulunya terkenal sebagai sentra kesenian yang melahirkan banyak sekali seniman handal. Kini, semua bak tersapu badai Tsunami. Bahkan, dua kesenian tradisional, Tari Baksa Kambang dan Musik Panting yang diciptakan oleh urang asli Barabai, terancam punah. Tragis memang.

Adalah Abdul Wahab Syarbaini, atau biasa disapa Sarbai, pencipta Musik Panting dan salah seorang maestro dibidangnya, kini teronggok disudut ruang tengah rumahnya. Ia yang masih bertalian darah denganku itu, terlupakan setelah semua jasanya melahirkan seniman-seniman handal Banua ini. Tak ada sedikitpun bentuk kepedulian dan simpatik dari pemerintah daerah setempat. Aku terperanggah dan tergugah. Sedemikian parahkan keacuhan pemerintah terhadap seniman???

Tulisan yang dimuat pada kolom Budaya, Tabloid Urbana ini, aku persembahkan untuk sang maestro, Abdul Wahab Syarbaini dan pemerintah daerah HST atas kemampuan mereka untuk bersikap acuh…

***

Sarbai, Maestro Yang Terlupa

Sarbai...

Sarbai...

Karuang Bulik, Simbangan Laut dan Naga Salimburan yang terukir di ujung atau kepala Panting itu dibelainya. Perlahan. Itu dilakukannya sebelum mengangkat dan meletakkan alat musik tradional sebentuk gitar itu kepangkuannya. Sebelum dawai dipetik, tangan kanannya terlebih dahulu mengusap badan Panting yang berukirkan Mayang Bungkus, Mayang Bunting dan Mayang Maurai.

Dan, melantunlah dentingan irama Panting. Syahdu dan merdu. Terkadang lembut, terkadang rancak. Mempesona ditelinga hingga tak terasa kepala mengangguk dan badan ikut bergoyang mengikuti irama.

Aduhai, bila saja Abdul Wahab Syarbaini, sang pemetik Panting itu memainkannya dalam kondisi normal, tentu lebih mempesona lagi. Tetapi, meski ia yang lebih dikenal dengan nama Sarbai itu kini tengah sakit, tak mengurangi kepiawaiannya memainkan dawai-dawai Panting.

“Abah kecelakaan. Sudah lebih dari satu bulan ini, beliau tidak bisa berdiri karena kaki kirinya patah,” ujar Lufi, anak sulung Sarbai.

Sarbai, lelaki kelahiran tahun 1954 di Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) itu, mewarisi bakat seni dari ayahnya. Debut pertamanya dibidang seni tradisional dimulai ketika mempelajari seni tradisional Japin atau Bajapin. Tahun 1969, sang ayah, Pambakal Sasera, mewariskan Sanggar Seni Taruna Mekar kepada Sarbai. Tahun 1973, nama Taruna Mekar digantinya dengan Sanggar Ading Bastari.

“Pertimbangan waktu itu, ingin mencari nama yang lebih ke-Banjar-an. Ading Bastari berarti Pambungsunya (bungsu-red) atau  group paling muda. Karena memang waktu itu, banyak sanggar seni yang lebih dahulu ada di Barikin,” ujar Sarbai seraya memijit-mijit kaki kirinya.

Sejak berdirinya Ading Bastari, perkembangan berkesenian di Barikin maju pesat. Tingginya tingkat remaja putus sekolah, membuat Sarbai mudah melakukan perekrutan calon pekerja seni baru. Seiring dengan itu, kesenian tradisional mencapai puncak keemasan. Karena profesi pekerja seni dianggap menjanjikan.

Sarbai yang semula hanya mendalami Japin, mulai mempelajari seni lain dan berhasil menguasainya. Ia bahkan pernah menjuarai Festival Dalang Remaja se-Kalsel, untuk kategori Wayang Purwa Banjar, tahun 1978.  Di sanggar pimpinannya tergabung puluhan pekerja seni. Ada yang mahir Bajapin, Bawayang, Bamanda, Kuda Gipang dan lain-lain. Semua di latih dan diketuai Sarbai.

Kepiawaian Sarbai, membuat ia terkenal dan dikenal. Hingga ditahun 1978 sampai 1980, pihak provinsi meminta ia melatih bibit-bibit seniman baru. Tiga tahun waktu yang dihabiskannya menjadi pelatih seni di Taman Budaya Banjarmasin, cukup untuk melahirkan seniman-seniman seni tradisional yang ada kini.

Sarbai melatih bukan hanya di sanggar miliknya, di Barikin. Ia juga diminta melatih di beberapa daerah, seperti Balangan, Tabalong, Amuntai, Tapin dan Kandangan. Para seniman didikannya, kemudian mendirikan sanggar baru ditempat masing-masing.

100_4725

Menjadi pekerja seni memang jauh dari harapan untuk kaya. “ Mun handak sugih harta, kada usah jadi seniman. Seniman itu hanya sugih kawan (kalau ingin memiliki banyak harta, jangan jadi seniman. Seniman itu hanya memiliki banyak teman-red) ,” ujar Sarbaini menirukan papadah (petuah-red) Abahnya dulu.

Tertatih-tatihnya perjalanan Sarbai menghidupi sanggar dan mengembangkan kesenian tradisional, tergambar jelas ketika tahun 1980 ia terpaksa menggadaikan sepeda motor kesayangan. Berbekal uang hasil gadaian itulah, ia sanggup menambah peralatan seni. Terhitung, lima tahun lamanya sepeda motor itu baru bisa ditebus.

“Tahun 1978, Pemerintah Daerah HST berencana membangunkan gedung tempat berlatih seniman di Barikin. Seorang warga bahkan telah merelakan sebidang tanah miliknya sebagai lokasi gedung,” Sarbai menarik nafas mengenang saat-saat itu.

Entah kenapa, hingga sekarang tidak pernah ada realisasi dari Pemda HST. Hingga akhirnya, tanah yang sedianya untuk lokasi gedung dijual oleh si empunya. Sarbai dan seniman-seniman lain di Barikin, bukan tak pernah mengajukan permohonan atau proposal bantuan ke pemerintah daerah setempat. Namun semuanya selalu berakhir dengan ketidakpastian.

Kostum, peralatan panggung hingga biaya transportasi dan konsumsi, sepenuhnya diandalkan dari hasil upah yang didapat. Akibatnya, upah tak seberapa itu hanya tersisa sedikit sekali. Bagaimana tidak, dalam pertunjukan Kuda Gipang saja personilnya berjumlah 40 orang. Atau Wayang Gung yang berjumlah lebih banyak lagi, sekitar 50 orang.

Keterkenalan seorang Sarbai dan Barikin sebagai kampung seni, ternyata tak mampu menggugah pemerintah HST untuk sekedar memberikan bantuan. Padahal seandainya ada bantuan, semua untuk perkembangan seni itu sendiri.

Ketidakberdayaan Sarbai dan seniman lainnya di Barikin, semakin membuat nuansa seni di daerah itu kian pudar. Entahlah, apa yang membuat pemerintah daerah menutup mata terhadap perkembangan seni tradisional. Bahkan hingga kini, ketika Sarbai, sang maestro itu terbaring sakit, tak pernah ada sekedar kunjungan dari pihak pemerintah daerah HST. Yang terjadi justru sebaliknya. Sarbai mendapat simpatik dan kunjungan dari pemerintah daerah lain, seperti Tabalong, Balangan dan Amuntai. Lebih dari satu bulan Sarbai terbaring sakit, tak seorangpun pejabat HST yang mengetahuinya. Luar biasa…

Sarbai menghela nafas. Sebelum Panting itu diletakkan disamping kanannya, sekali lagi tangan tuanya membelai ukiran Karuang Bulik, Simbangan Laut dan Naga Salimburan. Sarbai, sang maestro itu harus menerima nasib diacuhkan di negeri sendiri. Ia kini bak terlupakan…

Tamat

Saat Ramadhan Tiba…

Pengantar:

Banyak keceriaan dibulan Ramadhan.

Mungkin sama dengan beberapa wilayah di Indonesia, kala subuh menjelang sahur dibulan Ramadhan, akan ramai oleh aktivitas sebagian warganya yang memainkan alat musik dan membangunkan warga lainnya. Aktivitas itu, di Kalsel disebut Bagarakan. Namun di Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), aktivitas itu terasa lebih unik. Karena di kota itu para pelakonnya adalah anak-anak. Dengan keceriaan khas mereka, anak-anak itu mengingatkan aku ketika masih kecil saat melakukan aktivitas yang sama. Luar biasa. Ramadhan ternyata memang memberikan keceriaan yang bahkan tak habis terungkapkan hanya lewat kata-kata.

***

Tetabuhan Di Kala Sahur

setiap tengah malam dan kala sahur menjelang, anak-anak berkeliling kampung untuk bagarakan

setiap tengah malam dan kala sahur menjelang, anak-anak berkeliling kampung untuk bagarakan

Jarum jam merambati malam dengan pelan di Bumi Murakata (Sebutan untuk Kabupaten Hulu Sungai Tengah-red). Saat itu, baru pukul 02.30 tengah malam. Malam yang biasanya penuh kesunyuian, kini tak lagi senyap. Sayup-sayup bunyi tetabuhan bergaung, memecah dan membelah sunyinya malam Kota Apam, Barabai.

Mulanya, satu dua tetabuhan itu bergema. Semakin lama, terdengar semakin ramai. Iramanya rancak, menghentak dan berdebam. Bernada penuh semangat bak genderang perang. Ya, tetabuhan itu memang awal pembuka perang yang akan berlangsung esok hari. Perang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Yang membedakan dari tetabuhan itu adalah pekikan yang menyertainya. Hingga orangpun paham dan maklum bila itu bukanlah genderang perang yang sesungguhnya. Itulah tetabuhan yang senantiasa menyertai saat sahur mulai menjelang. Tetabuhan dengan tujuan mulia untuk membangunkan dan mengingatkan orang, agar tak terlena oleh lelapnya tidur. Membuat mereka, khususnya kaum ibu untuk segera beranjak dari peraduan menuju dapur. Walau hanya untuk sekedar menghangatkan nasi tadi malam atau menjerang air.

Begitulah, setiap sahur menjelang selama bulan Ramadha, seantero pelosok Kota Barabai bak keramaian. Embun pagi yang mulai turun menjelang, terberaikan oleh tetabuhan dan pekik yang menyertainya.

“Sahuuuur…. Sahur!!!”

Begitu biasa pekik itu dikumandangkan. Dan, rutinitas disubuh Ramadhan itu biasa disebut “Bagarakan”. Sebuah tradisi dengan tujuan mulia yang mungkin terjadi diseruluh Indonesia. Khususnya diwilayah yang masyarakatnya Muslim.

Namun di Barabai, tradisi itu terasa berbeda manakala pekikan Sahur yang bergema terdengar cadel. Khas suara anak-anak. Hingga kadang terdengar lucu dan mengundang senyum ibu-ibu yang bersimpuh didepan kompor menyala.

Seperti pula daerah lainnya di Indonesia, bila subuh menjelang di bulan Ramadha, Kota Barabai akan ramai oleh aktivitas Bagarakan oleh warganya. Namun di Barabai, para pelakonnya mayoritas anak-anak. Mereka biasanya terdiri dari anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah. Bergerombol mereka, berjalan beriringan berkeliling kampung membangunkan dan mengingatkan orang akan pentingnya makan Sahur dan berpuasa esok harinya.

Fenomena anak-anak memainkan tetabuhan nyaris terjadi disetiap kampung, bahkan tiap RT. Jumlah mereka biasanya sama, yaitu sepuluh orang.

Tetabuhan yang digunakan beraneka ragam. Mulai dari galon kosong, ember, gidar (baskom-red), batang bambu, batangan besi, karicak (lempengan tutup botol yang disusun dan dipaku disebatang kayu-red), gendang, hingga peralatan dapur seperti panci, rinjing (wajan-red), lengkap dengan sendok dan garpu.

seraya menunggu group bagarakan terkumpul semua, terlebih dahulu dilakukan cek sound untuk memastikan alat musik berfungsi sempurna

seraya menunggu group bagarakan terkumpul semua, terlebih dahulu dilakukan cek sound untuk memastikan alat musik berfungsi sempurna

Beragam alat musik seadanya dan tak lazim itu, ketika ditabuh ternyata mampu mengalunkan nada-nada indah. Dan setiap harinya, alunan itu terdengar semakin sempurna. Kekompakan yang diperdengarkan, tak terasa mampu membuat kepala orang yang mendengarnya untuk sekedar menganguk-angguk mengikuti irama.

Bagi anak-anak di Kota Barabai, adalah  wajib hukumnya membentuk group Bagarakan yang terdiri dari sepuluh orang itu. Karena selain untuk menyemarakkan bulan Ramadhan, mereka juga mempersiapkan diri untuk sebuah perlombaan.

Setiap Ramadhan tiba, pemerintah daerah setempat melalui Dinas Priwisata, Pemuda dan Olahraga, menggelar lomba Bagarakan Sahur. Lomba yang diadakan pada pertengahan bulan Ramadhan itu, terdiri dari berbagai macam lomba yang berhubungan dengan kegiatan Ramadhan. Mulai dari lomba Bagarakan, lomba ceramah agama (Dai Cilik), hingga pawai Tanglong.

Khusus untuk lomba Bagarakan, pihak panitia  telah menentukan jumlah peserta dalam satu groupnya, yaitu sepuluh orang anak-anak. Setiap kampug boleh memiliki group lebih dari satu. Karena itulah, setiap Ramadhan tiba anak-anak ditiap kampung dan RT membentuk group Bagarakan masing-masing.

Piala dan uang yang ditawarkan panitia lomba, membuat anak-anak itu bersemangat dan kreatif. Mereka bukan hanya mencoba menyuguhkan tetabuhan yang berbeda, tetapi juga dengan peralatan dan kostum yang unik. Saking bersemangatnya, anak-anak itu bahkan menetapkan jadwal latihan Bagarakan, yang biasanya dilakukan setiap sore hari menjelang saat berbuka puasa.

Untuk urusan kostum, terkadang melibatkan orang dewasa atau orang tua. Hingga ketika tampil saat lomba, seragam yang digunakan terlihat rapi dan kompak. Yang tentunya hal itu mempengaruhi penilaian dari dewan juri. Terkadang ada kelompok yang tampil mengenakan seragam tentara, polisi dan pakaian bernuansa Timur Tengah. Tak jarang, kostum yang digunakan seperti tokoh kartun, semisal Batman dan lainnya.

Pasya, seorang anak di Padawangan RT I, Kelurahan Barabai Timur misalnya. Ia yang saat ini duduk dibangku kelas III Sekolah Dasar, mengaku sangat senang bisa ikut dalam group Bagarakan dikampungnya. Meski untuk itu, ia harus rela bangun dan keluar setiap tengah malam serta berlatih setiap sore hari.

Rami banar. Mun malam  kami bakuliling kampung bagarakan sambil kuriakan. Bila lalu diwadah nang sunyi nang kaya kuburan atau puhun kayu ganal, kami bukahan (Menyenagkan sekali. Bila malam kami keliling kampung Bagarakan sambil berteriak-teriak. Saat melewati tempat sepi seperti kuburan atau pohon besar, kami lari-red),” ujarnya seraya terkekeh memperlihatkan dua gigi depannya.

Begitulah, kemeriahan Bagarakan menjelang saat sahur tiba, terus berlangsung hingga lomba yang digelar usai. Meski tak jarang, setelah pelaksanaan lombapun masih ada saja anak-anak yang melakukan aktivitas itu. Khususnya mereka yang memenangkan lomba.

Dan bila setelah lomba usai ada group anak-anak yang masih Bagarakan, maka sebagian anak yang sebelumnya ikut lomba Bagarakan akan berkata, “Oh, itu pasti groupnya si anu dari kampung anu. Mereka itu juara saat lomba kemaren,” begitu kata mereka pada orang tuanya yang hanya mengangguk seakan mengerti.

Setiap group Bagarakan, biasanya diketuai seorang yang lebih besar atau lebih dewasa. Ketua itu dipilih berdasarkan usia, bentuk tubuh dan hasil kesepakatan. Seorang ketua biasanya memegang alat musik yang suaranya paling dominan. Seperti gallon air atau gidar yang bersuara nyaring. Sang ketua pula yang memberikan aba-aba kapan musik mulai dimainkan.

Sebelum memulai berkeliling kampung, anak-anak itu akan saling membangunkan teman-temannya. Seraya menunggu seluruh anggota group lengkap terkumpul, mereka duduk-duduk di pos ronda sambil sesekali mencoba alat musik masing-masing. Semacam test sound, begitulah.

Saat Bagarakan, anak-anak itu memiliki etika dan kearifan tersendiri. Mereka umumnya telah paham dan tahu didaerah mana saja tetabuhan dapat dimainkan nyaring dan dimana tidak boleh dimainkan. Beberapa tempat diharamkan membunyikan tetabuhan antara lain didepan rumah orang yang memiliki bayi dan balita, rumah orang tua yang telah renta dan tempat-tempat angker. Untuk tempat angker, terkadang  ada saja yang menabuh alat musiknya, khususnya mereka yang bernyali besar. Sementara yang lainnya, terlalu sibuk untuk berlari karena ketakutan.

Yang paling menarik adalah kreativitas anak-anak itu. Mereka dengan piawai menggubah lagu-lagu yang sedang Top. Seperti pada Ramadhan kali ini, kadang terdengar alunan lagu Lupa-Lupa Ingat dari Group Band Kuburan yang musiknya telah diaransemen ulang. Kata-katanyapun disesuaikan dengan nuansa Ramadhan dan kegiatan Bagarakan itu. Atau, dengarlah lagu yang dibawakan Group Bagarakan dikampung yang lain. Samar-samar terdengar alunan lagu Tak Gendong dari Mbah Surib yang juga digubah ulang oleh anak-anak.

Dengan menggubah lagu-lagu yang sedang popular, alunan yang diperdengarkan menjadi menarik, unik dan menggelitik. Hingga ibu-ibu yang sedang berkutat didapur menyiapkan makan Sahur, tersenyum simpul dan tak terasa ikut pula bersenandung.

Begitulah, meski terkadang kemeriahan lomba Bagarakan Sahur kian surut setiap tahunnya, anak-anak itu tak peduli. Seakan motivasi sebenarnya dari mereka, bukanlah hadiah atau keinginan untuk sekedar tampil diatas panggung. Sepertinya, motivasi sebenarnya mereka adalah tradisi dan kebanggaan bisa membantu orang kampung agar tak tertinggal melaksanakan Sahur hari itu.

Tamat

Pengantar:

Semua tentu tahu peristiwa penggerebekan oleh Densus 88 di Dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah, Agustus 2009 lalu. Rumah sederhana milik Muhjahri, warga dusun penghasil tembakau itu, hancur berantakan diterjang bom dan peluru karena diduga sebagai tempat persembunyian orang paling dicari di Indonesia, Nordin M Top. Saat menyaksikan tayangan detik-detik menegangkan itu dari televisi, aku berharap berada disana. Namun, jelas itu adalah “hil yang mustahal”. Aku sangat ingin menulis tentang peristiwa itu, tapi dari sudut pandang yang berbeda. Untunglah, seorang temanku, Udin Tatto saat itu mengadakan liputan disana. Melalui si Udin yang tidak Top itulah, aku bisa memperoleh gambaran suasana Dusun Beji pasca penggerebekan oleh Densus 88. Udinpun dengan baik hati mengirimkan beberapa gambar suasana disana. Jadilah aku bisa membuat tulisan dibawah ini, tentang susana Dusun Beji, pasca peristiwa itu. Jadi, untuk membuat sebuah tulisan tentang kejadian disuatu tempat, ternyata kita tak mesti harus berada disana. Untuk itu, aku ucapkan terimakasih tak terhingga kepada penemu telpon dan internet. Luar biasa, berkat tekhnologi hasil temuan kalian, aku bisa meraba suasana sebuah peristiwa yang terjadi nun jauh disana. Dan tentu saja, semua itu berkat kebaikan hati dangsanakku yang kini bekerja di Surat Kabar Harian Radar Kudus, Udin Tatto yang tidak Top itu.

***

Berwisata Di Dusun Huru-Hara

pagi hari ketika penggerebekan sarang teroris Nordin M Top, di Temanggung

pagi hari ketika penggerebekan sarang teroris Nordin M Top, di Temanggung

Kabut masih menyelimuti dusun kecil itu, Sabtu pagi (8/8). Dentuman suara bom sebanyak dua kali memecah keheningan pagi. Embunpun berbaur dengan asap mesiu ketika bom ketiga, keempat dan kelima menyusul. Bergema nyaring dan memekakkan.

Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah memang asri. Berlatar pemandangan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro disebelah barat. Beralaskan hamparan hijau lahan padi, tembakau dan palawija. Hawanya sejuk, dan itulah suasana alam yang ditawarkan dusun ini.

Tetapi, sepertinya bukan suasana itu yang mendorong ribuan orang berduyun-duyun mendatangi Dusun Beji.  Bak wisatawan, mereka datang membanjiri dusun berpenduduk 217 Kepala Keluarga itu, Minggu (9/8). Sebuah rumah disudut dusun yang nyaris porak-poranda dan dikelilingi garis polisilah yang menarik perhatian mereka.

Itulah rumah Muhjahri, yang sehari sebelumnya menjadi arena penangkapan pria yang diduga Noordin bin Mohammad Top, tersangka otak serangkaian kasus pengeboman di Indonesia. Rumah berukuran 12 x 6 meter itu terlihat berantakan. Dindingnya dipenuhi lubang bekas rentetan peluru. Tidak satu pun daun pintu dan jendela kayu yang berwarna hijau muda itu, tersisa utuh.

dua orang warga duduk diam di sepeda motor mereka menyaksikan rumah Muhjahri dari kejauhan. mungkin dalam benak mereka sedang membayangkan serunya adu tembak dan bombardir ketika penggerebekan itu terjadi

dua orang warga duduk diam di sepeda motor mereka menyaksikan rumah Muhjahri dari kejauhan. mungkin dalam benak mereka sedang membayangkan serunya adu tembak dan bombardir ketika penggerebekan itu terjadi

Kaca jendela tak lagi terpasang pada tempatnya. Kaca itu pecah berhamburan diberondong peluru dan hantaman bom. Puing-puing berserakan di dalam rumah. Perkakas rumah tangga keluarga Muhjahri, berserakan di lantai semen. Genteng-genteng rumah, pecah berantakan. Sejak Sabtu malam, aparat kepolisian menutup rumah itu dengan lembaran-lembaran seng. Sehingga, rumah yang semula asri itu nampak senyap. Berantakan dan tak karuan.

Kondisi yang sebenarnya jauh dari “sedap dipandang” itu, kenyataannya kemudian justru menjadi pusat perhatian pengunjung. Kedatangan mereka, seolah tak terhentikan. Sejak fajar menyingsing hingga malam tiba, jalan-jalan tanah dan semen didusun seluas 274 hektare itu, berubah menjadi lahan parkir kendaraan. Mulai sepeda onthel, motor hingga kendaraan roda empat.

Keadaan itu ternyata menjadi berkah tersendiri bagi sebagian penduduk. Sejumlah pemuda beralih profesi menjadi juru parkir dadakan. Motor dikenai tarif seribu rupiah, mobil dua kali lebih mahal, sedangkan sepeda kayuh bebas biaya. Menurut pengakuan mereka, hasil perolehan parkir dimasukkan kedalam kas Karang Taruna.

Dusun Beji, pasca penggerebekan mendadak jadi tempat wisata

Dusun Beji, pasca penggerebekan mendadak jadi tempat wisata

Pengunjung yang datang bukan cuma orang dewasa. Anak-anak, remaja, pasangan muda-mudi, bahkan mereka yang telah berusia lanjut, tak mau ketinggalan. Beberapa pengunjung malah datang bak mau kemping. Membawa tikar berikut rantang berisi makanan dan minuman.

Ada pula pengunjung yang memakai kaca mata hitam, berambut spike, berbusana kasual sambil menenteng kamera. Jepret-jepret! Mereka berfoto di dekat rumah Muhjahri, baik dengan kamera saku maupun ponsel.

“Keren, Mas,” celetuk Tika, gadis belasan yang datang jauh-jauh dari Magelang bersama seorang teman prianya.

Seraya  menggamit tangan pemuda itu, Tika berjalan mendekati rumah Muhjahri.

“Iyo, koyo neng Irak wae (Iya, kayak di Irak saja),” sang pemuda menjawab sambil memperhatikan kondisi rumah Muhjahri. Entah, apakah ia memang pernah ke Irak atau sekedar membandingkan dengan yang dilihatnya dilayar televisi.

Tika dan teman prianya itu adalah dua dari ribuan pengunjung yang siang itu menjadi “wisatawan” di Beji. Sepertinya, mereka sepasang kekasih. Seperti juga pasangan muda-mudi lainnya yang tak sedikit yang datang di “obyek wisata” dadakan itu.

Pengunjung lainnya, Ahmad, warga Tembarak, Temanggung, mengaku sudah tiga kali mengunjungi rumah Muhjahri sejak penggerebekan dirumah itu dilakukan. Pertama, dia datang pada Jumat (7/8) malam.

Ketika itu dia sendirian, di saat polisi memulai pengepungan. Kedua pada Sabtu pagi (8/8), ia datang bersama istrinya. Ia menyaksikan dengan jelas manakala ledakan demi ledakan menggelegar membombardir rumah itu. Kedatangan ketiga, Minggu siang, bersama seorang anak perempuannya.

“Saya hanya ingin tahu seperti apa. Di tivi kelihatan seru,” ujar Ahmad terkekeh.

Meskipun tempat tinggalnya dengan rumah Muhjahri berada dalam satu kabupaten, sama-sama Temanggung, namun Ahmad mengakku belum pernah sekalipun mengunjungi Dusun Beji. Baru setelah “huru-hara” itu terjadi, tebersit di benaknya untuk datang ke dusun yang hanya dapat dilihat dari Jalan Kedu-Tegong itu.

masyarakat yang datang sejak pagi buta

masyarakat yang datang sejak pagi buta

Keramaian usai penggerebekan di Beji, tak pelak menjadi sumber rezeki dadakan bagi sejumlah pedagang mainan, makanan dan minuman. Mereka menggelar dagangan di ruas-ruas jalan kompleks kavling PDAM Kedu, areal permukiman disebelah kiri Dusun Beji. “Baru buka 15 menit, sudah dapat Rp 20 ribu,” ungkap Slamet, pedagang mainan asal Kranggan, Temanggung.

Bagi Slamet, uang Rp 20 ribu dalam waktu hanya seperempat jam, termasuk luar biasa. Biasanya, uang sebesar itu baru bisa dia peroleh setelah setengah hari berjualan berkeliling kampung.

Tapi sesungguhnya, di tengah keramaian pengunjung dadakan itu, warga Dusun Beji sendiri dicekam resah. Apalagi, mereka yang tinggal di sekitar rumah Muhjahri. Peristiwa penggerebekan meninggalkan trauma dibenak mereka. Gelegar ledakan, desing peluru dan pengisolasian yang dilakukan petugas hingga kesalahan penangkapan, menghantui mereka selama 17 jam drama penangkapan pria misterius yang diduga Noordin itu.

“Ibu dan anak saya masih trauma. Mereka masih ketakutan,” tutur Sumadi, warga yang rumahnya hanya berjarak 15 meter di sebelah barat rumah Muhjahri.

Warga pun sebenarnya kecewa, dusun mereka terkenal bukan karena keindahan atau keasriannya. Namun, justru karena dugaan sebagai sarang teroris. “Sedih saja Mas, terkenal dan didatangi orang kok karena terlibat kasus teroris. Jangan-jangan nanti orang berpikir penduduk disini teroris semua. Malu juga,” berkata Sumadi lirih seraya menunduk.

Tamat

Pengantar:

Pada petani di Kalimantan Selatan, khususnya didaerah Pahuluan, memiliki tradisi yang sangat menggambarkan budaya kebersamaan, persaudaraan, tolong menolong dan gotong royong. Tradisi yang dilakukan saat Batanam (mulai menanam padi) dan Mangatam (memanen padi) itu disebut Baarian oleh urang Banjar Pahuluan atau disebut Bahandepan oleh urang Banjar Kuala. Saat ini, tradisi itu mulai ditinggalkan. Seiring dengan modernisasi, orang lebih senang mengupah buruh dalam mengerjakan sawahnya. Lebih mudah memang. Namun tanpa disadari, hal itu justru secara perlahan menenggelamkan sebuah tradisi. Sebuah tradisi yang sarat dengan makna kebersamaan, persaudaraan, tolong menolong dan gotong royong. Tak heran, karena kini orang cenderung lebih apatis dan tak peduli.

***

Ba-arian, Kearifan Lokal Urang Banua

ba-arian; bergotong royong menanam padi
ba-arian; bergotong royong menanam padi

Batanam, mangatam, bersama-sama bergantian. Menghemat upah dan mempererat persaudaraan


Mentari mulai beranjak naik. Pagi itu, sekitar pukul 09:00, tujuh  petani terlihat bergerombol menanam padi disepetak sawah. Dua orang lainnya, nampak duduk dipematang. Asyik berbincan sambil menikmati segelas kopi dan wadai (kue-red) pais pisang.

Sambil bekerja, para petani itu terlibat obrolan seru. Sesekali terdengar tawa mereka memecah pagi yang beranjak siang. Dua orang terlihat manyungkal (mencabut/mencongkel menggunakan parang-red) padi muda, memotong sebagian akarnya dan  melemparkan kepada rekannya yang lain. Sementara, lima orang lain sibuk menanam padi menggunakan asak (alat menanam padi, biasanya dibuat dari kayu ulin-red).

Barapa borongan (hitungan luas sawah-red) sudah nih kita dapat (Sudah selesai berapa borongan kita ini?-red),” ujar salah satu dari mereka dengan logat Rantau yang kental. “Parak ai sabalas borongan (Hampir 11 borongan-red),” salah satu dari dua orang yang duduk dipematang menyahut. “Isuk kawa kita ni manggawi ampunku pulang (Besok kita bisa mengerjakan punyaku- red),” yang lain menimpali sambil menghentikan aktivitasnya sejenak.

Itulah sepintas gambaran beberapa petani di Rantau, Kabupaten Tapin, saat sedang menanam padi secara bergotong royong atau dalam bahasa Hulu Sungai disebut Ba-arian dan Ba-handepan oleh orang Banjar Kuala.

Ba-arian atau Ba-handepan, merupakan sebuah bentuk local ingenius (kearifan local). Biasanya Ba-arian dilakukan saat prosesi batanam (bertanam padi) dan mangatam (memanen padi). Prosesi ini dilakukan bergantian dari satu sawah ke sawah yang lain, milik petani yang ikut Ba-arian. Sawah yang didahulukan digarap adalah sawah mereka yang sudah siap.

Pada masyarakat Banjar di Hulu Sungai dan Kuala, prosesi Ba-arian atau Ba-handepan masih dianut masyarakat. Dengan cara ini, petani bisa menggarap sawah mereka tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

“Tahun ini upah ba-tanam Rp14 ribu saborongan. Naik dari Rp12 ribu tahun samalam (sekarang biaya upah menanam padi Rp14 ribu per borongan. Naik dari Rp12 ribu tahun kemaren-red),” ujar Ariansyah, warga Kota Rantau.

Semua orang yang mempunyai sawah berhak ikut Ba-arian. Syaratnya cuma satu, bagi yang sawahnya kena giliran digarap, harus menyediakan makan siang dan snack berupa kue tradisional lengkap dengan kopi atau teh manis.

Selain sebagai bentuk kegotongroyongan, Ba-arian juga merupakan bentuk solidaritas sosial yang tinggi dikalangan urang Banua. Irama kekeluargaan ini masih kental dirasakan pada masyarakat pedesaan, Hulu Sungai dan Banjar Kuala. Namun seiring zaman, pada masyarakat perkotaan, inguhnya mulai memudar. Seiring dengan keheterogenan masyarakat kota.

Meski masyarakat Hulu Sungai identik dengan watak keras pada urang Rantau dan Kandangan, namun dari kearifan lokal yang mereka anut, tergambar tingkatan kekeluargaan dan kekerabatan yang tinggi. Sayangnya, bersamaan dengan itu, kini orang lebih senang mengupah buruh tani untuk mengerjakan sawahnya. Sehingga, pelan tapi pasti kearifan yang terkandung dalam prosesi Ba-arian, menipis.

Tangahari sudah nah, sadang ai kita makanan. Ba’da Dzuhur kita sambung pulang (sudah siang, kita makan dulu. Selepas Dzuhur disambung lagi-red),” ujar salah satu petani itu, yang sepertinya pemilik sawah. Ajakan itu mendapat sambutan gembira dari kawannya yang lain. Pekerjaan sementara dihentikan. Waktunya sekarang untuk berserah diri kehadapan sang Kholiq.

Begitulah, meski tergerus zaman, Ba-arian tetap salah satu alternatif penghematan biaya yang menguntungkan. Walau kini sudut pandangnya sedikit bergeser. Bila dulu Ba-arian dilakukan atas dasar gotong royong, kini untuk sebuah penghematan semata.

 

Tamat

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengantar:

Banyak hal didunia ini yang kadang tak masuk akal. Salah satunya dalam hal pengobatan. Seperti teknik pengobatan tradisional pada masyarakat Banjar, yang dikenal dengan nama Kapidaraan. Pengobatan yang dilakukan dengan ritual dan prosesi tertentu itu, penuh nuansa magis dan ghaib. Tertarik dengan fenomena itu, aku mencoba mengemukakannya dalam bentuk tulisan. Tulisan ini kupersembahkan untuk almarhumah Bariah, ibunda tercinta. Karena semasa hidupnya, beliau mempunyai kemampuan untuk mamidarai atau mengobati orang yang terkena Kapidaraan.

***

Cacak Burung Pengusir Arwah

Proses ma-midara-i, mencoretkan cacak burung dikaki

Proses ma-midara-i, mencoretkan cacak burung dikaki

Menggunakan Janar sebagai media. Ritual kecil, dupa dan parang. Kembalikan semangat yang hilang.

Anak itu terus saja menangis. Tangisannya melengking, membelah malam di Kampung Kamasan Dalam, Kelurahan Barabai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Sementara, mulut Nenek berusia sekitar 58 tahun itu, komat kamit sambil tangan tuanya ma-marut Janar (memarut Kunyit-red). Sebungkah Janar yang diparut, ditampung disebuah piring putih. Didalamnya, terdapat sejumput Baras putih (Beras-red) dan secuil kapur sirih.

Sejurus kemudian, parapin (tungku kecil berisi arang-red) dinyalakan. Setelah bara menyala, diatasnya ditaburkan dupa. Seketika harum dupa menyeruak, memenuhi ruangan kecil berukuran dua kali tiga meter.

Sambil mamical (menekan-nekan/mencampur dua bahan dengan cara memijit) campuran Baras putih, Janar dan kapur sirih dengan tangan kanan, tangan kirinya meraih parang kecil. Setelah Janar dan Baras putih tercampur, Janar diperas. Ajaib, perasan itu mengeluarkan air yang banyak untuk ukuran sebungkah kecil Janar.

Iya ai, cucu ni ka-pidaraan (Betul juga, cucu ini ka-pidaraan-red),” bergumam sang nenek. Sementara, kedua orang tua si anak mengangguk-angguk sambil berupaya menenangkan anak mereka yang terus saja menangis.

Tulung ai Ni ai, pidara-iakan. Sudah dua hari ini anak kami cariwit banar. Awak panas, manangis haja gawiannya (Tolonglah Nek, diobati. Sudah dua hari ini anak kami cerewet sekali. Badan panas, kerjanya hanya menangis-red),” berkata sang ibu dengan rona cemas dan penuh harap.

Sang Nenek tersenyum. “Insya Allah,” jawabnya bijak.

Parang kecil yang tadi diraihnya dengan tangan kiri, dihaling (diasapi-red) diatas parapin yang mengepulkan asap dupa. Harum, namun bernuansa magis.

Sambil mulut terus komat kamit, parang kecil yang dihaling diatas parapin, dicoret menggunakan parutan Janar. Dengan luwes, tangan Nenek itu mencoretkan tanda silang keatas parang sebanyak tiga kali, dimasing-masing sisinya. “Ini disebut Cacak Burung,” ujarnya menjelaskan ketika ditanya apa makna coretan yang ia buat.

Selanjutnya, kepala sang anak yang terus saja menangis sambil sesekali meronta itu, ditaburi Baras putih yang sudah berubah warna menjadi kuning, akibat tadi dipical dengan parutan Janar. Bagian kepala yang ditaburi Baras putih biasanya dibagian bumbunan (ubun-ubun-red).

Usai itu, dikening sang anak, tepatnya diatas kedua alis, Janar dicoretkan. Namun kali ini bentuknya tidak Cacak Burung seperti coretan diatas parang. Hanya berupa dua garis lurus.

Mulut sang Nenek tak henti komat kamit. Entah mantra apa yang tengah dirafalkannya. Tangannya juga tak henti mencoret tubuh sang anak. Berturut-turut setelah kening, kedua belah bahu, tangan, betis, telapak kaki, punggung dan perut, dicoret dengan pola silang yang disebutnya Cacak Burung tadi.

Selesai? Belum. Baras putih yang tadi ditaburkan ke bumbunan sang anak, diambilnya. Kemudian sejumput Baras putih itu dibuang, dilemparkan ke halaman rumah.

Kurrr… smangat! Datu, Nini, bajauhlah (Pergilah-red). Jangan mangganggu (mengganggu-red) anak cucu lagi,” berkata sang Nenek seraya melempar beras ke halaman.

Parutan sebungkah kecil Janar yang mengeluarkan banyak air, sudah sesuatu yang ajaib. Lebih ajaib lagi, usai prosesi itu sang anak berangsur-angsur tenang. Tangisnya yang tadi nyaring, kini tinggal isak kecil tertahan yang perlahan berhenti. Seiring itu, sang anak tidur dengan pulas dipangkuan ibunya.

* * *

Nini Minah, didepan tungku kecil, perapian tempat membakar dupa

Nini Minah, didepan tungku kecil, perapian tempat membakar dupa

“Sekitar lima belas tahun,” ujar Nenek yang akrab disapa Nini Minah itu, ketika ditanya berapa lama ia memiliki kemampuan mengobati orang yang ka-pidaraan atau ma-midara-i urang nang ka-pidaraan (mengobati orang yang terkena Kapidaraan-red).

Mulut tuanyapun mulai bertutur. Keahlian itu diperolehnya dari keturunan. Sebelum ia, sang almarhumah ibunya juga dikenal sebagai orang yang mempunyai kelebihan, mampu ma-midara-i urang nang ka-pidaraan.

Ka-pidaraan, asal katanya adalah pidara yang berarti arwah atau roh orang yang sudah meninggal dunia. Tak ada yang tahu pasti apakah pidara berasal dari rumpun bahasa Dayak atau Melayu tua. Begitu pula Nini Minah. Ia hanya menggeleng ketika ditanya apakah pidara bahasa Banjar atau bahasa Dayak. “Kaya itupang ngarannya (Begitulah orang menyebutnya-red),” ujarnya lirih sambil tersenyum.

Menurut Nini Minah, ka-pidaraan bukan penyakit. Ka-pidaraan disebabkan arwah atau roh orang yang sudah meninggal dunia, menyapa seseorang. Itu bisa terjadi ketika seseorang itu melewati kuburan, tempat angker atau seusai melayat.

Biasanya, yang sering ka-pidaraan adalah bayi dan anak kecil. Namun tak jarang, ka-pidaraan menimpa orang dewasa. Orang dewasa yang ka-pidaraan, biasanya mereka yang lemah atau jiwanya sedang kosong. Biasa disebut dengan istilah lamah bulu.

“Ketika melintas dikuburan misalnya, arwah didalam kubur menegur atau menyapa. Akibat sapaan itu, jiwa kita tidak sanggup menanggungnya hingga membuat kita sakit,” Nini Minah menjelaskan.

Sakit yang diderita seseorang yang ka-pidaraan, biasanya berupa naiknya panas tubuh. Telinga, telapak tangan dan telapak kaki menjadi ganyam (sangat dingin-red). Orang yang ka-pidaraan juga susah tidur, kada karuan rasa (merasa serba salah-red) dan tak jarang seperti ketakutan. Bila bayi atau anak-anak yang ka-pidaraan, maka akan menjadi sangat rewel, tubuh panas dan tidak bisa tidur. Mereka bertingkah seakan tengah melihat hantu.

Secara medis, ka-pidaraan biasa diidentikkan dengan demam disertai panas tinggi. Obat penurun panas yang diberikan, dijamin tidak berpengaruh. “Karena ka-pidaraan bukan penyakit,” Nini Minah menegaskan.

Parutan Janar yang diperas, sebagai pendeteksi apakah si sakit benar ka-pidaraan atau tidak. Bila parutan Janar tidak mengeluarkan air yang banyak ketika diperas, menandakan si sakit tidak sedang ka-pidaraan. Mungkin hanya panas demam biasa. Bila parutan Janar mengeluarkan banyak air ketika diperas, dipastikan si sakit memang ka-pidaraan. Semakin banyak air yang keluar, semakin berat kadar ka-pidaraan yang dideritanya.

Betapapun beratnya kadar ka-pidaraan yang diderita seseorang, teknik, media, prosesi dan rafalan tetap sama. Hanya saja, tingkat kesembuhan yang berbeda. Bila ka-pidaraan ringan, kesembuhan datang lebih cepat, bisa hanya dalam hitungan jam. Namun bila berat maka kesembuhan datang lebih lama, biasa dalam hitungan hari.

* * *

mencoretkan lambang cacak burung di parang yang dihaling diatas parapin

mencoretkan lambang cacak burung di parang yang dihaling diatas parapin

Mereka yang menjadi korban sapaan roh itu, disebut ka-pidaraan. Proses pengobatannya disebut ma-midara-i. Sedang mereka yang tengah diobati dari ka-pidaraan, disebut di-pidarai-i.

Ka-pidaraan, ma-midara-i dan di-pidara-i, adalah rangkaian prosesi yang berumur sangat tua. Dipercaya, fenomena ka-pidaraan ini sudah dikenal masyarakat Banjar sejak jaman pra-Islam. Kala itu, teknik ma-midara-i masih menggunakan lafal dan mantra-mantra.

Seiring masuknya Islam, fenomena ini mengalami transpormasi. Berkat kearifan ulama zaman dahulu, prosesi pidara dikawinkan dengan budaya dan nafas Islam, tanpa menghilangkan seluruhnya budaya lokal. Jadilah prosesi pidara bernafaskan Islam yang dikenal kini.

Penggunaan lafal dan mantra, digantikan dengan ayat-ayat suci Al Qur’an. Namun ciri khas budaya lokal masih terjaga. Semua disimbolkan melalui media Janar, Baras putih, parang, parapin, dupa dan kapur. Begitu pula dengan kalimat atau mantra penutup saat melempar sisa perasan Janar dan Baras putih, masih menggunakan mantra lokal, termasuk simbol Cacak Burung.

Diceritakan Nini Minah, sebelum ibunya meninggal dunia, ia sempat bertanya bacaan dan rafalan yang digunakan untuk ma-midara-i. Namun kala itu, ia hanya sekedar tahu.

Dua bulan setelah ibunya meninggal dunia, Nini Minah terserang penyakit aneh. Badannya panas dingin, kada karuan rasa wan kada karuan guring. Kadang  ia merasa ketakutan yang tak beralasan. Teringat keahlian ibunya, iapun mencoba melakukan pengobatan kepada diri sendiri. Ia lalu ma-midara-i dirinya. Dan hasilnya, penyakitnya berangsur angsur hilang. Setelah dua hari, kondisinya kembali normal. Berawal dari situlah, ia mulai memberanikan diri ma-midara-i orang yang ka-pidaraan.

Selain datang kerumah, tak jarang Nini Minah dijemput orang yang meminta pertolongannya. Pasiennya tidak lagi sekedar tetangga satu kampung. Banyak warga dari kecamatan lain meminta pertolongan. Bahkan, mereka yang dari luar HST.

Nini Minah tidak pernah mematok harga untuk jasa pengobatannya. “Sa-pambari haja, Nak ai. Kada dibari kada papa jua (Sekedarnya saja, Nak. Tidak diupah tidak apa-apa juga-red). Aku ikhlas,” ucapnya tulus.

Penggunaan media parang, diyakini sebagai benda yang ditakuti setan, arwah dan roh. Kebalikannya, dupa dimaksudkan mengundang malaikat untuk datang. Sedang penggunaan Janar, kapur sirih, Baras putih, dan makna tanda silang yang dilukiskan disekujur tubuh, Nini Minah tak mampu menjelaskan.

Nang kaya itu pang (Ya, seperti itu lah-red). Janar dioleskan membentuk dua garis lurus bersilangan. Ngarannya (namanya-red) Cacak Burung,” ujarnya dengan mimik bingung.

Simbol Cacak Burung, dimaknai sebagai lambang tolak bala. Dipercaya, simbol itu ditakuti setan dan membuat roh-roh serta arwah tak mampu mendekat. Disebut Cacak Burung, karena bentuknya menyerupai cacak (jejak-red) kaki burung.

Beberapa pengalaman unik pernah dialami Nini Minah selama menjalani profesi sebagai tukang pidara. Pernah suatu malam, ia didatangi seorang lelaki yang mengaku berprofesi sebagai supir. Lelaki itu, yang tak sempat ditanya nama dan alamatnya, bertanya apa itu ka-pidaraan, ciri-ciri orang yang ka-pidaraan dan cara mengobatinya.

Nini Minah menjelaskan semampunya. Sebatas apa yang ia ketahui. Ketika diterangkan tanda-tanda orang ka-pidaraan, lelaki itu berucap, “Ya, ya. Persis seperti itu yang ku rasakan sekarang,” ujar lelaki misterius itu.

Lelaki itu lantas minta di-pidara-i. Usai itu, iapun pergi. Meninggalkan Nini Minah yang masih melongo. Bingung memikirkan siapa gerangan lelaki yang datang dimalam hari itu?

“Itu terjadi saat aku baru mulai mencoba ma-midara-i orang,” mata tuanya menerawang. Seakan mencoba mengumpulkan sisa-sisa memory masa lalu.

Pernah juga datang kerumah Nini Minah, rombongan orang terdiri dari lelaki dan perempuan, anak-anak dan dewasa sebanyak 20 orang lebih. Dari kondisi mereka, orang-orang itu sepertinya sehat wal afiat. Ternyata, mereka memang bukanlah rombongan orang yang ka-pidaraan. “Kami baru dari melayat orang meninggal dunia,” kata salah satu dari mereka. Kedatangan mereka, minta dipidara-i. Sekedar berjaga-jaga agar sepulang kerumah nanti tidak ka-pidaraan.

* * *

Proses ma-midara-i, mencoretkan cacak burung dibahu

Proses ma-midara-i, mencoretkan cacak burung dibahu

Melihat peralatan saat ma-midara-i dan jalannya prosesi, sungguh tidak masuk akal bila olesan Janar berbentuk Cacak Burung mampu menurunkan panas tubuh dan perasaan tidak enak yang diderita. Namun faktanya, itulah yang terjadi. Entah, apakah sugesti y lebih berperan ataukah memang begitu yang seharusnya terjadi.

Bagi yang percaya, itu sebuah pengobatan. Bagi yang tidak percaya, mungkin hanyalah sebuah kepercayaan masa lalu yang tercecer hingga sekarang. Sebuah prosesi animisme yang mengalami transpormasi agama. Boleh jadi.

Terlepas dari itu, ka-pidaraan, ma-midara-i dan tukang pidara, mulai terkikis zaman dan terpinggirkan. Tersingkirkan seiring pergeseran nilai dan perubahan pola pikir yang terjadi di masyarakat. Tinggalah kini, Nini Minah yang masih setia mengobati dan membantu urang nang ka-pidaraan.

Tamat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.